Penulis: Nadya Nova Fitriani, Ibnu Rivan Saputra (Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA)
Pengertian Keluarga Sakinah
Dalam surah Ar-Rûm (30 : 21), Allah menjelaskan bahwa tujuan diciptakannya seorang istri adalah agar suami dapat membangun sebuh keluarga sakinah, yaitu keluarga yang harmonis, bahagia lahir batin, hidup tenang, tenteram, damai, dan penuh dengan kasih sayang. Istilah “keluarga sakînah” merupakan penjabaran dari ayat tersebut. Dalam al-Qur’an, istilah “sakinah” digunakan untuk menggambarkan kenyamanan keluarga, yang memiliki akar kata yang sama dengan “sakanun”, yang berarti tempat tinggal. Oleh karena itu, mudah dipahami bahwa istilah itu digunakan dalam al-Qur’an untuk menggambarkan tempat di mana setiap anggota keluarga dapat beristirahat dalam suasana yang nyaman dan tenang, yang akan menumbuhkan cinta kasih (mawaddah wa rahmah) di antara mereka. Keluarga sakînah terdiri dari rasa cinta (mawaddah) suami-istri yang kemudian berkembang menjadi kasih sayang (rahmah) yang dimiliki oleh setiap keluarga seiring bertambahnya anggota keluarga, yang menghasilkan ketenangan dan kedamaian dalam hidup.
Menurut Aa Gym, ada beberapa tanda yang dapat menyebabkan keluarga menjadi sakinah (bahagia). Pertama, dengan menjadikan keluarga yang ahli sujud, ahli taat, menghiasi dirinya dengan dzikrullâh, dan selalu ingin menunjukkan kemuliaan di dunia ini, terutama di hadapan Allah swt. Kedua, menjadikan rumah sebagai pusat pembelajaran. Pastikan setiap keluarga benar-benar meneliti. ilmu yang berkaitan dengan dunia dan akhirat. Ketiga, tempatkan rumah Anda sebagai tempat untuk berkonsultasi. semua anggota keluarga harus sadar bahwa mereka membutuhkan orang lain agar mereka dapat memperbaiki kesalahan mereka. Keluarga yang bahagia adalah keluarga yang menggunakan kekayaanya untuk saling menasehati, memperbaiki, dan mengkoreksi satu sama lain, serta dalam kebenaran dan kesabaran. Keempat, rumah harus menjadi tempat kemuliaan.
Pengertian Pola Asuh
Pola asuh orang tua adalah perilaku pengasuhan dengan muatan tertentu dan memiliki tujuan sosialisasi. Dengan kata lain, praktik pengasuhan (Parenting Practice) dapat di konseptualkan sebagai sistem interelasi yang dinamis yang mencakup pemantauan, pengelolaan perilaku, dan kognisi sosial dengan kualitas relasi orang tua – anak sebagai pondasinya.
Pola asuh orang tua dalam keluarga merupakan hal yang terpenting dalam pembentukan kepribadian anak. Dengan adanya sebuah pola asuh, orang tua dapat mendidik, membimbing dan mengarahkan serta mengawasi anak-anak mereka dalam bertindak dan bersikap agar tidak melakukan perbuatan yang negatif Pola Asuh telah memberikan mana gaya pengasuhan yang yang efektif dan kurang efektif untuk mengajari dan mendorong anak-anak dan remaja mengembangkan sikap dan perilaku yang lebih prososial
Pola Asuh Menurut Perspektif Islam
Islam mengajarkan bahwa anak merupakan anugerah atau amanah yang diberikan Allah
SWT, yang mana sebagai orang tua tentunya amanah ini harus dijaga dengan menjalankan apa yang telah diperintahkan oleh Allah SWT dan RasulNya. Akan tetapi, dalam penerapannya seiring dengan berkembang berbagai manca ideologi yang tidak berlandaskan nilai-nilai Islam, banyak Orang tua yang lalai dalam menjalankan pola asuh Islam, ditandai dengan adanya pemaksaan atau kehendak orang tua tanpa mempertimbangkan keadaan anak
Anak adalah anugerah. Di dalam al-Qur’an dikatakan sebagai perhiasan hidup, “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia…” (QS. al-Kahfi: 46). Artinya, jika hidup kita tanpa perhiasan, semuanya akan terasa suram. Untuk itu kita patut bersyukur atas nikmat Allah yang dititipkannya melalui anak-anak kita. Rasa syukur itu dapat kita wujudkan dengan mengasuh dan mendidik mereka berlandaskan fitrah dan kasih sayang. Selain sebagai anugerah, anak diberikan kepada orang tuanya sebagai amanah ”berat” untuk dipelihara, dididik dan dibina agar berkualitas dan tangguh. Seperti diperintahkan dalam al-Qur’an yang artinya, “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar” (QS. an-Nisâ: 9)
Penjelasan M. Thalib (2007) menggambarkan kepada orang tua agar menanamkan
sebuah prinsip atau tekad yang kuat kepada anaknya untuk senantiasa menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi segala laranganNya, karena jika tanpa ini maka semua yang dilakukan akan menjadi sia-sia. Oleh karena itu, pemahaman keagamaan menjadi mutlak untuk dipahami oleh orang tua agar mampu menerapkan 5 metode pola asuh yang diutarakan oleh Abdullah Nashih Ulwan, yaitu: Metode Keteladanan adalah suatu metode yang paling meyakinkan keberhasilannya dalam mempersiapkan dari membentuk anak dalam moral, spiritual, dan sosial. Anak akan selalu meniru dan meneladani sikap orang dewasa, jujur orangtua demikian pada anaknya
Macam-Macam Pola Asuh
Menurut Diana Baumrind dalam Santrcok, J.W (2007), terdapat macam-macam Pola asuh orang tua, yaitu :
a. Pengasuhan Authoritarian atau Otoriter adalah gaya pengasuhan yang membatasi atau menghukum. Dimana orang tua mendesak anak untuk mengikuti arahan mereka dan menghormati pekerjaan dan upaya mereka. Orang tua yang otoriter menerapkan batas dan kendali yang tegas dan meminimalisasi perbedaan verbal. Orang tua otoriter cenderung sering memukul anak, memaksakan aturan secara kaku tanpa menjelaskanya, dan menujukkan amarah kepada anak. Anak dari orang tua yang otoriter seringkali tidak bahagia, katakutan dan minder ketika membandingkan diri dengan orang lain, tidak mampu memulai aktivitas dan memiliki kemampuan komunikasi yang lemah. Anak dari orang tua yang otoriter cenderung berperilaku agresif.
b. Pengasuhan Authoritatif atau Demokratik mendorong anak untuk mandiri namun masih menerapkan batas kendali pada tindakan mereka.Tindakan verbal memberi dan menerima dimungkinkan, dan orang tua bersikap sangat hangat dan penyayang pada anak. Orang tua Otoritatif menunjukkan kesenangan dan dukungan sebagai respon terhadap perilaku konstruktif anak. Mereka juga mengharapkan perilaku anak yang dewasa, mandiri sesuai dengan usianya. Anak yang memiliki orang tua otoritatif seringkali ceria, bisa mengendalikan diri dan mandiri, dan berorientasi pada prestasi.
c. Pengasuhan yang menuruti atau Permisif adalah gaya pengasuhan dimana orang tua sangat terlibat dengan anak, namun terlalu menuntut atau mengontrol mereka. Orang tua semacam ini membiarkan anak melakukan apa yang ia inginkan. Hasilnya, anak tidak pernah belajar mengendalikan keinginannya. Beberapa orang tua sengaja membesarkan anak mereka dengan cara ini karena mereka percaya bahwa kombinasi antara keterlibatan yang hangat dan sedikit batasan akan menghasilkan anak yang kreatif dan percaya diri. Namun anak yang memiliki orang tua yang selalu menurutinya, jarang belajar menghormati orang lain dan mengalami kesulitan untuk megendalikan perilakunya. Mereka mungkin mendominasi, egosentris, tidak menuruti aturan, dan kesulitan dalam hubungan dengan teman sebaya.
d. Pengasuhan yang mengabaikan adalah gaya di mana orang tua sangat tidak terlibat dalam kehidupan anak. Anak yang memiliki orang tua yang mengabaikan merasa bahwa aspek lain kehidupan orang tua lebih penting dari pada diri mereka. Anak-anak ini cenderung tidak memiliki kemampuan sosial. Banyak diantaranya memiliki pengendalian diri yang buruk dan tidak mandiri. Mereka sering kali memiliki harga diri yang rendah, tidak dewasa dan cenderung terasing dari keluarga. Dalam masa remaja, mereka mungkin menunjukkan sikap membolos dan nakal.
Pola Asuh yang Benar Dalam Keluarga Sakinah
Keluarga yang bahagia sangat penting untuk perkembangan emosional anggota keluarga, terutama anak-anak. Keluarga dapat memainkan peran mereka dengan baik, yang membawa kebahagiaan ini. Mengembangkan hubungan keluarga yang kuat, rasa memiliki, rasa aman, dan kasih sayang adalah tugas utama keluarga. Para ahli pendidikan setuju bahwa kebaikan, kelembutan, dan kasih sayang yang tulus adalah komponen penting dalam mendidik anak. Dalam hubungan keluarga, cinta kasih bukan hanya perasaan; itu juga mencakup pemeliharaan, rasa tanggungjawab, perhatian, pemahaman, respek, dan keinginan untuk mengembangkan anak dan setiap anggota keluarga.
Mewujudkan kasih sayang dalam keluarga dengan hormat-menghormati, sopan santun, dan tanggung jawab (kewajiban) antara suami dan istri, serta suami dan istri sebaliknya. Keluarga dapat menjadi mawaddah wa rahmah dengan memenuhi kewajiban dan hak setiap anggota. Kedua harus mempertimbangkan tanggung jawab. Daya cipta suami dan istri untuk menciptakan cinta kasih sayang dalam semua aspeknya; cinta yang memiliki dasar yang kuat dan mampu mengatasi hubungan yang semata-mata berfokus pada kepuasan fisik; cinta yang menyatukan dan mengisi kedua individu yang berbeda. contoh dalam mendidik anak untuk melaksanakan shalat lima waktu apabila anak sudah mencapai umur tujuh tahun dan sulit untuk diperintahkan mendirikan shalat maka orng tuanya boleh memukulnya dengan syarat memeuluk tanpa melukainya, sebagaimana hadits dibawah ini. Jika harus menggunakan hukuman fisik, harus terarah dan terkendali. Rasulullah saw bersabda, : “Suruhlah anak-anakmu mengerjakan sholat pada usia 7 tahun dan pukullah mereka (tapi tidak melukai) pada usia 10 tahun bila mereka tidak sholat.” (HR al-Hakim dan Abu Dawud).
Kesimpulan
Pola asuh anak dalam keluarga sakinah sangat penting untuk membentuk kepribadian dan karakter anak. Keluarga sakinah, yang merupakan keluarga harmonis dan penuh kasih sayang, menjadikan pengasuhan sebagai bagian integral dari pengembangan emotional dan spiritual anak. Dalam konteks Islam, anak dipandang sebagai amanah yang harus dijaga dan dididik sesuai dengan nilai-nilai agama.
Pola asuh yang baik mencakup empat gaya utama: otoriter, otoritatif, permisif, dan mengabaikan, dengan gaya otoritatif dianggap paling efektif dalam mendukung perkembangan anak. Keluarga yang bahagia dapat menciptakan lingkungan yang aman dan penuh kasih, di mana anak merasa dihargai dan didukung. Metode keteladanan menjadi sangat penting, di mana orang tua harus menjadi contoh yang baik bagi anak-anak mereka.
Akhirnya, penerapan nilai-nilai keagamaan dan kasih sayang dalam pola asuh akan menghasilkan generasi yang berkualitas, tangguh, dan mampu menghadapi tantangan kehidupan dengan baik.

No responses yet