_”Setengah dari ketaatan adalah meninggalkan maksiat”_
Gus Baha
Banyak yang dapat kita lakukan untuk melakukan ketaatan. Mulai dari menjalankan sesuatu yang diwajibkan hingga yang disunahkan. Baik menjalakan perkara yang diwajibkan agama maupun yang dinilai sunah keduanya adalah dalam rangka melaksanakan perintah.
Melaksanakan perintah agama adalah setengah dari ketaatan. Sehingga siapa yang sedang melaksanakan perintah berarti ia sedang taat. Salat wajib lima waktu misalnya, dan serangkaian sunah seperti sedekah. Setengah ketaatan ini cukup sebagai identitas atau penunjuk hamba yang taat. Sedang untuk menyempurnakan ketaatan diperlukan setengah ketaatan yang lain yakni meninggalkan maksiat.
Mengutip penjelasan Gus Baha, bahwa meninggalkan maksiat merupakan setengah dari ketaatan. Meninggalkan hal-hal yang terlarang seperti zina, mencuri, minum khamr, dan membunuh merupakan bagian dari ketaatan. Sehingga ketika seseorang sedang tidak melakukan larangan agama, berarti ia sedang taat.
Dalam banyak hal dapat kita ambil contoh tentang moment meninggalkan larangan ini. Misalnya saja orang yang sedang tidur, sedang makan, sedang bersendagurau dengan keluarganya. Disaat-saat seperti itulah separuh ketaatan berupa meninggalkan maksiat ini berlangsung.
Meski dikatakan bahwa tidur dan makan adalah perkara yang mubah, namun disaat itulah seseorang tidak maksiat. Sebab itulah, boleh jadi orang yang sedang tidur atau makan dapat dikategorikan sebagai orang yang sedang melangsungkan ketaatan. Meskipun orang yang tidur–kelamaan–juga dapat melakukan dua peranan sekaligus, meninggalkan maksiat juga meninggalkan tanggung jawab.
Demikianlah uraian singkat tentang ketaatan. Semoga dalam pelbagai keadaan kita dapat melangsungkan ketaatan. Minimal dengan tidak bermaksiat.
Wallahu A’lam Bisshawab.
Kediri, 09-03-2021.

No responses yet