Categories:

..Sang Proklamator yang kharismatik itu mengacungkan tinjunya ke muka Sjaichu, sambil berucap dengan bahasa Jawa logat Surabaya, Koen arek enom kok kurang ajar. Ha! (Kamu anak muda kok kurang ajar. Ha!)

Sebagai anak yang pernah dirawat K.H. Abdul Wahab Chasbullah, Sjaichu cukup dikenal oleh Bung Karno. Hanya saja Sjaichu muda dengan sengaja menjaga jarak dengan Bung Karno, berbeda halnya sikap yang ditunjukkan oleh bapak tirinya yang dikenal sangat dekat dengan bapak proklamator tersebut.

Sikap Sjaichu tersebut dapat dipahami bahwa hal tersebut disebabkan kedekatan Bung Karno dengan PKI -partai yang selama ini ia benci. Oleh karenanya tidak jarang Sjaichu melakukan kritik terbuka pada Bung Karno dan PKI. Sehingga, pada suatu kesempatan, Bung Karno pernah menilainya sebagai anak yang kurang ajar. Anak yang tidak bisa menghormati orang tua.

Menurut Hasan Tjakrana, sekretaris KH. A. Sjaichu, bahwa kebijakan Bung Karno yang terkesan memberikan ruang yang besar bagi tumbuh kembangnya PKI di tanah air merupakan penyebab utama sikap pertentangan Sjaichu atas kebijakan-kebijakan Bung Karno. ―Bahkan Pak Sjaichu sampai-sampai pernah mengucapkan, saya akan selamatan jika Bung Karno meninggal akibat tembakan pesawat tempur yang dilakukan para makar di Istana Negara, ujar Tjakrana, mengenang masa lalu Sjaichu.

Masjid Istiqlal adalah bagian dari umat Islam di Indonesia. Proyek monumental ini merupakan gagasan Bung Karno yang didukung oleh segenap umat Islam pada saat itu. Namun, di tengah proses pembagunan masjid ini, terdapat hambatan sehingga tidak bisa dirampungkan sesuai yang direncanakan dan akhirnya sempat terbengkalai.

Hal ini disebabkan finansial yang tidak lagi bisa disokong dengan dana pemerintah. Umat Islam memahami kondisi ini. Sehingga banyak media massa pada saat itu memuat berita bahwa tertundanya pembangunan Masjid Istiqlal disebabkan kekurangan dana.

Yang mengagetkan, di saat pembangunan Masjid Istiqlal terbengkalai karena kekurangan dana, tiba-tiba Bung Karno mempunyai gagasan baru. Apakah gerangan? Bung Karno ingin membangun menara yang bisa mengenang terhadap kebesaran dirinya. Menara itu akan di beri nama ―Menara Bung Karno dan akan di bangun di daerah Ancol. Kalangan pers saat itu menyingkatnya menjadi ―Menangbungka.

Bung Karno memang penuh dengan gagasan yang bersifat mercusuar. Tugu Monas, Istora senayan dan Masjid Istiqlal merupakan gagasan besar Bung Karno di bidang bangunan monumental. Karena itu, orang banyak menyebut politik Bung Karno ini sebagai ―Politik Mercusuar.

Maksudnya, tak jadi soal apakah masyarakat Indonesia masih serba kekurangan sandang dang pangan atau tidak. Tetapi, yang penting di mata luar negri bangsa Indonesia tampak gagah tidak nampak loyo, malah punya bangunan yang megah megah.Itulah,antara lain sikap politik mercusuar Bung Karno.

Tetapi mengapa Menara Bung Karno? Bukankah pembangunan Masjid Istiqlal belum selesai, karena belum ada dana? Penting mana antara sebuah menara dan masjid? Begitulah antara lain, pertanyaan banyak orang saat itu, termasuk K.H.Ahmad Sjaichu yang saat itu menjabat sebagai wakil ketua DPRGR.

Banyak pihak yang kurang setuju terhadap gagasan tersebut. Termasuk K.H. Ahmad Sjaichu sendiri. Itu terjadi sekitar tahun 1965. Suatu ketika, Sjaichu bersama Jendral A H Nasution (ketua MPRS waktu itu) sama-sama diundang berceramah Maulid Nabi di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat. Kantor DPRGR, saat itu memang masih berlokasi di Lapangan Banteng (kini menjadi Departemen Keuangan).

Pada kesempatan itulah, Sjaichu mengkritik habis rencana Bung Karno yang akan membangun menara di Ancol. Berbagai alasan oleh Sjaichu dikemukakan saat itu. Intinya, pembangunan atau penyelesaian Masjid Istiqlal lebih penting dan lebih mendesak ketimbang membangun menara.
Sjaichu yakin bahwa dengan pidato pedas seperti itu ia akan dipanggil Bung Karno dan risiko dipanggil memang sudah diperhitungkan sebelumnya.

Maklum, aparat Bung Karno ada dimana-mana. Tak salah, keesokan harinya, Sjaichu dipanggil ke Istana Negara. Yang datang ke rumah Sjaichu adalah Muallif Nasution, salah seorang ajudan Bung Karno. Hari itu juga Sjaichu berangkat ke istana. Baru kali ini Sjaichu dipanggil Presiden. Berbagai perasaan berkecamuk dalam dirinya. Bung Karno pasti marah soal kritikannya semalam, pikirnya.

Tetapi, yang membuat tenang perasaan Sjaichu cuma satu. Yakni, bahwa apa yang ia lakukan benar dan bahwa Bung Karno adalah seorang yang mau mendengar pendapat orang lain, sekalipun orang itu jauh lebih muda seperti dirinya ketika itu. Sampai di istana, suasana agak tegang. Dari luar Bung Karno tampak duduk santai bersama para menterinya. Antara lain yang sempat diingat Sjaichu adalah Chairul Saleh, yang duduk disamping Bung Karno.

Begitu sampai di pintu ruang tengah istana, yang ditunggu-tunggu sudah di depan mata. Sang Proklamator yang kharismatik itu mengacungkan tinjunya ke muka Sjaichu, sambil berucap dengan bahasa Jawa logat Surabaya, “Koen arek enom kok kurang ajar. Ha! (Kamu anak muda kok kurang ajar. Ha!)

Untung, Sjaichu sempat menghindar. Dengan cara menepisnya, ―Ada apa Bung Karno? Tanya Sjaichu berlagak penasaran. Tak lama kemudian, terjadilah dialog yang akrab, ―Karepmu iki yok opo? (Maumu ini bagaimana?) Tanya Bung Karno lagi.

Sjaichu lantas menjelaskan maksud sebenarnya. Yakni, jika pembangunan Masjid Istiqlal memang kekurangan dana, sebaiknya jangan dipikirkan Bung Karno seorang diri. Sebab, bukankah masih banyak orang lain yang bisa membantu.

Kisah ini dicuplik dari buku “KH Achmad Sjaichu : Kembali ke Pesantren, Menebar Manfaat dan Maslahat,” Pustaka Compass. Hlm. 39-43.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *