Categories:

Oleh: Nazwa Mutiara Dewi, Rafly Zonata, Alif Sultan

Fakultas Psikologi Jurusan Piskologi Universitas Muhammadiyah PROF. DR. HAMKA

Email : artzonata922@gmail.com

PENDAHULUAN

Kecerdasan emosional menjadi aspek penting dalam perkembangan manusia yang mempengaruhi kualitas kehidupan individu dalam berbagai bidang. Di tengah dinamika kehidupan modern yang penuh tekanan, tantangan, dan kompleksitas, agama islam mengajarkan agar setiap individu memiliki kecerdasan emosional agar dapat membantu individu tersebut mengelola emosi, memahami diri sendiri, berinteraksi secara efektif dengan orang lain, serta mengatasi berbagai situasi kehidupan dengan bijak.

Kecerdasan emosi atau yang biasa kita kenal Emotional Quotient (EQ) merupakan kemampuan seseorang untuk mengenali mengelola dan mengontrol emosi mereka, baik emosi dari diri sendiri maupun emosi yang berasal dari orang-orang yang berada disekitarnya. Kecerdasan emosional biasanya dipakai untuk menentukan efektifitas penggunaan kecerdasan pada manusia. Menurut Howard Gardner, ada lima aspek kunci dari kecerdasan emosional seseorang yaitu menyadari dan mampu mengelola emosi diri sendiri, peka terhadap emosi orang lain, mampu merespon dan bernegosiasi secara emosional dengan orang lain,dan mampu menggunakan emosi sebagai alat untuk memotivasi diri sendiri. Al-Quran juga memegang konsep kecerdasan emosional, yang dimana kemampuan mengetahui, mengendalikan dan memotivasi diri dianggap penting. Hal ini mencerminkan bahwa aspek psikologis dan emosional dalam ajaran islam sangatlah penting. Oleh karena itu, kecerdasan emosional dalam Islam tidak hanya berkaitan dengan hubungan sosial, tetapi juga bagaimana seseorang dapat mengembakan dirinya secara menyeluruh sesuai ajaran agama.

Di dalam tulisan ini, akan dibahas secara singkat bagaimana ajaran agama berperan dalam mengatur kecerdasan emosional seseorang. Ajaran-ajaran yang terdapat dalam agama islam memiliki potensi besar untuk memberikan landasan bagi pengembangan kecerdasan emosional pada individu. Melalui nilai-nilai yang diajarkan mampu membentuk kesadaran diri yang lebih dalam. Dalam agama Islam ada dua kategori nilai. Pertama, nilai yang bersifat normatif yaitu nilai-nilai dalam Islam yang berhubungan baik dan buruk, benar dan salah, diridai dan dikutuk Allah. Kedua, nilai yang bersifat operatif, yaitu nilai dalam Islam mencakup hal yang menjadi prinsip standarisasi perilaku manusia (Jempa, 2017).Nilai-nilai yang diajarkan tersebut dapat membantu individu mengatasi konflik internal, serta memberikan pedoman dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitar.

Pemahaman yang mendalam mengenai bagaimana ajaran agama dapat menjadi landasan bagi pengembangan kecerdasan emosional akan menjadi landasan penting dalam memahami hubungan antara spiritualitas dan kecerdasan emosional dalam konteks kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, tulisan ini bertujuan untuk menggali dan menganalisis bagaimana ajaran agama dapat menjadi salah satu fondasi yang kuat dalam membentuk serta mengatur kecerdasan emosional individu.

Adanya keterkaitan yang erat antara ajaran agama dan pengembangan kecerdasan emosional menawarkan perspektif yang menarik untuk dieksplorasi lebih lanjut. Dengan memahami peran serta kontribusi ajaran agama dalam mengelola kecerdasan emosional, diharapkan dapat memberikan wawasan yang mendalam bagi individu dalam memperkuat aspek spiritual dan emosional dalam kehidupan sehari-hari.

PEMBAHASAN

  1. Kecerdasan Emosional

Kecerdasan Emosional adalah kemampuan seperti kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi frustasi, mengendalikan dorongan hati dan tidak melebih-lebihkan kesenangan, mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stres tidak melumpuhkan kemampuan berfikir, berempati dan berdoa (Goleman, 2000). Sedangkan menurut Bradberry dan Greaver dalam (Hamidah et al., 2016) Kecerdasan emosional adalah dua buah produk dan dua keterampilan utama, yaitu keterampilan kesadaran diri dan keterampilan manajemen diri yang termasuk dalam kompetensi personal dan yang kedua adalah keterampilan kesadaran sosial dan keterampilan manajemen hubungan sosial yang termasuk dalam kompetensi sosial.Kompetensi personal lebih terfokus pada diri sendiri sebagai seorang individu, sedangkan kompetensi sosial lebih terfokus pada suatu hubungan kepada orang lain.

Menurut Goleman (2011:318), kecerdasan emosional mencakup lima kompetensi dasar emosional dan sosial, yaitu kesadaran diri, pengelolaan emosi,  motivasi, empati, dan keterampilan sosial.

  1. Kesadaran Diri

Kesadaran diri merupakan dasar dari kecerdasan emosianal. Kemampuan ini adalah kemampuan individu untuk mengenali, memahami, dan mengevaluasi secara objektif emosi, nilai-nilai, kekuatan, kelemahan, dan preferensi pribadi seseorang. Ini mencakup pemahaman tentang bagaimana emosi memengaruhi tindakan dan respons individu terhadap lingkungan.

  • Pengelolaan Emosi

Pengelolaan emosi merupakan kemampuan individu untuk mengelola, mengendalikan, dan mengatur respons emosional mereka sendiri. Ini melibatkan kemampuan untuk mengontrol impuls, menunda gratifikasi, menyesuaikan diri dengan perubahan, dan mengelola stres. Kemampuan ini penting bagi seorang individu agar individu tersebut dapat menangani emosi sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu tugas yang sedang di lakukan melainkan memudahkannya.

  • Motivasi

Motivasi membantu kita dalam mengambil inisiatif dan berusha untuk meningkatkan dan untuk bertahan menghadapi kemunduran dan frustasi. Motivasi adalah dorongan internal yang mendorong seseorang untuk bertindak, melakukan sesuatu, atau mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan. Ini adalah kekuatan psikologis yang mempengaruhi tingkat energi, ketekunan, dan keteguhan hati seseorang dalam mengejar tujuan atau tindakan tertentu.

  • Empati

Empati adalah kemampuan suatu individu untuk memahami, merasakan, dan melihat dari sudut pandang orang lain. Ini melibatkan kesediaan untuk memahami perasaan, kebutuhan, dan pengalaman orang lain sehingga dapat membangun hubungan baik serta keselarasan dengan beragam orang.

  • Keterampilan Sosial

Kemahiran ini merupakan fondasi dari kemampuan memimpin serta pencapaian yang saling melibatkan seseorang dengan orang-orang yang berada di lingkungannya. Keterampilan dalam hal sosial melibatkan kemampuan untuk berkomunikasi dengan baik, berkolaborasi, bernegosiasi, memecahkan konflik, dan membangun hubungan yang sehat.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *