Penyematan radikal atas Din Syamsuddin adalah tragedi demokrasi —simbol ketidak tahuan dan kebodohan. Siapapun pelakunya. Ini bagian konspirasi paling buruk, intimidasi ideologis yang melahirkan keresahan umum. Din radikal adalah ikhtiar menciptakan stereotipe simplistis untuk menunjukkan wajah buruk Islam-(the rage of Islam). 

*^^^^*

Dalam sebuah tata krama demokrasi ikhtiar membangun keseimbangan adalah kebutuhan— berbeda ketika penguasa dibenam takut karena banyak soal disembunyikan. Eropa abad tengah adalah contoh buruk ketika bui di isi penuh dengan siapapun yang dianggap musuh negara atas dasar kriminalisasi. 

Diantara agama-agama yang ada mungkin hanya Islam yang banyak dipertentangkan—-dizalimi dan ditindas secara teologis. Pemimpin Islam kerap diperkusi dengan tidak adil atas nama kebebasan dan kemerdekaan beragama yang dibangun. 

Tesis Samuel Huntington tentang benturan peradaban bukan hanya masih ada  tapi makin relevan—

Islam menjadi agama yang paling sering mendapat perlakuan buruk bahkan secara sosiologis, Islam juga mengalami penindasan penjajahan fisik dan pembunuhan karakter. 

*^^^^*

Kolonialisme dan imperialisme barat atas negara-negara Islam di Asia Afrika dan Timur-Tengah setidaknya telah membuat hubungan Islam dan Eropa Kresten terus memburuk. 

Barat tetap saja arogan, bahkan hingga paruh pertama abad 21 tak ada tanda-tanda iktikad baik negara barat Kresten memperbaiki hubungan, bahkan sebaliknya bentuk penindasan dan penjajahan terhadap negara-negara Islam kian buruk dan variatif. Artinya secara teologis Islam ditempatkan sebagai musuh bersama, yang diberi cap sebagai musuh kemanusian dan peradaban. 

Samuel Huntington memberi batasan tegas tentang Tesis benturan peradaban. Islam digambarkan sebagai agresor. Benturan yang paling keras – menurut Huntington – akan terjadi antara kebudayaan Kresten Barat dengan kebudayaan Islam. Tesis tersebut secara tidak langsung memperkuat asumsi sebagian besar ilmuwan Barat yang melihat Islam sebagai aggression and hostility (agresi dan ancaman).

*^^^*

Jihad dan radikal—Dua kata ini selalu dikaitkan dengan Islam dan diperskusi sedemikian rupa—seperti hantu dan melahirkan phobia. Kemudian dicarikan bentuknya secara fisik: celana cingkrang, jenggut dan cadar dipadankan dengan khilafah, radikal ekstrim  dan segala upaya untuk mengubah dasar Pancasila. 

Kafer dan jihad sering digunakan secara simpang siur—kerap melahirkan pemahaman dekonstruktif. Dan keburu menjadi citra buruk (The rage of Islam). Kabar buruknya adalah, penggunaan idiom radikal, ekstrim dan fundamentalis jauh menyimpang dari makna teologis dan diseret pada wilayah politis. 

Politisasi inilah yang kemudian banyak merepotkan, sebab digunakan untuk menunjuk pada lawan politik. Bahkan melebar pada istilah teknis lainnya semisal radikal, ekstrim, teroris, fundamentalis dan lainnya yang di gunakan hanya untuk sekedar membedakan lawan politik, bukan yang ideologis. Ironisnya kemudian tidak bisa membedakan kapan digunakan secara politis dan kapan teologis—sebuah pemisahan yang tidak mungkin ditengah politik identitas. 

Sayangnya kebanyakan tak mau bersabar dan berpikir proporsional. Bahkan anehnya lagi—pertengkaran penggunaan istilah kafer misalnya lebih seru dikalangan sesama muslim yang berbeda pilihan politiknya ketimbang dengan kafer generik. 

*^^^*

Bisa saja ini bagian dari rencana barat untuk mendekonstruksi Islam yang dipersepsi sebagai ancaman—digambarkan sebagai kill everithing—membunuh semua sistem baik teologis dan sosial—karena bentuk azali nya memang demikian—karena nya Islam harus dilemahkan secara struktural dan teologis. 

Maka perlawanan tak hanya cukup dengan fisik tapi butuh perlawanan konseptual sentrifugal, membuat opini bukan sebatas komentator untuk mematahkan image buruk yang mereka bangun. Pemikiran-pemikiran Fazhlurahman, Syeid Husen Nashr, Nurcholis Madjid, Chandra Muzhafar, Mahathir Muhammad, Ziauuddin Sardar, Syafii Maarif, Din Syamsudin punya sumbangan besar untuk menjelaskan kepada Barat apa itu Islam meski di internal Islam para pemikir ini dicap liberal, di eksternal disebut  radikal dan dimusuhi —-itulah intimidasi ideologi yang nyata. 

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *