Ada kebijakan pemerintah dan usaha berbagai pihak untuk menangani Covid-19, tapi jauh dari maksimal. Vaksinasi masih sangat lambat, baru sekitar 15 juta (dari 270 penduduk) mendapat vaksin, tes-tes PCR juga sulit dan berbayar, sementara sebagian masyarakat masih ada yang tidak peduli dan tidak percaya vaksin.

Amerika Serikat contoh penanganan covid-19: awalnya Trump juga lambat, sebagian masyarakat nyeleneh, maka 20 juta-an kasus penularan, sekarang 34 juta, dan sudah menelan 600 ribu kematian, lalu penanganan berangsur cepat, 29 juta orang sembuh, koordinasi dibawah satu komando, kampanye bahwa vaksin aman dan efektif dimana-mana, meskipun negara bagian punya kebijakan masing-masing. Kini hampir 313 juta dosis sudah diberikan, kepada hampir 150 juta penduduk, atau 45 persen penduduk AS. Lansia, dewasa, anak muda, sekarang remaja, dan anak-anak mulai dilakukan tes dan semoga bulan September bisa mulai divaksin. Per hari ini, beberapa negara bagian siap reopening. Sebagian orang sudah tidak perlu pakai masker. Bahkan pemerintah AS membeli jutaan vaksin untuk dibagikan kepada negara-negara yg membutuhkan.

Di Indonesia, kondisi sebaliknya, kasus meningkat dimana-mana, bahkan cukup banyak kasus yang sudah vaksin terkena. Harusnya, masker tetap wajib, prokes jangan dilanggar, harus ada sangsi, pemerintah dan kalo perlu swasta kaya berkorban beli vaksin sebanyak-banyaknya untuk sebanyak-banyaknya penduduk (270 juta orang), mulai lansia, dewasa, muda, lalu anak-anak. Ini kan bencana global, juga bencana nasional. 

Tahun lalu ada banyak tokoh nasional yang mengeritik negara-negara moderen Barat karena jutaan mereka toh tetap kena Covid. Tapi kini harusnya tokoh-tokoh itu berpikir ulang, negara atau bangsa memang harus maju, harus mampu dan siaga dalam menghadapi bencana nasional, termasuk sains, teknologi, dan kemampuan dana untuk membeli vaksin yang sangat dibutuhkan rakyat. 

Kita mencintai kesibukan dan pertumbuhan ekonomi, tapi tanpa kesehatan, ekonomi pun akan terganggu dan masyarakat akan terus menderita. 

Semoga wabah ini tertangani, dan setiap kita berbuat sesuatu. Di Indonesia, do’a sudah cukup banyak, 99 % orang beragama, tapi ikhtiar masih harus ditingkatkan. Kita semua mencintai Indonesia, dan salah satu buktinya, semua harus berkorban demi keselamatan dan kesehatan bersama.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *