Siapa yang mengejar penghormatan makhluk aibnya akan ditampakkan oleh sang Khalik. Siapa yang mengejar popularitas (pamrih) di kalangan makhluk, kekurangannya akan diperlihatkan oleh sang Khalik.
مَنْ يَبْتَغِي تَكْرِيْمَ النَّاسِ أَوْ مَدْحَهُمْ فِي أَعْمَالِهِ، فَالله ُسَيُظْهِرُ عُيُوْبَهُ. وَمَنْ يَبْتَغِي الشُّهْرَةَ أَوِ الْجَاهَ بَيْنَ النَّاسِ، فَالله ُسَيُظْهِرُ نَقَائِصَهُ.
Tidak dapat dimungkiri, setiap perbuatan kita dipengaruhi oleh niat dan situasi hati kita. Itulah kenapa kita sering kali membuat prioritas dalam membangun hubungan dengan Allah ataupun dengan sesama. Motivasi—itulah kata yang lebih tepat. Dan motivasi tertinggi semua amal kita adalah mencari rida Allah.
Tetapi, sebagai manusia yang memiliki kelengkapan perangkat ruhani dalam diri (hati, nafsu, akal) dan virus nakal dari luar (setan, jin, dan lainnya), terkadang motivasi kita terkontaminasi. Sehingga, disadari atau tidak, kita perlahan berubah haluan.
Sebagaimana kita ketahui, niat sangat mempengaruhi proses dan tujuan akhir apa yang kita lakukan. Kita dianjurkan untuk selalu meluruskan niat dalam ibadah kita.
Sebab, bila niat kita sudah berbelok terlalu jauh dan kita mulai menikmatinya, kerugian besar sedang mengincar kita. Terlalu banyak contoh di sekeliling kita, betapa banyak orang yang dihinakan setelah dimuliakan. Betapa banyak orang dicaci dan dicibir setelah disanjung.
Maka, perbaharuilah niat dan bersihkan tujuan agar kita menjadi hamba yang selamat (mukhlishîn) dan diselamatkan oleh Allah (mukhlasîn).
Karena, apa pun amal yang kita lakukan bukan karena Allah, akan kembali kepada kita dalam bentuk kehinaan, penderitaan, dan kesengsaraan. Saat aib dan kekurangan ditampakkan oleh Allah, tidak semua orang mudah menerima kenyataan. Alih-alih mendapat simpati, kita malah jadi bahan guyonan dan caci maki. Astaghfirullah ….

No responses yet