Hari Jum’at, setelah shalat, hamba menghadiri majlis guru hamba, Syekh Abdul Karim Ba Syarahil, murid dari Al-Habib Al-Qutb Abdul Qadir bin Ahmad As-Saqaf Jeddah. Berkah bertambah ketika kita kedatangan tamu salah seorang pengajar dari Dar Al-Musthafa Tarim, yaitu Syekh Umar Ar-Ra’i.
Jadwal hari ini, kami akan membaca kitab Al-Syamail Al-Muhammadiyah karya Imam Muhammad bin ‘Isa At-Timidzi (W. 279 H), kitab Al-Syifa karya Al-Qadhi ‘Iyadh (W. 544 H), Al-Bahjah Al-Mahafil karya Al-Muhaddits Yahya bin Abi Bakr Al-‘Amiri (W. 893 H), dan kitab Subul Al-Huda wa Al-Rasyad karya Imam Muhammad bin Yusuf Al-Syami (W. 942 H).
Dilihat dari kitab-kitab yang dibaca, semuanya berkenaan dengan baginda Nabi Muhammad ﷺ. Baik membahas tentang fisik beliau, hak-hak yang harus dipenuhi, dan perjalanan hidup, dari detik ketika beliau lahir, hingga detik beliau wafat.
Dari sini, hamba melihat betapa besarnya perhatian guru hamba untuk membacakan, mempelajari, dan mengaplikasikan perjalanan hidup Nabi ﷺ kedalam hidup sehari-hari. Analogi singkatnya, anak kecil yang belum banyak pengalaman akan sangat butuh kepada orang tuanya untuk menjatuhkan sebuah pilihan, sebab sang anak belum berpengalaman, dan orang tua biasanya lebih faham, karena pernah melewati keadaan tersebut.
Hal yang ringan untuk memilih sesuatu saja kita harus mempelajari pengalaman dari orang yang pernah mengalaminya, apalagi untuk menjalani hidup yang penuh lika-liku, tentunya kita perlu pedoman untuk menuntut kepada jalan yang terbaik.
Untuk menghadapi kehidupan yang banyak dramanya ini, maka para ulama memberikan perhatian khusus dalam mengajar perjalanan hidup sang Nabi ﷺ, sebab beliaulah pedoman terbaik yang diberikan oleh Tuhan untuk alam semesta ini.
لَقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِىۡ رَسُوۡلِ اللّٰهِ اُسۡوَةٌ حَسَنَةٌ.
Artinya: Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (QS. Al-Ahzab 21)
Al-Imam Syahid Al-Mimbar Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthi dalam permulaan kitabnya Fiqh As-Sirah berkata: “Mempelajari perjalan hidup sang Nabi ﷺ bukan hanya sebatas membaca peristiwa sejarah di masa lampau, juga bukan hanya ingin mendongengkan kisah-kisah pada masa lalu, oleh karena itu, kita tidak boleh menyandingkan perjalanan hidup sang Nabi ﷺ dengan perjalanan pemimpin-pemimpin yang lain”.
Beliau kemudian menyebutkan tujuan sebenarnya dari mempelajari perjalanan hidup Nabi: “Tujuan sesungguhnya dari mempelajarinya adalah agar seorang muslim mendapatkan gambaran yang seutuhnya tentang esensi agama Islam yang terbentuk dalam kehidupan Nabi Muhammad ﷺ”.
Setidaknya ada 5 fungsi penting dalam mempelajari perjalanan yang Nabi yang disebutkan oleh Al-Imam Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthi:
١.) فهم شخصية الرسول ﷺ من خلال حياته و ظروفه التي عاش فيها، للتأكد ان محمد ﷺ لم يكن مجرد عبقري سمت به عبقريته بين قومه، و لكنه قبل ذلك رسول أيده الله بوحي من عنده و توفيق من لدنه.
1.) Faham akan sosok Rasulullah ﷺ melalui kehidupan dan kegiatan beliau sehari-hari. Untuk menguatkan bahwa beliau ﷺ bukan hanya sebatas orang jenius yang mengungguli seluruh kaumnya, tapi juga seorang utusan Tuhan yang diberikan wahyu dan taufik dari Allah.
٢.) أن يجد الانسان بين يديه صورة للمثل الاعلى في كل شأن من شؤونه الحياة الفاضلة، كي يجعل منها دستورا يتمسك به و يسير عليه و لا ريب أن الانسان مهما بحث عن مثل على في ناحية من نواحي الحياة فإنه واجد كل ذلك في حياة رسول الله ﷺ.
2.) Tujuan selanjutnya, agar para manusia memiliki suri tauladan yang paling luhur pada setiap urusan kehidupannya, agar mereka menjadikan perjalanan hidup Nabi Muhammad ﷺ sebagai bentuk tatanan yang mereka pegang kuat sebagai jalan hidup. Tak diragukan lagi, jika manusia mencari suri tauladan pada setiap sisi kehidupan, maka ia akan melihat semuanya ada pada kehidupan Rasulullah ﷺ.
٣.) أن يجد الإنسان في دراسة سيرته ﷺ ما يعينه على فهم كتاب الله تعالى وتذوق روحه ومقاصده، إذ أن كثيرا من آيات القران إنما يفسرها ويجليها الأحداث التي مرت برسول الله ﷺ وموقفه منها.
3.) Dalam mempelajari perjalan hidup sang Nabi ﷺ manusia akan mendapatkan satu komponen yang sangat penting untuk membantunya memahami Al-Quran, merasakan inti dan tujuan-tujuan dari Al-Quran, sebab mayoritas ayat yang ada di Al-Quran hanya dapat dijelaskan melalui kejadian yang dialami oleh Rasulullah ﷺ.
٤.) أن تتجمع لدى المسلم من خلال دراسة سيرته ﷺ أكبر قدر من الثقافة والمعارف الإسلامية الصحيحة، سواء ما كان منها متعلقا بالعقيدة أو الأحكام والأخلاق، إذ لا ريب ان حياته ﷺ إنما هي صورة مجسدة لمجموع مبادىء الإسلام وأحكامه.
4.) Melalui pelajaran mengenai perjalan hidup Nabi Muhammad ﷺ maka akan seorang muslim dapat mengumpulkan bagian yang besar dari wawasan keislaman yang benar. Baik itu berkaitan dengan teologi, hukum, maupun etika. Sebab, kita yakin bahwa kehidupan Rasulullah ﷺ itu merupakan bentuk nyata dari pokok-pokok ajaran Islam.
٥.) أن يكون لدى المعلم والداعية الإسلامي نموذج حي عن طرائق التربية والتعليم، فلقد كان محمد ﷺ معلما ناصحا، ومربيا فاضلا لم يأل جهدا في تلمس إحدى الطرق الصالحة إلى ذلك خلال مختلف مراحل دعوته.
5.) Memberikan contoh kepada para pengajar atau da’i dalam mendidik dan mengajar. Nabi ﷺ pengajar yang baik, dan pendidik yang unggul, tidak henti mencurahkan usaha untuk menyentuh salah jalan yang baik dalam mendidik ditengah medan dakwah yang berbeda-beda.
~~
Fahrizal Fadil
18 Juni 2021, Kairo.

No responses yet