Categories:

Oleh: Farhan

Sebagai salah satu kisah yang kolot didengar di telinga, khususnya masyarkat Jawa, kisah Para Pandawa ini diyakini benar keberadaannya. Berbagai penambahan dan pengurangan cerita di sana-sini, melintasi berbagai generasi semenjak dituliskan pertama kali antara akhir abad ke-14 hingga awal abad ke-16 dan disebutkan dalam kitab Bustan al-Salatin             karya Nuruddin al-Raniri di Aceh tahun 1638. Kini, kita bisa dapati manuskrip tersebut di berbagai media digitalisasi naskah manuskrip, salah satunya di British Library, London.

Naskah Hikayat Pandawa Jaya disalin pada 10 Rabiulawal 1220 H atau tanggal 8 Juni 1805 pada masa pemerintahan Sultan Ahmad Tajuddin di Kota Setar Dar al-Aman, merujuk pada wilayah Kedah. Pada awal naskah ini disebutkan bahwa kisah itu awalnya berbahasa India dan kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa, sebelum akhirnya diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu. Menurut kolofon dan catatan pinggir, naskah ini disalin oleh Du’ad pada 24 Zulkaidah 1219 atau 24 Februari 1805.

Hikayat Pandawa Jaya tidak Layak diimani

Sejenak kita tinggalkan mengenai keotentikan manuskrip tersebut dan beranjak pada hal yang perlu digarisbawahi: Hikayat Pandawa Jaya yang tidak layak diimani. Mengapa?

Terutama bagi masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Jawa yang lebih-kurangnya mengetahui kisah dari para pandawa yang biasa mereka sebut “Pandawa Lima”. Dalam versi Jawa, lima tokoh Pandawa memiliki karakteristik yang khas dan tentunya mempunyai makna. Misalnya, tokoh Yudhistira— ‘yudhi’ artinya ahli perang dan ‘isthira’ berarti kemantapan batiniah yang mengarah ke dalam diri serta dianggap sebagai pahlawan perang yang senantiasa berkiblat pada Yang Maha Esa. Begitu juga dengan tokoh Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa. Semuanya dianggap membawa makna yang amat menarik untuk ditelusuri secara terperinci.

Lantas apa yang membuat kisah ini tidak layak diimani?

Jika menelisik kepada manuskrip Hikayat Pandawa Jaya, Du’ad salah satu juru tulis yang juga menyalin hikayat ini menyatakan bahwa “Penulisan kisah ini dikemas penuh kebohongan, karena telah dibumbui lagi dan lagi oleh semua penulis yang telah menyalin dan memperbanyak ulang; siapa mengambil cerita Jawa ini ke dalam hatinya adalah percaya pada kebohongan yang lebih banyak dari bintang-bintang di langit atau pasir dipantai, dan dosa-dosanya akan menumpuk dan berkembangbiak.” Pada bagian akhir naskah pun dituliskan “Inilah Hikayat Pandawa Jaya / siapa membaca jangan percaya / bohongnya tiada berdaya / dunia kayangan sangatlah mulia.” Karenanya, jika membaca kisahnya saja, tanpa melihat kesejarahannya, tentu seseoang akan mengira bahwa naskah ini layak untuk diimani.

Dari pernyataan tersebut sebagai pembaca, tentunya tidak serta-merta menerima dan memasukkannya ke dalam hati. Apalagi untuk menirukan seperti yang dikisahkan. Beda halnya dengan kisah yang sudah jelas asal-muasalnya, seperti kisah kanjeng Nabi Muhammad Saw.

Pada prinsipnya, Hikayat Pandawa Jaya ini tidak layak untuk diimani melainkan hanya sekadar bacaan dan hiburan semata yang ditulis untuk mengingatkan kita pada perilaku moral yang tidak bertentangan dengan agama.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *