(Catatan dari buku “Sebab Aku Memilikimu” karya Alamsyah M Dja’far)
Anna Chrisna Gurnandy
Suami sy punya banyak pengalaman. Puluhan negara sdh dikunjungi dlm tugasnya. Ratusan orang dgn berbagai latar belakang pernah ditemuinya. Pastilah banyak kisah, hikmah dan pengalaman yg pernah dia alami. Namun, sayangnya, suami sy tidak dikaruniai kemampuan menulis. Jadi pengalamannya berhenti menjadi pengalaman pribadi yg hanya bisa disimpan menjadi memorinya sendiri.
Kebalikannya, sy dianugerahi kemampuan menulis, tapi kehidupan sy tidak ada yg luar biasa. Jika sy menulis pengalaman, orang tdk akan merasa wow membaca tulisan sy. Ya karena pengalaman sy biasa-biasa saja!
Jika Anda dikarunia kemampuan menulis dan mempunyai pengalaman hidup yg banyak, maka itu pantas disyukuri dgn cara membagikan kpd masyarakat agar bisa menjadi inspirasi, motivasi, atau sekedar hiburan yg bergizi dlm bentuk buku.
Inilah yg dilakukan oleh pak Alam dlm bukunya “Sebab Aku Memilikimu”.
Membaca buku ini spt membaca diary kawan lama. Sedikit banyak sy bisa relate dgn pengalaman pak Alam di buku ini. Meskipun hanya sbg unthul bawang, sy juga mantan aktifis majalah kampus. dan sering diajak dlm diskusi2 para aktifis baik di Solo maupun Yogya. Tapi ini tidak berlangsung lama, krn otak sy yg sederhana tidak cocok utk diajak berpikir berat ala aktifis kampus. Sy kembali ke dunia yg sdh sy tekuni sejak SMA, yaitu nulis cerpen remaja di Anita Cemerlang, Aneka Ria, Ceria Remaja, dan majalah bahasa Jawa Jayabaya. Mungkin senior aktifis kecewa dgn pilihan sy yg cemen ini. Tapi, mohon maaf, honor dr nulis cerpen di majalah lebih realistis!
Kembali ke pak Alam. Sejak awal baca bukunya, sy sudah menduga beliau orang yg senang baca buku. Diksinya beragam. Penggambaran feature-nya kuat. Sastranya dapet. Humornya juga menggelitik. Apalagi ketika beliau menggambarkan Pulau Tidung dan kehidupan di sekitarnya atau budaya kepesantrenan yg kental.
Sy terkesan pd cerita ketika pak Alam memberikan novel utk dibaca keponakannya. Novel itu berjudul Dataran Tortilla karya John Steinbeck yg sdh dialihbahasakan oleh Djokolelono. Ndilalahnya, novel itu jadi bahan skripsi sy dgn judul “The Marginal Man in John Steinbeck”s Tortilla Flat.”
Sy juga merasa terhubung ketika beliau bercerita tentang Tenggara. Ya, Tenggara sekolah di TK Kangguru Kecil. Sejak awal masuk sy jatuh hati pd Tenggara, dan juga mamanya yg mendedikasikan hidupnya full utk perkembangan Tenggara. Dari mereka berdua sy belajar arti mencintai tanpa syarat.
Tenggara memang anak yg luar biasa. Tak ayal nama Tenggara menjadi bunga2 indah dlm buku pak Alam ini.
Sy menamatkan 355 halaman buku ini dlm waktu semalam. Seingat sy buku terakhir yg sy baca dlm waktu semalam adalah novelnya Sydney Sheldon saat sy masih sekolah!
Akhir kata, selamat atas buku kedua pak Alam. Semoga catatan2nya dpt menginspirasi pembaca. Terima kasih hadiah bukunya untuk sy. Ditunggu catatan berikutnya!
Ibu Anna adalah Kepala Sekolah Kelompok Bermain Kanguru Kecil, tempat Tenggara bersekolah. Tulisan saya unggah kembali di sini. Terima kasih untuk Bu Anna yang sudah berbagi catatan untuk buku saya.

No responses yet