Seperti tulisan lalu, dalam sejarah Islam, gara-gara membahas Irodah Gusti Allah, terjadi perpecahan di kalangan umat Islam. Ada beberapa paham sempalan yang disebut Imam Ghozali
1. Paham Qodariyah, paham yang mengingkari adanya Qodho’ Qodar dari Gusti Allah dan menganggap kebaikan dan keburukan itu dari diri manusia sendiri. Dengan kata lain, kata mereka, Gusti Allah cuma mencipta thok, gak ambil pusing sama nasib manusia, manusia menentukan nasibnya sendiri. Masuk surga atau neraka ya mutlak atas usaha manusia.
Dengan pendapat itu, mereka bermaksud mensucikan Gusti Allah. Bahwa adanya kesesatan dan keburukan di dunia, tidak boleh dinisbatkan sebagai kehendak Gusti Allah. Namun pendapat mereka itu keliru. Dengan begitu, artinya Gusti Allah tidak sadar tentang kemungkinan adanya keburukan sehingga abai dengan munculnya kesulitan makhluk-Nya. Gusti Allah artinya tidak punya kuasa atas terwujudnya keburukan. Ini tentu gak masuk akal.
Pendapat mereka bertentangan dengan ayat
فَلَمْ تَقْتُلُوهُمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ قَتَلَهُمْ ۚ وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ رَمَىٰ
“Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Gusti Allah-lah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Gusti Allah-lah yang melempar” (Al Anfaal 17)
2. Paham Jabariyah, yaitu paham yang terlalu ekstrim dalam memandang qodho qodar Gusti Allah. Bahwa semua makhluk sama sekali gak punya kekuatan dan usaha untuk menentukan nasibnya sendiri. Sehingga mencela setiap usaha dan kasab makhluk, karena itu sia-sia bagi mereka.
Dengan pendapat itu, mereka bermaksud mensucikan Gusti Allah dari sifat tidak sanggup menguasai seluruh aspek kehidupan makhluk. Bahkan terdetail dari aspek kehidupan itu murni ditentukan Gusti Allah, manusia cuma kayak boneka yang mati.
Pendapat mereka ini salah, karena dengan begitu, Gusti Allah ini Maha Dzolim karena menakdirkan kesusahan pada makhluk sehingga gak sadar menisbatkan kedzoliman pada-Nya. Artinya, sia-sia segala ciptaan Gusti Allah termasuk setan.
Pendapat mereka bertentangan dengan ayat
أَفَلَمْ يَيْأَسِ الَّذِينَ آمَنُوا أَنْ لَوْ يَشَاءُ اللَّهُ لَهَدَى النَّاسَ جَمِيعًا ۗ وَلَا يَزَالُ الَّذِينَ كَفَرُوا تُصِيبُهُمْ بِمَا صَنَعُوا قَارِعَةٌ
“Maka tidakkah orang-orang yang beriman itu mengetahui bahwa seandainya Gusti Allah menghendaki (semua manusia beriman), tentu Gusti Allah memberi petunjuk kepada manusia semuanya. Dan orang-orang yang kafir senantiasa ditimpa bencana disebabkan perbuatan mereka sendiri” (Ar Ra’d 31)
3. Muktazilah, berpendapat bahwa manusia ini pada dasarnya hanya punya sifat buruk saja, sedangkan kebaikan itu dari Gusti Allah. Sehingga mereka menetapkan bagi manusia untuk ikhtiyar secara totalitas untuk mencapai kebaikan. Ini sama gak masuk akalnya dengan qodariyah.
Nah, sedangkan pendapat yang sesuai dengan Al Qur’an dan Sunnah adalah pendapat ulama mayoritas, yaitu Ahlu Sunnah Wal Jama’ah. Ahlu Sunnah Wal Jama’ah berdiri di tengah-tengah di antara paham-paham sempalan tersebut. Ahlu Sunnah Wal Jama’ah tidak menafikan adanya ikhtiyar dari manusia secara keseluruhan, dan tidak menafikan Qodho dan Qodar Gusti Allah secara keseluruhan. Ahlu Sunnah Wal Jamaah berpendirian bahwa pekerjaan manusia itu bisa dilihat dari 2 perspektif, dari perspektif Gusti Allah dan dari manusia itu sendiri. Sehingga bagi manusia, ikhtiyar itu tidak lepas dari Af’al Gusti Allah, berupa sunnatullah dan sifat jaiz-Nya.
Misal untuk dapat uang, saya berikhtiyar dengan memilih buka warung kopi. Usaha yang saya lakukan itu karena saya tidak punya kuasa melawan sunnatullah yang sudah jadi kewajiban secara kepastian akal, bahwa untuk dapat duit ya secara umum harus bekerja. Lalu ketika saya dapat duit, bukan cuma gara-gara ikhtiyar saya buka warung kopi saja. Namun juga ada faktor gabungan dari rentetan peristiwa lain yang jadi qodho dari Gusti Allah. Misal ada orang ditakdirkan ngantuk di jalan karena semalam begadang, trus biar melek maka dia ngopi dan ditakdirkan ngopi di warung saya. Sehingga terwujudlah satu peristiwa, saya dapat duit.
Nah, dari sini, bisa kita ambil kesimpulan bahwa kita diberi kuasa untuk berusaha oleh Gusti Allah yang lingkupnya terbatas. Sementara itu, ada faktor lain yang butuh Gusti Allah agar tujuan usaha itu terwujud. Maka, Ahlu Sunnah Wal Jamaah berkeyakinan, wujudnya satu peristiwa itu adalah perpaduan antara keterbatasan usaha manusia dengan absolutisme kuasa Gusti Allah.

No responses yet