Oleh : Umirna Fisabilih (Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka)
Manusia merupakan makhluk sosial yang berarti manusia membutuhkan manusia lainya dalam interaksi sehari-harinya, manusia tidak dapat hidup sendiri. Dalam interaksi keseharian manusia memerlukan komunikasi. Sebagaimana yang berlangsung dikehidupan keluarga.
Keluarga adalah lingkungan pertama yang ditemui anak. Orang tua memiliki tanggung jawab yang besar terhadap pendidikan anak. Didalam islam pendidikan yang pertama kali diajarkan adalah pendidikan akhlak. Hal ini akan mempengaruhi karakter dan perkembangan anak.
Dalam mendidik anak, komunikasi semestinya disampaikan dengan cara yang tepat dan baik agar anak dapat menerima informasi yang disampaikan orang tuanya. Akhir-akhir ini masih dijumpai orang tua yang belum menemukan cara atau pola berkomunikasi yang efektif.
Ketika pesan yang disampaikan tidak dipahami ataupun tidak menyenangkan bagi anak maka akan menjadikan anak tersakiti dan akan menyebabkan merenggangnya komunikasi antar orang tua dengan anak.
Komunikasi didalam keluarga khususnya orangtua dan anak menjadi hal yang utama dan harus dilakukan dengan mengontrol, mengawasi dan mendukung anak-anaknya dalam segi positif.
Melalui komunikasi dalam keluarga akan dapat mempengharuhi perkembangan emosi dan perkembangan perilaku pada anak. Pengelolaan emosi ini sangat tergantung dari pola komunikasi yang diterapkan dalam keluarga, terutama sikap orang tua dalam mendidik dan mengasuh anaknya. Pola komunikasi keluarga yang diterapkan akan menentukan pembentukan dan perkembangan emosi tersebut (Setyowati, 2005).
Keluarga sangat berperan penting terhadap pembentukan perilaku anak, karena sejak kecil anak hidup, tumbuh dan berkembang di dalam keluarga. Orang tua merupakan cerminan bagi anak-anaknya. Sebagai orang tua harus bisa menunjukkan sikap yang baik kepada anaknya supaya anak akan meniru sikap baik dari orang tuanya (Tumengkol, dkdk. 2020). Pembentukan karakter anak tersebut akan tercapai apabila adanya komunikasi yang baik antara orang tua dan anaknya.
Sebagian orang tua mempunyai cara tersendiri dalam mengarahkan perilaku anaknya. Terciptanya perilaku anak yang baik karena dibesarkan oleh keluarga yang harmonis dan komunikatif serta adanya edukasi yang terus menerus.
Dalam islam, al-Qur’an sebagai pedoman hidup bagi umat islam. Di al-Qur’an pun banyak membahas ayat-ayat tentang komunikasi, khusunya orang tua terhadap anak, seperti kisah keluarga nabi Ibrahim A. S.
Komunikasi Keluarga
Menurut (Wahid, 2019) keluarga dalam Islam memiliki pengertian yaitu suatu struktur atau susunan yang sifatnya khusus di mana setiap orang yang ada di dalamnya terikat oleh suatu ikatan, baik suatu ikatan darah ataupun oleh ikatan perkawinan.
Komunikasi keluarga merupakan penyampaian pesan-pesan komunikasi dalam keluarga sebagai suatu proses komunikasi yang disampaikan antara ayah, bunda serta anak- anaknya antara lain seperti masa depan anak, pekerjaan anak, pembelajaran anak serta pengeluaran rumah tangga (Sambuaga, 2014).
Menurut (Sumakul, 2015) komunikasi dalam keluarga juga dapat dimaknai sebagai kesiapan membicarakan secara terbuka setiap hal dalam keluarga baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan, serta siap menyelesaikan masalah-masalah dalam keluarga dengan pembicaraan yang dijalani dalam kesabaran dan kejujuran serta keterbukaan.
Komunikasi berlangsung harus diawali dengan sikap saling menghargai (Ziaulhaq, 2020). Adanya penghargaan biasanya akan menimbulkan keinginan untuk mengulang sikap tersebut. Orang tua akan sukses berkomunikasi dengan anak bila ia melakukanya dengan penuh respek.
Pola Komunikasi
Menurut (Jamil, dkk. 2021) pola komunikasi memiliki makna yaitu sebuah model dalam berkomunikasi yang mempunyai sifat mempengaruhi, mengajak serta memberi informasi dengan kata-kata yang dilakukan oleh komunikator terhadap komunikan yang bertujuan untuk mendapatkan umpan balik (feedback) terhadap komunikator.
Pola asuh yang baik, dan pengasuhan anak akan berhasil dengan baik jika pola komunikasi yang tercipta dilandasi dengan cinta dan kasih sayang dengan memposisikan anak sebagai subjek yang harus dibina, dibimbing, dan dididik dan bukan sebagai objek semata. Menurut (Setyowati, 2005) terdapat 3 macam pola komunikasi, yaitu diantaranya:
- Otoriter
Orang tua otoriter memberlakukan peraturan-peraturan yang ketat, keras, dingin yang harus dipatuhi oleh anak.
- Permisif
Orang tua berusaha menerima serta mendidik sebaik mungkin tetapi cenderung sangat pasif atau tidak mempedulikan anak ketika harus berhadapan dengan masalah penetapan batas-batas atau menanggapi ketidakpatuhan.
- Otoritatif.
Orang tua berusaha mengembangkan batas-batas yang jelas dan ingkungan yang baik untuk tumbuh.
Pola Komunikasi Nabi Ibrahim dengan Anaknya
Ayat-ayat di dalam al-Qur’an yang menjelaskan tentang komunikasi, contohnya yaitu tentang komunikasi Nabi Ibrahim dengan anaknya, yang terdapat dalam Qs. al-Saaffat/ 37: 102) yakni isi dalam ayat tersebut adalah sebagai berikut:
‘’Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapat mu!” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu, insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.”
“ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya,” ialah telah mencapai usia yang sudah mampu membantunya bekerja; ada yang berpendapat mencapai usia 7 tahun, ada juga yang berpendapat 13 tahun. Saat itu, Nabi Ibrahim bermimpi menyembelih Nabi Ismail, maka Nabi Ibrahim pun mengajak Nabi Ismail untuk bermusyawarah mengenai mimpi tersebut’’.
Nabi Ibrahim mendapat gelar sebagai Nabi ulul azmi karena keimanan dan ketabahannya yang luar biasa dalam menjalani ujian yang telah Allah berikan. Ketika berumah tangga, ia harus menunggu puluhan tahun hingga akhirnya Allah memberinya kabar gembira dengan lahirnya seorang anak yang sangat penyabar, ketika anaknya sudah lahir ia harus meninggalkannya bersama istrinya di padang pasir tandus yang belum ada kehidupan di dalamnya. Ketika anaknya beranjak dewasa, ia harus menyembelihnya karena perintah dari Tuhannya.
Doa Nabi Ibrahim untuk diberi keturunan yang saleh dikabulkan oleh Allah. Nabi Ismail Allah berikan sifat yang sama dengan Nabi Ibrahim yaitu sangat sabar dan tenang menghadapi ujian yang Allah berikan.
Sikap penyabar inilah yang menjadi modal utama dalam menghadapi ujian yang Allah berikan. Melalui mimpi, Nabi Ibrahim diperintahkan oleh Allah untuk menyembelih anaknya, Ismail.
Nabi Ibrahim bertanya kepada anaknya yaitu Nabi Ismail:
“Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapat mu!”
Nabi Ismail pun menjawab:
“Wahai Ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.”
Terdapat di ujung ayat 102. Tidak disangka jawaban dari sang anak yaitu nabi Ismail. Benar-benar terkabul doa Nabi Ibrahim yang memohon untuk diberi keturunan yang tergolong orang yang saleh. Benar-benar terkabulkan apa yang dikatakan Tuhan tentang dirinya, yaitu seorang anak yang sangat penyabar.
Menurut (Akbar, 2021) komunikasi Nabi Ibrahim dengan nabi Ismail ialah komunikasi dengan menggunakan pola pertanyaan dan dialog. Pertanyaan tersebut diajukan oleh Nabi Ibrahim kepada Ismail yang terdapat di ayat 102, yakni “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapat mu!”. Pertanyaan tersebut diajukan kepada Nabi Ismail, agar ia turut memikirkan perintah Allah SWT, yang berhubungan dengan dirinya. Hal ini mencerminkan bahwa Nabi Ibrahim tidak memutuskan suatu perkara secara sepihak, melainkan menanyakan pendapat Nabi Ismail. Pada saat yang seperti inilah terjadi dialog antara Nabi Ibrahim dengan Nabi Ismail.
Referensi
Akbar, S. H. (2021). Pola Komunikasi Orang Tua Dan Anak (Keteladanan Keluarga Nabi Ibrahim Di Dalam Al-Qur’an)
Jamil, M., Sarmiati, S., & Arif, E. (2021). Pola Komunikasi Keluarga dalam Mendidik Anak di Era Revolusi Industri 4.0 (Studi Kasus Komunikasi Orang Tua Terhadap Anak Dalam Membangun Akhlakul Karimah). Jurnal Pendidikan Tambusai, 5(2), 1394-3707.
Sambuaga, D. P. (2014). Peranan komunikasi keluarga dalam mencegah perkelahian antar warga (studi kasus di Kelurahan Mahakeret Barat). Acta Diurna Komunikasi, 3(4).
Setyowati, Y. (2005). Pola komunikasi keluarga dan perkembangan emosi anak (studi kasus penerapan pola komunikasi keluarga dan pengaruhnya terhadap perkembangan emosi anak pada keluarga Jawa). Jurnal Ilmu Komunikasi, 2(1).
Sumakul, B. J. (2015). Peranan komunikasi keluarga dalam pembentukan identitas remaja di Kelurahan Malalayang I Kecamatan Malalayang Kota Manado. Acta Diurna Komunikasi, 4(4).
Tumengkol, A. E. A., Putri, S. I., & Borneo, G. A. (2020, February). Pola Komunikasi Orang Tua Dalam Membentuk Perilaku Anak. In Talenta Conference Series: Local Wisdom, Social, and Arts (LWSA) (Vol. 3, No. 1).
Wahid, A., & Halilurrahman, M. (2019). Keluarga Institusi Awal Dalam Membentuk Masyarakat Berperadaban. CENDEKIA: Jurnal Studi Keislaman, 5(1), 103-118.
Ziaulhaq, W. (2020). Urgensi Komunikasi Keluarga Dalam Penguatan Keluarga Sakinah (Kecamatan Besitang). WARAQAT: Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman, 5(1), 13-13.

No responses yet