Oleh: Aisha Nailah Putri Evrina (Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka)
Keluarga merupakan tempat pertama bagi anak untuk memperoleh pendidikan dan menjadi awal mula pembentukan karakter seorang anak. Keluarga adalah lembaga pendidikan pertama yang bersifat informal dan alami. Orang tua bertanggung jawab untuk mengasuh, merawat, melindungi, serta mendidik anak agar dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.
Menjadi orang tua harus dibekali dengan ilmu yang bermanfaat dan memadai, karena sesungguhnya menjadi orang tua bukan hanya sekedar memberikan uang jajan dan menyekolahkan anak ke sekolah unggulan saja, sebab hal itu tidak cukup untuk membuat anak menjadi orang yang pintar dan berprestasi (Qomariah, 2020). Terutama seorang Ibu, ia memiliki peran yang penting bagi pendidikan anak – anaknya.
Ibu merupakan sosok yang sangat berjasa bagi anaknya, karena Ibu telah mengandung anak selama 9 bulan dan melahirkannya antara hidup dan mati. Ibu adalah segalanya, ia mampu bekerja keras demi memenuhi kebutuhan hidup anaknya tanpa memikirkan dirinya sendiri, ia berusaha memberikan yang terbaik bagi anaknya, serta ia rela melakukan apapun demi anaknya. Ibu mempunyai peranan penting dalam mendidik anak sejak ia dilahirkan. Ia mengajarkan mulai dari cara berbicara, berdiri, berjalan, berlari, hingga mengenalkan benda-benda disekitar.
Ibu yang ideal menurut Islam adalah ibu yang mampu mendidik anak dengan nilai ke-Islaman, memiliki budi pekerti yang baik (akhlakul karimah), selalu menjaga perilakunya agar menjadi teladan bagi anaknya, memiliki sikap penyabar, sopan, serta lembut dalam berbicara agar nantinya sang anak dapat memiliki kepribadian yang tangguh dan baik. Dengan pendidikan, anak akan memiliki banyak keterampilan dan kepribadian. Keterampilan dan kepribadian merupakan dasar untuk menjadi anak yang berkualitas baik fisik maupun mental. Pribadi yang berkualitas dan berakhlak mulia tidak datang dengan sendirinya, tetapi akan muncul ketika seorang Ibu mengajarkan anaknya dengan kebiasaan-kebiasaan yang baik, sehingga akan memberikan dampak yang positif dan menjadi bagian dari kepribadian keseharian, sebaliknya jika seorang Ibu mengajarkan perilaku dan kebiasaan sehari-hari yang memberikan dampak negatif, maka akan berakibat buruk terhadap kepribadian anak (Mislaini et al., 2020). Sebab, perkembangan anak berpengaruh pada pola asuh seorang Ibu.
Ibu selalu berada di sisi anaknya, itulah mengapa kebanyakan anak lebih dekat dengan Ibunya. Tanggung jawab seorang Ibu sangatlah berat dan mulia, Ibulah yang mendidik dan mengatur keluarga. Hal ini sangat penting demi terwujudnya keluarga sakinah, yaitu keluarga yang sehat dan bahagia, karena dengan peran seorang Ibu, maka rumah akan menjadi surga bagi anggota keluarga serta menjadi pendamping bagi suaminya. Oleh karena itu, untuk mencapai ketentraman dan kebahagiaan dalam keluarga, diperlukan sosok Ibu yang sholehah dan baik hati, mampu menjadikan rumah menjadi tempat yang menyenangkan, serta memikat hati setiap anggota keluarga (Mislaini et al., 2020).
Menurut Ali Qaimi dalam (Mislaini et al., 2020), menjadi Ibu yang baik terhadap seorang anak memerlukan perencanaan dan tindak lanjut, sehingga Ibu mampu mengembangkan karakter yang baik, diantaranya:
- Keharusan Mengenali Diri
Bagi seorang Ibu, mengenali diri sendiri amat penting mulai dari kekuatan, kelebihan, kemampuan serta kekurangan bahkan kelemahan yang ada di dalam dirinya. Mengenali diri sendiri yang ada di dalam jiwa Ibu sama halnya dengan mengenal Allah SWT, karena dengan mengenal Allah SWT seorang Ibu akan menjunjung tinggi nilai-nilai ketakwaan, kemanusiaan, serta kemuliaan dan akhirnya karakter Ibu yang baik akan ditiru oleh sang anak.
- Pentingnya Ketakwaan bagi Ibu
Penting sekali bagi seorang Ibu memiliki ketakwaan kepada Allah SWT, Ibu harus terus merasakan akan hadirnya Allah SWT dalam dirinya, agar dapat mencegah beberapa persoalan yang dihadapi dalam kehidupannya. Dengan begitu, Ibu bisa terhindar dari segala kesulitan dan mencegah penyakit jiwa. Seorang Ibu juga merupakan sumber teladan bagi keluarga terutama anak. Maka, pentingnya ketakwaan bagi Ibu akan mempengaruhi jiwa sang anak kelak.
- Pentingnya Pendidikan Menjadi Ibu
Penting sekali seorang Ibu memiliki pendidikan yang benar sesuai dengan akidah Islam. Karena dengan Ibu mendidik anak secara Islam, maka anak-anak pun menjadi generasi yang baik. Dan sebaliknya, bila Ibu tidak memahami akan pentingnya pendidikan baginya, maka harapan membuat anak menjadi shaleh, berilmu dan berkualitas tidak akan terwujud. Pendidikan anak bisa dimulai oleh Ibu melalui pengalaman dan kebiasaan.
- Aspek Agama, Moral, Etika dan Tradisi
Dari ketiga aspek ini, semuanya memiliki hubungan yang erat dan pantas dimiliki oleh seorang Ibu. Jika Ibu bertumpu pada agama, moral pun ikut berperan. Dan apabila seorang Ibu tidak mempunyai landasan agama dan moral, bagaimana mungkin seorang Ibu mendidik anak dengan baik. Maka aspek agama dan moral sangat berhubungan erat terhadap perkembangan spiritual dan moral bagi anak. Begitu juga dengan aspek etika dan tradisi, seorang ibu tidak mungkin hidup bermasyarakat dan bergaul kepada sesama serta hanya mengandalkan aspek agama dan moral saja. Ibu pun harus memiliki aspek etika dan tradisi, agar terjalin tata krama yang baik. Sehingga ini menjadi contoh baik bagi anak yang dapat ditiru.
- Aspek Bahasa dan Pengetahuan Umum
Sejak kecil, Ibu sudah mengajarkan anak berbicara dengan mengucapkan kata-kata. Memang sudah sepantasnya Ibu menjadi guru yang pertama dan utama bagi anak, karena disitu Ibu menjadi tempat bercurah kasih dan tempat bertanya dikala anak tidak mengetahui sesuatu. Maka dengan memiliki semua itu, baik bahasa maupun pengetahuan umum, niscaya Ibu akan melahirkan anak yang unggul terhadap masyarakat
- Pengetahuan Kesehatan
Seorang Ibu wajib mengetahui kesehatan terhadap anaknya. Dan jikalau anak sakit, setidaknya Ibu bisa memberikan pertolongan pertama serta pengobatan terhadap anak sebelum dibawa ke dokter.
- Mengatur Rumah Tangga dan Aspek Keterampilan
Dalam berumah tangga, Ibu harus memahami bagaimana cara mengatur rumah tangga yang baik serta keterampilan apa saja yang pantas ia miliki. Seperti mengatur, merawat, membersihkan dan menyusun perabotan yang ada di rumah dengan penataan yang baik, dengan begitu anak akan betah tinggal di rumah.
Menurut (Mislaini et al., 2020) dari teori pendidikan Islam sebagaimana yang dipraktekkan oleh Rasulullah SAW, maka tidak diragukan lagi bahwa seorang Ibu dalam mendidik anak mempunyai contoh-contoh tersendiri, yaitu seorang Ibu harus memiliki suri tauladan yang dapat dicontohkan dalam kehidupannya. Rasulullah SAW merupakan teladan umat muslim di seluruh dunia, yaitu insan yang paling sempurna akhlaknya. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam surat al-Ahzab ayat 21 yang artinya:
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”
Dalam hal ini, peran Ibu sebagai teladan lah yang menjadi landasan utama bagi anak, karena dengan Ibu meneladani Rasulullah SAW baik dalam sikap, perilaku, akhlak, dan bagaimana cara memberikan contoh yang baik dalam Islam kepada anak, akan terbentuk anak sholeh atau sholehah yang memiliki kepribadian baik. Dan itu semua bisa dicapai dengan meneladani Rasulullah SAW dengan baik. Oleh karena itu, Ibu yang memahami ajaran Islam dan peran pendidikan dalam kehidupan akan memahami tanggung jawab terhadap pengasuhan anak-anak mereka.
Referensi:
Mislaini, Hoktaviandri, & Muliati, I. (2020). Peran Ibu Sebagai Pendidik Dalam Keluarga. Al-Kawakib: Jurnal Kajian Keislaman, 1(1).
Qomariah, S. (2020). Peran Ibu Dalam Mendidik Anak Pada Surah Al-Ahqaf (46) Ayat 15 Dalam Tafsir Ibnu Katsir.

No responses yet