Tentu saja ada banyak bagian dari buku ini yang penting kita omongkan di sini. Tetapi di yang penting itu, beberapa potongan pada bagian pendahuluan justru paling menarik bagi saya. Bagaimana Mas Trisno pertama kali menerima kenyataan betapa tak adilnya kehidupan di dunia yang fana ini? Menjadi Cina dan orang Kristen. Hidup harus berpindah-pindah, tak ber-KTP dalam jangka lama, memiliki KK yang hanya tertera nama istri dan anak, belakangan tumbuh menjadi aktivis dialog lintas iman.
Keyakinan saya tentang ini mungkin di atas 80 persen: pada suatu masa, ia mungkin menjadi bagian dari kelompok intoleran –dalam pengertian bersikap tidak menghargai dan menolak hak-hak kelompok-kelompok yang tidak disukainya –terutama pada kelompok yang membuatnya terdiskriminasi. Bukankah banyak dari kita mengalami fase intoleransi dan pengalaman perjumpaan baik fisik maupun pikiran membuat kita menjadi manusia yang lebih toleran.
Jika keyakinan saya itu benar, maka saya semakin yakin dengan hipotesis ini: untuk menjadi toleran, umumnya orang akan melewati fase intoleran. Para nelayan pada umumnya pernah menghadapi ombak bahkan badai, setiap penumpang pesawat pada umumnya pernah merasakan guncangan awan.
Itulah mengapa survei dan kajian-kajian menyebut, jumlah individu dan kelompok intoleran terhadap kelompok yang tak mereka sukai mayoritas. Perkembangan media sosial yang tak banyak tertangkap dari banyak tulisan ini hampir memaksa orang bertemu pada ide yang berbeda bahkan tak disukai. Dengan begitu, risiko bersikap intoleran di media massa makin membengkak.
Mengapa ombak terjadi, di musim apa ia muncul, bagaimana strategi mengarungi lautan dalam suasana semacam itu, dapat membuat kita bisa mengerti bagaimana menjadi nelayan yang andal dan tak karam di lautan. Begitulah contoh bagaimana memahami intoleransi. Jika keyakinan saya di atas tampak masuk akal, maka seharusnya kita bisa lebih proporsional memahami ancaman, jenis, pola, dan cara mengatasi intoleransi. Mungkin saja masalahnya tak separah yang kita bayangkan.
Beberapa bagian buku ini sebetulnya berusaha memberi kita pemahaman tentang cuaca toleransi dan intoleransi dalam payung politik kebinekaan. Ada banyak isu yang dibicarakan dari tantangan dalam menafsirkan Pancasila, menegakkan kebebasan beragama, pluralisme kewargaan, sekularisme, dan dialog lintas iman. Tapi, jika diperas penjelasannya di dalamnya mungkin satu saja hubungan negara-agama. Kalau agama boleh diringkas lagi, sebetulnya hanya tersisa tentang peran gereja.
Ia memang mengatakan ini. “Saya tak punya latar belakang pendidikan teologis formal dan bukan pula pejabat gerejawi, saya tak punya kapasitas untuk itu. Tapi jika Anda baca baik-baik, Anda sepandangan dengan saya sebetulnya ia begitu menyintai agama dan gereja.
Kalimulya, 9 Februari 2021

No responses yet