Oleh: Arini Kurniawati (Mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)
Bangsa yang besar tidak akan luput dari sejarah yang hebat pula. Sejarah merupakan cerita tentang masa lalu yang memengaruhi kehidupan manusia di masa sekarang, baik dalam bidang budaya, politik, kesehatan, dan lainnya. Kita juga dapat melihat sejarah lewat manuskrip karena manuskrip merupakan naskah lama yang ditulis tangan yang berisi tentang semua hal yang terjadi di masa lalu, baik mengenai sejarah, kebudayaan, dan lain sebagainya. Dari manuskrip kita dapat membaca sejarah seperti kejadian-kejadian yang pernah berlangsung saat itu. Tetapi sayangnya saat ini sudah jarang ditemukan manuskrip-manuskrip seperti itu karena tidak terawat kemudian hancur atau bahkan kita tidak mengetahui bahwa di sekeliling kita mungkin banyak ditemukan manuskrip dan hanya disimpan begitu saja.
Untuk menghindari potensi kepunahan manuskrip-manuskrip tersebut maka saat ini sudah banyak digitalilasi-digitalisasi manuskrip yang dapat kita akses secara daring, seperti DREAMSEA, Khastara, The British Library, SOAS, RAS, dan lain-lain. Pendigitalisasian tersebut bertujuan untuk menyimpan sekaligus melestarikan manuskrip-manuskrip yang tersebar di dunia supaya tidak punah.
Salah satu penyedia digitalisasi manuskrip adalah Perpustakaan Universitas Leiden. Laman penyedia digitalisasi manuskrip di Perpustakaan Universitas Leiden tersebut memiliki banyak manuskrip dan beranekaragam bentuknya baik dari aksara, bahasa, dan lain-lain. Salah satu manuskrip digital yang ada di Perpustakaan Universitas Leiden adalah manuskrip Hikayat Susunan Kuning dalam Negeri Gagelang.
Manuskrip tersebut disalin oleh Ja’in Abdurrahman, bernomor inventaris naskah yaitu Or. 1755, menggunakan aksara Arab berbahasa Melayu bertinta merah dan hitam, memiliki bahan kertas kecokelatan berjumlah 39 halaman (belum termasuk cover, jika sudah termasuk cover menjadi 45 halaman) berukuran 31,5 × 20 cm. Manuskrip tersebut juga memiliki keunikan yaitu terdapat iluminasi (hiasan) di bagian awal dan akhir, serta ada beberapa kata yang bertinta merah yaitu kata “syahdan”, “alkisah”, dan “adapun”.
Manuskrip Hikayat Susunan Kuning dalam Negeri Gagelang merupakan prosa cerita panji yang menceritakan tentang kisah Raja Jawa yang bernama Susunan Kuning dengan segala peperangan yang pernah ia alami. Di bagian awal Susunan Kuning menceritakan silsilah keluarganya yaitu istrinya bernama tuan putri Ratu Majapahit dari negeri Darwati yang memiliki dua anak putra dan putri yang bernama Bakarma Denta Jaya dan Laila Dandam Hayali. Dalam manuskrip tersebut diceritakan pula raja dari negeri Daha yang bernama Pakubuwono Jaya Negara, ia yang hendak menyerang negeri Gagelang dan ia mengirim utusan untuk membawa surat ke negeri Gagelang. Surat tersebut berisi tentang pernyataaan bahwa Pakubuwono Jaya Negara akan menyerang negeri Gagelang. Kemudian Pakubuwono Jaya Negara melakukan perjalanan ke negeri Gagelang. Perjalanan tersebut ditempuh Pakubuwono dan selama 13 bulan. Sesampainya di negeri Gagelang, terjadilah peperangan di antara kedua raja besar tersebut yaitu Susunan Kuning dan Pakubuwono Jaya Negara. Pertempuran di tengah alun-alun Gagelang dan berlangsung sekitar 40 hari 40 malam, dengan tiada satu pihak pun yang mengaku kalah atau berhasil dikalahkan oleh siapa pun. Perang pun sempat dihentikan sejenak pada hari ke 70 atas kesepakatan kedua raja tersebut. Setelah itu, perang tersebut kembali berlanjut dengan hasil kekalahan Pakubuwono Jaya Negara dan Susunan Kuning lah pemenangnya dan menjadi tuan atas kerajaan Daha serta mengambil semua harta kekayaan kerajaan Daha.
Kemudian ada penyerangan kembali yang terjadi pada tanggal lima belas bulan sapar kerajaan Daha diserang oleh kerajaan negeri Palanggam Cahaya yang mengakibatkan terjadinya peperangan antara negeri Palanggam Cahaya dan kerajaan Daha dan yang memenangkan peperangan tersebut adalah kerajaan Daha dan harta dari negeri Palanggam Jaya diambil dan diangkat lah Kyai Temanggung Aryawangsa sebagai raja di negeri Palanggam Cahaya. Kemudian ia memanggil Mangkubumi untuk menjelaskan kejadian peperangan tersebut dan menjelaskan tentang kebajikan dalam pekerjaan. Kemudian Mangkubumi berbicara kepada para menteri, hulubalang, dan pahlawan dalam menjalankan kebajikan pekerjaan baik di dalam kota maupun luar kota. Kemudian tiba-tiba datang kabar dari negeri Dzamin Umbara bahwa negeri Dzamin Umbara meminta kerajaan negeri Palanggam Cahaya. Permintaan tersebut diajukan dengan cara yang baik. Jika kerajaan tersebut tidak diberikan, maka rajanya akan dibunuh mati, kemudian pada akhirnya raja tersebut mati dan orang dalam negeri pun menangis.
Itulah sedikit cerita yang menggambarkan isi dari manuskrip Hikayat Susunan Kuning dalam Negeri Gagelang. Dari beberapa literatur dijelaskan bahwa isi dari manuskrip tersebut berhubungan dengan peristiwa Geger Pecinan. Geger Pecinan adalah sebuah peristiwa tragedi kemanusiaan yaitu pembantaian etnis Cina oleh orang Jawa. Hal tersebut dikarenakan pihak kolonial Belanda sangat berkepentingan terhadap penguasaan secara penuh potensi-potensi ekonomi di tanah Jawa seperti pertanian, perdagangan, perkebunan, perhutanan, pertambangan, dan lain sebagainya.
Selain berhuhubungan dengan peristiwa Geger Pecinan, manuskrip tersebut merupakan kisah nyata, maka ada beberapa tokoh yang namanya disamarkan. Maka beberapa nama-nama tokoh di cerita tersebut tidak sama dengan yang ada dalam sejarah kisah nyata.
Kutipan cerita manuskrip di atas merupakan salah satu penggambaran sejarah khususnya di Indonesia pada masa lalu. Sebagai pewaris bangsa ada baiknya kita ikut andil dalam melestarikan manuskrip-manuskrip dengan berbagai hal seperti membacanya, atau bahkan ikut mengumpulkan manuskrip-manuskrip yang ada di sekitar kita untuk diserahkan kepada lembaga kompeten untuk digitalisasikan. “Karena manuskrip ibarat bahasa daerah. Jika tidak ada lagi yang menggunakan atau mempelajarinya, maka akan punah. Punahnya bahasa, berarti punah juga informasi yang pernah dituliskan menggunakan bahasa tersebut.”, ucap salah satu dosen UIN Jakarta bidang Filologi.

No responses yet