Sebagian besar kita (baca: umat Islam) begitu tersulut emosi dan fanatisme keagamaannya ketika ada orang yang dianggap menista al-Qur’an. Kita merasa wajib dan terpanggil untuk membela al-Qur’an, membela Islam. Pertanyaannya kemudian, benarkah kita sudah benar-benar membela al-Qur’an dan tidak menistakannya?

Mari kita ajukan beberapa pertanyaan kepada diri kita sendiri, kemudian kita jawab secara jujur dari lubuk hati kita yang paling dalam.

Ketika kita membaca ayat yang menyatakan, “…Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar” (Q.S. An-Nisa: 48), tanyakan kepada diri sendiri. Benarkah kita tidak mempersekutukan Allah dengan yang lain?

Syirik adalah perilaku menyekutukan Allah dengan yang lain. Syirik adalah menduakan Allah dengan selain-Nya. Syirik adalah membagi cinta dan perhatian kepada selain Allah. Syirik adalah menghamba, mengabdi kepada selain Allah.

Benarkah kita sudah mengabdi kepada-Nya secara tulus? Benarkah kita tidak membagi perhatian dengan selain-Nya. Benarkah kita tidak menduakan-Nya. Benarkah kita tidak memohon kepada selain-Nya. Benarkah kita lebih mencintai-Nya daripada dunia: harta, kedudukan dan jabatan, popularitas, pasangan, keturunan? Benarkah kita lebih disibukkan dengan urusan akhirat daripada urusan dunia? Benarkah kita lebih patuh dan taat kepada Allah daripada patuh dan taat kepada atasan kita, pimpinan kita?

Ketika kita membaca ayat yang menegaskan, “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”. (Q.S Al Isra’:23), tanyakan kepada diri sendiri: Apakah kita sudah berbakti kepada kedua orang tua kita? Apakah kita benar-benar tidak menyakiti hati dan perasaan mereka?

Ketika kita kita membaca ayat yang menyatakan, ”Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, karena sebagian dari prasangka itu dosa, dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (Q.S. Al-Hujurat: 12), tanyakan pada diri kita masing-masing: Apakah kita selalu berprasangka baik atau buruk kepada orang lain? Apakah kita sudah mampu untuk tidak mencari-cari kesalahan orang lain ataukah justru gemar mencari kesalahan orang lain? Apakah kita sudah berusaha untuk menghindari kebiasaan menggunjing, menggosip (ghibah) ataukah justru masih senang melakukannya?

Ketika kita membaca ayat yang menegaskan, “….Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnay azab-Ku sangat pedih.” (Q.S. Ibrahim: 7), tanyakan pada diri kita: Apakah kita sudah benar-benar selalu mensyukuri nikmatnya ataukah lebih banyak mengingkarinya dengan mengeluh, meratapi kenyataan, mengutuk keadaan? 

Dan masih banyak lagi ayat-ayat lain yang bisa menjadi bahan pertanyaan kita untuk diri kita sendiri.

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut akan menunjukkan posisi kita sesungguhnya. Apakah kita ini layak disebut sebagai pembela al-Qur’an ataukah justru penista al-Qur’an.

Saya teringat sabda Nabi Saw. : “Istafti Qalbak!”,  mintalah fatwa pada hatimu. Artinya, tanyalah hatimu! Karena hati tak pernah bohong.

Semoga kita benar-benar layak disebut pembela al-Qur’an, bukan penista al-Qur’an. Amiin..

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *