Sangat benar orang yang menyimpulkan bahwa kehidupan kita ini sesungguhnya adalah madrasah kubra, sekolahan besar, atau universitas terbuka selamanya bagi semua manusia yang mendudukkan dirinya sebagai pembelajar. Orang yang tak mau belajar atau malas belajar tentu di luar perbincangan kita karena sedari awal manusia dicipta, dia diremehkan oleh mailakat, lalu Allah ajarkan banyak hal dan malaikat menghormatinya dengan perintah Allah untuk sujud kepada Adam. Nabi Adam adalah pembelajar. Baca surat al-Baqarah.

Kalau kita mau belajar mengikuti teladan Nabi Adam, maka sesungguhnya semua kita berpotensi untuk semakin cerdas, semakin pandai, semakin tahu akan hakikat sesuatu. Akhirnya, semakin tua harusnya akan semakin dewasa, akan semakin bermutu pilihan kata dan pilihan sikapnya. Adakah manusia yang “tua-tua keladi, semakin tua semakin menjadi-jadi” ketamakan dan kebobrokannya? Jawabannya adalah ada. Mengapa? Karena ia tidak mau menjadi pembelajar yang baik selama hidup.

Dari banyak orang yang berjumpa dan berkomunikasi dengan saya, serta dari banyak kisah yang saya dengar dan saya baca, saya banyak belajar menemukan hakikat kehidupan.  Yang paling pertama dan utama adalah pelajaran untuk tidak sombong dan tidak tamak, karena semua kita adalah sama dari tanah dan akan kembali ke tanah. Hidup ini berbatas waktu. Kemuliaan bukan karena kita memiliki apa melainkan karena kita mempersembahkan apa.

Pelajaran kedua adalah bahwa segala sesuatu adalah berawal dari kecil. Kita tidak langsung besar, bisa mengalami masa bayi kecil dan masa kanak-kanak. Yang kita miliki tak langsung banyak, melainkan berawal dari sedikit. Karena itu maka kita harus tidak pernah meremehkan yang kecil dan yang sedikit. Metemehkan yang kecil dan yang sedikit sungguh akan menjadi penghancur keberkahan hidup. Pun, jangan remehkan orang kecil, jangan dzalimi orang-orang tak berpunya. Mereka masih memiliki Tuhan.

Pelajaran ketiga adalah bahwa yang paling membahagiakan kita adalah memiliki orang-orang dekat yang senantiasa tulus sepenuh hati. Mereka yang tersenyum bahagia melihat kita bahagia, menangis sedih penuh empati saat kita susah adalah sahabat hati kita, saudara hati kita. Jangan benci mereka, jangan jauhi mereka, jangan lepaskan mereka dari doa untuk senantiasa bersama di dunia  dan akhirat kelak.

Masih banyak pelajaran lain yang bisa kita tulis sebarkan. Namun unguk pagi ini saya cukupkan sampai di sini dulu. Saya tutup dengan doa semoga kita semua menjadi makhluk pemberlajar yang senantiasa mendapatkan bimbingan Allah dan keberkahan dariNya. Salam dari Pondok Pesantren Kota Alif Laam Miim Surabaya, A. I. Mawardi

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *