“Ich sah dich nicht auf meinem Weg. Gibt es d
a noch einen anderen Pfad? Ein jeder hat seinen Weg, den niemand sonst als nur er beschreitet. Und wo befinden sich diese verschiedenen Wege? Sie entstehen durch das Reisen selbst.” ( “Aku tidak melihatmu dalam perjalanan. Apakah ada jalan lain? Setiap orang memiliki jalannya sendiri yang tidak dilalui orang lain kecuali dirinya sendiri. Dan di manakah jalan yang berbeda ini? Jalan itu muncul melalui perjalanan itu sendiri”).
-Ibn ‘Arabi-
Sebagaimana hidupnya yang penuh perjalanan, karya-karya Ibn ‘Arabi juga banyak tentang perjalanan. Seperti ditulis Angela Jaffray dalam “Unveiling from the Effects of the Voyages; An Introduction to the Kitâb al-isfâr ‘an natâ’ij al-asfâr”, tidak diragukan lagi bahwa tema perjalanan itu merupakan inti pemikiran Ibn ‘Arabî, mungkin tidak mengherankan bagi seseorang yang menghabiskan hampir separuh hidupnya dalam perjalanan. Selain dari sejumlah narasi mi’râj spiritual, ia mencurahkan enam bab dari Futûhât hanya untuk menjelaskan perbedaan antara kata-kata yang berkaitan dengan perpindahan dari satu tempat ke tempat lain. Perjalanan (safar), dalam istilah Inggris “voyaging” misalnya, harus dibedakan dengan “wayfaring” (sulûk) dan “wandering” (siyâha).
Pejalan mengembara dengan bebas di jalan raya dan dalam kehidupan ini, sementara pengembara memiliki tujuan. Jika kita memperhatikan banyaknya pembahasan dalam karya-karya Ibn ‘Arabî yang berkaitan dengan berbagai aspek dan kategorisasi gerakan – naik dan turun; gerakan vertikal, horizontal, dan melingkar; gerakan sukarela dan terpaksa; “gerakan” (harakât); gerakan substansial dari penciptaan (generation) dan kehancuran (corruption); dari mimpi ke interpretasinya (ta’bîr); gerakan ritual yang menyertai salat dan ziarah (haji), serta referensi terus-menerus ke tempat-tempat berhenti yang disebut tahapan (manzilah) dan stasiun-stasiun (maqamat) – maka ditemukan bahwa hampir tidak ada halaman dalam berbagai karya Ibn ‘Arabi yang tidak berhubungan dengan perjalanan.
Dua teks Sufi Andalusia Ibn Arabi (1165–1240), “Guru Teragung” (al-Shaykh al-Akbar), kitab al-Isfar dan kitab al-Isra atau kitab al-Mi’raj yang – menyinggung “perjalanan malam hari” atau kenaikan Nabi Muhammad – menggambarkan keadaan dan pengalaman manusia benar-benar terserap atau menyatu dalam Tuhan (Unity in God).
Perlakuan Ibn Arab terhadap tema perjalanan spiritual mencerminkan pendekatan khususnya terhadap Alquran dan hadits serta berbagai ajaran metafisik-teologisnya dan minatnya pada spiritualitas praktis.
Dalam arti yang lebih sempit, penjelasan tentang pengasingan spritual atau retreat (khalwat), sebuah latihan sufi untuk mencapai kehadiran Tuhan melalui pengabaian mutlak dunia, menggambarkan perjalanan menuju Tuhan Yang Mahakuasa, pendakian spiritual melalui semua tahap keberadaan hingga mencapai maqam Hadirat Ilahi. Sebuah pencapaian pada maqam terdekat dalam Stasiun Kedekatan atau Station of Promoximity (Maqam al-Qurbah) di mana hamba dan Tuhan menyatu dalam keintiman tertinggi (intimate).
Dalam kitab al-Isfar yang diterjemahkan ke bahasa Jerman oleh Chalice Verlag, Reise zum Herrn der Macht: Meine Reise verlief nur in mir selbst dan dalam bahasa Inggris oleh Rabia Terry Harris, Journey to the Lord of Power; S Sufi Manual on Retreat, dengan komentar oleh Abd al-Karim al-Jili, Ibn Arabi menyerukan kepada mereka yang ingin berjalan di jalur mistik yang dilalui para sufi untuk menyucikan hati mereka dan menjadi satu dengan esensi batin mereka.
Dengan sangat jelas dan meyakinkan dari bagian-bagian otobiografi, Ibn Arabi juga menjelaskan pengalaman kenaikannya sendiri (mi’raj) dalam bab 367 dari kitab Futuhat, “Perjalanan Hanya dalam Diri Sendiri” yang ia berikan juga tuntunannya dalam kitab al-Isfar yang sudah diterjemahkan ke bahasa Jerman dan Inggris ini.
Kitab al-Isfar adalah kitab yang disusun Ibn ‘Arabi di masa awal kehidupan spiritualnya, ketika Ibn ‘Arabi masih muda. Kitab ini adalah teks abad ke-12 Ibn ‘Arabi yang membahas tentang pendakian spiritual Ibn ‘Arabi, yang ajaran metafisiknya memiliki pengaruh yang mendalam baik di dunia Muslim dan Kristen, dikenal sebagai salah satu penulis puisi cinta mistik terbesar sepanjang masa.
Kitab ini ditulis sebagai jawaban atas pertanyaan seorang sahabatnya. Sebuah panduan yang mencerahkan ini menggambarkan jalur evolusi dari aspirasi spiritual kita yang lebih tinggi – pencarian realitas tertinggi, perjalanan menuju Tuhan.
Kitab ini terutama berkaitan dengan pengasingan (retret) spiritual, praktik sufi yang bertujuan mencapai Hadirat Tuhan melalui pengabaian mutlak dunia.
Sering terjadi, para penempuh jalan spiritual mengalami berbagai godaan yang dapat menjerumuskan, seperti bisikan bahwa salat lima waktu sudah tidak diwajibkan dan kekuatan imajinasi yang menipu lainnya, Ibn ‘Arabi memperingatkan bahwa bentuk pengasingan diri ini tidak boleh dilakukan kecuali atas perintah seorang guru spiritual (shaykh) atau oleh orang yang telah menguasai diri.
Setiap tahap perjalanan disertai dengan godaan yang hanya bisa diatasi dengan keinginan yang tak tergoyahkan akan perjumpaan bersama Tuhan di hadirat-Nya.
Ibn ‘Arabi menjelaskan setiap langkah pendakian menuju kesempurnaan manusia. Dalam perjalanan penemuan jati diri ini, pembaca akan menjumpai alam mineral, tumbuhan, dan hewan, yang akhirnya mencapai Surga dan Arash Yang Maha Pengasih.
Pendaki jalan mistik Sufi dipanggil untuk membersihkan hatinya untuk mencapai tujuan akhir dengan selamat -yaitu untuk mencapai hadirat Yang Mahakuasa (The Lord Power).
Para Sufi memang menggunakan metode pengasingan diri (khalwat) atau meninggalkan kehidupan duniawi (uzlah), dalam istilah al-Ghazali. Mereka yang menempuh jalan ini biasanya memasuki dunia tariqat yang secara teratur dan sistematis di bawah bimbingan guru spiritual (shaykh) melakoni laku spiritual yang tujuan akhirnya menyatu (manunggal) hamba dan Tuhannya.
Saya pribadi, belum bisa melakoni laku spiritual yang diajarkan para sufi. Terkadang ada keinginan, suatu saat, bila diberi umur panjang. Memang apapun ada masanya. Mengapa tidak bersegera karena maut tak tahu kapan datangnya. Memang idealnya demikian, bersegera dan tidak menunda mumpung masih dikasih Tuhan usia. Tetapi seperti kata Ibn ‘Arabi, “Setiap orang memiliki jalannya sendiri yang tidak dilalui orang lain kecuali dirinya sendiri.” Lebih dari itu, saya belum bisa meninggalkan realitas duniawi karena mungkin saya masih mencintai dunia. Setidaknya saya berpikir saat ini saya sedang berada di persimpangan jalan, antara realitas duniawi dan realitas ukhrawi.
Para Sufi, juga filsuf beberapa mengalami persimpangan ini. Al-Ghazali, misalnya, seperti ia kisahkan dalam Penyelamat dari Kesesatan (al-Munqiź min al-Ďalal), sebelum pengasingan dirinya (uzlah), mengakui dominasi cintanya pada dunia: ilmu, jabatan dan popularitas, sebelum akhirnya ia melakukan pengasingan diri untuk mencapai pengetahuan sejati tentang Tuhan (ma’rifah) dan kebahagian yang hakiki. Dan Ibn ‘Arabi melakoni perjalanan spiritual dan mengalami penyingkapan (kashf) rahasia-rahasia ketuhanan sejak usia belia karena ia dalam hidupnya sarat dengan perjalanan spiritual, lebih banyak bergaul dengan orang-orang yang sudah mati serta berkomunikasi sekaligus menerima pengetahuan dari Yang Maha Hidup yang tak pernah mati, al-Haqq, Allah Rabb al-‘Izzati. Wallahu a’lam. -Bogor, 8-4-2021-

No responses yet