Oleh: Agus Tri Mulyono (Mahasiswa Universitas Dirgantara Mrsekal Suryadarma)
1.PENDAHULUAN
Hakikatnya dakwah merupakan kegiatan yang bertujuan untuk menyeru seluruh umat manusia untuk ke arah yang lebih baik dengan cara yang baik pula, baik dilakukan secara kolektif maupun individu agar menjadi manusia yang terbaik, dapat dikatakan pula bahwa berdakwah merupakan sebuah langkah dan upaya yang sangat strategis dan terencana dalam merubah kultur dan budaya masyarakat agar menjadi lebih baik, dengan ruh ini menyeru kepada kebaikan dan meninggalkan kemungkaran atau amar ma’ruf nahi mungkar, sehingga dapat membawa kembali manusia kepada jalan yang diridhai Allah swt. sesuai yang disyariatkan oleh ajaran agama Islam.
Dakwah menjadi kebutuhan bagi setiap orang khususnya umat Islam. Dakwah juga merupakan sebuah proses agar seorang muslim mendapatkan kebaikan hidup serta kebahagiaan hidup, baik di dunia maupun di akhirat. Dakwah dipahami sebagai kebutuhan untuk melakukan proses internalisasi, transformasi, transmisi, dan difusi ajaran Islam dalam kehidupan masyarakat.
Karena dakwah menjadi sebuah kebutuhan, maka para da’i dapat melakukan berbagai cara serta upaya dalam menyajikan dakwah, agar tujuan utama menyampaikan pesan-pesan syariat Islam dalam dakwah dapat tersampaikan dengan baik. Hadirnya wabah berupa pandemi covid-19 yang masih terjadi di era new normal saat ini menjadikan seluruh kegiatan menjadi terbatas baik itu ruang gerak, maupun perkumpulan secara langsung, termasuk dalam kegiatan dakwah. Untuk itu saat ini akan kita bahas penyesuaian pola dakwah agama islam untuk menghadapi pandemi covid-19.
Berdakwah yang semula dilakukan melalui tatap muka (face to face) mengalami perubahan secara drastis. Seharusnya kondisi ini menjadi sebuah tantangan dan tidak menghalangi gerakan dakwah, justru sebaliknya, para da’i merasa lebih tertantang untuk lebih kreatif dan lebih berinovasi dalam meyajikan pesan dakwah. Perubahan masif yang terjadi dalam dunia digitalisasi, informasi dan teknologi merupakan sebuah kesempatan dan rahmat yang Allah berikan kepada manusia, hal ini mampu memberikan kemudahan dalam berbagai hal, termasuk dalam melakukan dakwah.
Media online menjadi hal yang berdampingan dengan kehidupan masyarakat, mereka sudah terbiasa dan akrab dengan hal tersebut, dan ini menjadi peluang yang bisa digunakan dalam menyampaikan dakwah melalui digital dengan memanfaatkan kemajuan teknologi. Aktivitas dakwah yang semula terbiasa dan sering dilakukan melalui bertatap muka bersama mad’u, sekarang mulai berubah dengan melalui 87 perantara media sosial atau plat-form media online yang lainnya yang dinilai cukup efektif untuk melakukan kegiatan dakwah, sehingga dakwah mudah diakses dan disajikan melalui content yang unik dan menarik melalui berbagai media sosial. Kegiatan berdakwah dikenal adanya beberapa prinsip-prinsip yang harus diperhatikan diantaranya: Pertama, hendaknya berdakwah menyesuaikan materi kepada mad’u (pendengar) dengan selalu menyampaikan materi yang mengandung kebaikan atau al-‘adl. Ketika konteknya masa pandemi, dengan adanya kebijakan pemerintah yang melarang adanya kerumunan massa dalam jumlah yang banyak, maka adil bisa dimaknai dengan kebaikan berdakwah yang dilakukan di rumah atau ditempat masing-masing yang disampaikan secara daring melalui media masa, dengan tetap tersampaikan materi dakwah dengan baik. Kemudian ada prinsip at-tasāmuḥ (toleransi) hal ini menunjukan bahwa dakwah tidak hanya ditujukan hanya kepada orang Islam saja, namun dakwah juga dapat dilakukan dengan seluruh masyarakat dengan membawa nilai-nilai ketuhanan dan kesahajaan. Ketiga adalah prinsip at-tawazun (keseimbangan), hal ini dimaknai dengan ajakan dakwah berorientasi kepada keserasian dan keselarasan dalam menyampaikan pesan-pesan yang dibawakannya, menghindari ekslusifitas serta diskriminatif. Prinsip keempat adalah at-taharum (kasih sayang), dakwah ditunjukan dengan sifat yang rahmah, yaitu mencintai kepada sekalian umat sebagaimana mencintai diri sendiri.
Maka dengan memanfatkan kemajuan teknologi digital, dan media sosial baik dalam bentuk komunikasi maupun informasi, maka dapat dijadikan sebuah pilihan oleh da’i dalam menyampaikan dakwah di masa pandemi. Pandemi seharusnya bukan menjadi alasan untuk da’i dalam melakukan kegiatan dakwah, namun justru menjadi tantangan untuk lebih adaptif, kreatif dan inovatif serta memanfaatkan media sebagai peluang untuk melakukan kegiatan dakwah secara berkesinambungan, sehingga lebih bersinergi dalam perubahan yang positif, serta menjadi tonggak awal kebangkitan dakwah Islam memasuki era revolusi industri 4.0, tentunya dalam menyiarkan ajaran Islam kepada masyarakat luas (Halisa, 2020). Hal lainya yang didapatkan dari perubahan ini adalah kegiatan dakwah bisa lebih menjangkau mad’u dengan lebih banyak dan efektif tanpa terbatas oleh ruang, waktu, dan kondisi. Sehingga tujuan utama dakwah untuk membantu manusia melaksanakan syariat Allah dengan amar ma’ruf nahi munkar akan tercapai dengan baik dan maksimal. Eksistensi dakwah dimasa pandemi merupakan paradigma baru dalam melakukan kegiatan aktivitas dakwah, hal ini dimaksudkan untuk bisa beradaptasi dengan paradigma lama yang sudah tidak relevan dan out of date.
Beberapa pembaruan yang mesti dilakukan diantaranya terkait konsep dakwah, kegiatan dakwah, perluasan dan penguatan jangkuan dakwah, pemanfaatan teknologi dan informasi, serta metode dakwah yang seperti apa yang tepat digunakan dalam masa pandemi ini, sehingga akan mengukuhkan eksistensi dakwah dan sekaligus menjawab problematika dakwah di masa pandemi covid-19.
2. POLA DAKWAH UNTUK MENGHADAPI TANTANGAN ERA PANDEMI COVID-19
Semua aktivitas yang dilakukan manusia mesti mengalami tantangan dan hambatan, tidak terkecuali dalam menjalankan dakwah di era masa pandemi. Tantangan dalam bentuk apapun yang kita hadapi merupakan bagian dari sunnatullah yang harus disikapi secara arif. Memang harus diakui bahwa setiap masyarakat yang memasuki era pndemi saat ini dengan tatanan sosial yang semakin komplit, maka akan memunculkan tantangan-tantangan baru yang semakin sulit. Penjelasan ini mengisyaratkan bahwa tantangan merupakan bagian tak terpisahkan dari setiap usaha yang dilakukan manusia, baik dalam skala kecil maupun besar. Karena itu, tidak mungkin seseorang itu lari dari tantangan, sebab hal itu sama saja dengan meninggalkan kegiatan yang sedang dijalankan. Seorang da’i yang takut dan lari dari tantangan dakwah di era masa pandemi ini, maka itu bermakna ia telah meninggalkan tugas dakwah. Mengingat tantangan itu selalu hadir dalam kehidupan manusia, maka langkah yang paling bijak adalah menghadapinya secara arif. Secara pemikiran positif, tantangan itu harus diposisikan sebagai proses pembelajaran dan pendewasaan diri untuk penguatan dakwah. Semakin besar tantangan yang dihadapi, semakin mencerdaskan da’i untuk mengasah diri sehingga tampil lebih sempurna dalam menjalankan tugas-tugas dakwah.
Kemampuan dan keberhasilan seseorang dalam menjawab sebuah tantangan, secara tidak langsung telah menaikkan derajat keilmuannya setingkat lebih tinggi dari posisi sebelumnya. Karena itu, sispapun yang ingin derajatnya ditinggikan oleh Allah Swt, maka hendaknya ia bersiap-siap menghadapi berbagai tantangan yang dihadapkan kepadanya.
Semenjak Indonesia menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di seluruh daerah provinsi dan kabupaten, hampir seluruh ruang kegiatan masyarakat dipersempit, guna mencegah kerumunan dan memutus mata rantai Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Hal tersebut juga membuat aktivitas dakwah di Indonesia harus dibatasi. Lantas bagaimana dakwah di Indonesia dapat tetap berjalan selama pandemi dengan segala keterbatasan yang ada?.
Dosen Fakultas Dakwah Dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM), pengampu mata kuliah Manajemen Tabligh, Upi Zahra M.I.Kom., mengatakan, berdakwah pada masa pandemi memiliki tantangan tersendiri. Masyarakat Indonesia yang biasa menggelar majelis taklim atau tablig akbar untuk berdakwah, kini harus dibatasi bahkan ditiadakan. Hal tersebut menjadi kesempatan bagi para dai dan juru dakwah untuk mengasah kreativitas, agar dakwah tetap dapat sampai ke masyarakat.
“Saat ini penggunaan internet, platform digital, dan media sosial menjadi sarana yang paling memungkinkan untuk berdakwah. Maka para pendakwah setidaknya paham dalam menggunakan teknologi, karena sekarang adalah masa dimana segala aktivitas dapat diunggah di medsos. Kita bisa memanfaatkan medsos sebagai alat penyebaran dakwah, agar mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat muslim,” jelasnya.
Untuk itu saat menghadapi pandemi covid-19 alternatif paling mudah untuk mengatasi masalah saat berdakwah adalah dengan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi saat ini yang terbilang sangat mendukung. Dirinya menambahkan, meskipun dakwah dilakukan melalui medsos baik video ataupun tulisan, pendakwah harus tetap berpacu pada surat An-Nahl ayat 125, yaitu menyampaikan dakwah dengan tutur yang baik, serta memberikan bantahan menggunakan cara dan bahasa bahasa yang santun. Selain itu, pendakwah pun harus memperhatikan tingkat pendidikan jamaah untuk menyesuaikan materi yang akan diberikan.
“Hal ini agar materi yang disampaikan pendakwah dapat diterima baik oleh masyarakat, karena Rasulullah bersabda, berbicaralah kepada seseorang dengan memperhatikan kadar akal dan daya pikir mereka. Jangan sampai apa yang disampaikan pendakwah tidak diterima baik oleh mad’u,” tutupnya.
Konsep dakwah di medsos tidak hanya menyampaikan ajaran atau poin keislaman, tetapi mengajak masyarakat mengaplikasikan Islam ke dalam kehidupan. Berdakwah di medsos tentu berpotensi dan menguntungkan, karena selama pandemi masyarakat sangat konsumtif dalam penggunaan medsos dan internet.
“Meskipun menguntungkan, medsos berpotensi menjadikan segala akses informasi terbuka, sehingga hal negatif juga dapat terjadi dalam berdakwah. Banyak oknum di medsos yang berkedok dakwah, tetapi melakukan penipuan dengan dalih bersedekah, bahkan menyisipkan materi yang bersifat radikal,” ungkapnya.
Dirinya menambahkan, bonus demografi di Indonesia menjadi objek penting pengguna medsos yang artinya generasi milenial memegang peranan penting dalam mengontrol akses di medsos. Mereka perlu meningkatkan budaya literasi, tidak menelan informasi mentah-mentah, khususnya tentang informasi yang berkaitan dengan dakwah islam. Maka, generasi milenial harus dapat mengontrol masyarakat dalam mencegah penyebaran dakwah yang melenceng di medsos.
3. KESIMPULAN
Dari penjelasan diatas bahwa masa pandemi saat ini sangatpenting peran para da’i mengoptimalkan media digital untuk berdakwah agar dakwah tetap bisa berlangsung di tengah pandemi bahkan bisa juga dijadikan alternatif untuk tetap digunakan di kondisi normal sehingga akan tercipta e-dakwah dikarenakan ada peluang dakwah menggunakan media digital ini efeknya bisa menjadi lebih efektif dan efisien di era revolusi industri 4.0. Pendakwah perlu mengajak untuk selalu mencari inovasi agar pesan dakwah bisa tetap sampai kepada umat walaupun dalam penuh keterbatasan untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Mari kita berikan kesejukan kepada masyarakat dengan mengajak agar tidak panik, cuci tangan, hindari kontak fisik dan batasi kegiatan dilua rumah.

No responses yet