Oleh: Salfanindita Aiskha Dharmadi dan Nihla Filza Haliza (Mahasiswi Program Studi Psikologi, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka)
salfaaiskha@gmail.com lizanihla@gmail.com
Kecemasan adalah manifestasi dari berbagai proses emosi yang sedang bercampur baur, yang terjadi ketika orang sedang mengalami tekanan perasaan (frustasi) dan pertentangan batin (konflik). Kecemasan itu mempunyai segi yang disadari seperti rasa takut, terkejut, tidak berdaya, rasa berdosa atau bersalah, terancam dan sebagainya. Kecemasan merupakan perasaan subyektif yang mempunyai reaksi terhadap pengalaman yang tidak mengenakkan diri. Apabila pengalaman tersebut disimbolisasikan dan dimasukkan ke dalam ketidaksadaran dapat menyebabkan konsep diri dari individu berubah (Darajat, 1978). Menurut Freud mendefinisikan kecemasan merupakan situasi afektif yang dirasa tidak menyenangkan yang diikuti oeh sensasi fisik yang memperingatkan seseorang akan bahaya yang mengancam. Perasaan yang tidak menyenangkan ini biasanya samar- samar dan sulit dipastikan, tetapi selalu dirasa.
Semua orang pasti pernah merasakan kecemasan dan tidak dapat segera mengatasinya atau ketidakmampuan menghilangkan perasaan cemas, ketika dalam keadaan seperti itu setiap orang pasti
mendambakan ketenangan batin, mencapai ketenangan batin bukanlah hal yang mustahil. Allah swt. Ajarkan kita langkah nyata mendapatkan ketenangan hati yaitu dengan selalu mengingat-Nya hati akan tentram. Sebaliknya ketika jarang mengingat Allah hati akan kering dan gersang. Bila dikaji secara mendalam, maka sesungguhnya dalam agama Islam banyak ayat maupun hadis yang memberikan tuntunan agar manusia sehat seutuhnya, baik dari segi fisik, kejiwaan, sosial maupun kerohanian.
Dalam Al-Quran surat Ar-Ra’du ayat 28, Alloh berirman yang artinya : (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah- lah hati menjadi tenteram.
Dari ayat tersebut dapat di jelaskan bahwa Ayat tersebut menegaskan bahwa dzikir adalah sebuah metode yang bersumber langsung dari Tuhan.
Dzikir disini diposisikan sebagai kehidupan yang mampu menenangkan gejolak kejiwaan yang dialami sesorang (Al-Jauziyah, 2002).Dzikir (dzukru) menurut bahasa
adalah ingat. Menurut istilah adalah mengingat Allah SWT dengan maksud untuk mendekatkan diri kepadanya
Kamila, Psikoterapi Dzikir Dalam …
(Abdul, 2017). Menurut Hasan Al-Bana seorang tokoh Ikhwanul Muslimin dari Mesir sebagaimana yang dikutip oleh Ahmad Syafi’i menyatakan bahwa ”semua apa saja yang mendekatkan diri kepada Tuhan dan semua ingatan yang menjadikan manusia dekat dengan tuhan adalah berdzikir” Achmad, 1985). Dzikir merupakan salah satu teknik psikoterapi tahap takhalli dalam psikoterapi islam (Subandi, 2014). Adapun psikoterapi Islam adalah proses pengobatan dan penyembuhan suatu penyakit, baik itu mental, spiritual, moral maupun fisik dengan menggunakan ajaran-ajaran Islam sebagai dasar dalam proses penyembuhan suatu penyakit fisik maupun psikis yang bersumber pada Al Qur’an dan As Sunnah. Dalam masyarakat islam, fungsi sebagai psikoterapis banyak diperankan oleh para tokoh agama, ulama, atau kyai.
Berdasarkan uraian di atas maka yang di maksud dengan psikoterapi dzikir dalam artikel ini adalah suatu teknik pengobatan jiwa baik secara fisik maupun psikis dengan membangun semua unsur jiwa dan perilaku manusia (muslim) sehingga dapat mencerminkan nilai-nilai dan norma-norma agama Islam guna mendapat arti kehidupan atau makna hidup, sehingga mendapatkan ketenangan dan keseimbangan jiwa.
Manfaat dzikir
Banyak sekali manfaat dari dzikir kepada Allah SWT. Yang diterangkan semdiri oleh Allah SWT dalam kitabnya Al-Qur’an ataupun diterangkan dalam hadist Nabi Saw. Diantaranya manfaat dzikir itu adalah :
a. Dapat menentramkan hati
b. Mendapat ampunan dan pahala
besar
c. Menghapus keburukan dan dosa
d. Memudahkan datangnya
pertolongan dari Allah
Menurut Anshori (2015)
Dzikir bermanfaat mengontrol perilaku. Pengaruh yang ditimbulkan secara konstan,mampu mengontrol prilaku seseorang dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang yang melupakan dzikir atau lupa kepada Tuhan, terkadang tanpa sadar dapat berbuat maksiat, namun mana kala ingat kepada Tuhan kesadaran akan dirinya sebagai hamba Tuhan akan muncul kembali.
Dzikir juga bermanfaat sebagai permbersih hati. Dzikir merupakan lawan dari kelalaian (nisyan), jika manusia mengingat Allah dalam keadaan apapun dan menyadari dirinya ada dihadapan dzat suci, tentu akan menahan diri dari maslaah-masalah yang tidak sesuai dengan keridhaan-Nya, dan mengendalikan diri agar tidak bersikap durhaka. Semua malapetaka dan penderitaan yang ditimbulkan oleh hawa nafsu dan setan, disebabkan oleh kelupaan akan Allah. Ingat Allah dapat membersihkan hati dan menyucikan jiwa.
Menurut Abdullah Dzikir mempunyai manfaat yang besar terutama dalam dunia modern seperti sekarang,
manfaat dzikir dalam kehidupan antara lain:
Dzikir sebagai terapi jiwa
Islam sebagai agama rahmatan lil alamin menawarkan suatu konsep dikembangkannya nilai-nilai ilahiah dalam batin seseorang. Shalat misalnya yang didalamnya terdapat penuh doa dan dzikir, dapat di pandang sebagai malja disinilah misi Islam untuk menyejukkan hati manusia. Dzikir fungsional, akan mendatangkan manfaat, antara lain mendatangkan kebahagiaan, menentramkan jiwa, obat penyakit hati dan sebagainya.
Dzikir menumbuhkan energi akhlak
Dzikir tidak hanya dzikir substansial, namun dzikir fungsional. Dengan demikian, betapa penting mengetahui, mengerti (ma’rifat) dan mengingat (dzikir) Allah, baik terhadap nama- nama maupun sifat-sifat-Nya , kemudian maknanya ditumbuhkan dalam diri secara aktif, karena
.Dzikir memantapkan iman
Jiwa manusia akan terawasi oleh apa dan siapa yang selalu melihatnya. Ingat kepada Allah berarti lupa kepada yang lain, ingat yang lain berarti lupa kepada-Nya. Melupakan- Nya akan mempunyai dampak yang luas dalam kehidupan manusia.
Dzikir dapat menghindarkan dari bahaya
Dalam kehidupan ini, seseorang tak bisa lepas dari kemungkinan datangnya bahaya. Hal ini dapat diambil pelajaran dari peristiwa Nabi Yunus As yang tertelan ikan. Pada saat seperti itu Yunus As berdoa: la ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minadh dhalimin (tiada Tuhan selain engkau,maha suci engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang dhalim). Dengan doa dan dzikir itu Yunus As dapat keluar dari perut ikan.
Dzikir sebagai terapi jiwa
Islam sebagai agama rahmatan lil alamin menawarkan suatu konsep dikembangkannya nilai-nilai ilahiah dalam batin seseorang. Shalat misalnya yang didalamnya terdapat penuh doa dan dzikir, dapat di pandang sebagai malja disinilah misi Islam untuk menyejukkan hati manusia. Dzikir fungsional, akan mendatangkan manfaat, antara lain mendatangkan kebahagiaan, menentramkan jiwa, obat penyakit hati dan sebagainya.
Dzikir menumbuhkan energi akhlak
Pada saat ini dzikir yang dapat menumbuhkan iman dapat menjadi sumber akhlak. Dzikir tidak hanya dzikir substansial, namun dzikir fungsional. Dengan demikian, betapa penting mengetahui, mengerti (ma’rifat) dan mengingat (dzikir) Allah, baik terhadap nama- nama maupun sifat-sifat-Nya , kemudian maknanya ditumbuhkan dalam diri secara aktif, karena sesungguhnya iman adalah keyakinan dalam hati, diucapkan dalam lisan dan direalisasikan dalam amal perbuatan.
cara berdzikir bisa dengan ucapan (lisan), dengan hati dan perbuatan. Dzikir dengan ucapan atau lisan, yaitu dzikir dengan cara menyebut asma Allah atau dengan mengucapakan kalimat-kalimat thayyibah dengan lisan atau ucapan, sehingga setiap kali kita menyebut semakin bertambah keimanan kita terhadap Allah SWT.
Dzikir yang di maksudkan ialah ucapan yang dilakukan dengan lidah atau mengingat tuhan dengan hati, dengan ucapan atau ingatan yang mempersucikan tuhan dan membersihkannya dari pada sifat-sifat yang tidak layak untuknya, selanjutnya memuji dengan puji-pujian dan sanjungan-sanjungan dengan sifat-sifat yang sempurna, sifat-sifat yang menunjukan kebesaran dan kemurnian (Atjeh, 1993).
Dzikir membantu individu membentuk persepsi yang lain selain ketakutan, yaitu keyakinan bahwa
semua konflik akan dapat dihadapi dengan baik dengan bantuan Allah SWT. Saat seorang membiasakan berzikir, ia akan merasa dirinya dekat dengan Allah SWT, berada dalam lindungan-Nya yang kemudian akan membangkitkan percaya diri, kekuatan, perasaan aman, tentram dan bahagia. Secara biopsikologi, zikir akan membuat seseorang merasa tenang sehingga menekan kerja sistem syaraf simpatetis dan mengaktifkan kerja syaraf parasimpatetis (Perwitaningrum, .)2016
.Proses Psikoterapi Dzikir
Adapun proses psikoterapi dzikir
adalah sebagai berikut :
1) Diawali membaca istighfar :
استغفر الله
Astaghfirullaah (3x) 2) Lalu membaca :
اللهم انت السلم ومنك السلم تبركتربنا يا ذالال والئكرم Allahumma antas salaam, wa minkas salam, tabaarakta ya dzal jalaali wal ikraam (1x)
3) Lalu membaca
اللهم لا مانع لما اعطيت ولامعطي لما منعت ولاينفع ذالجد منك الجد Allahumma antas salaam, wa minkassalaam, tabaraktarabbana ya dzaljalaali wal ikram (1x)
4) Lalu membaca tasbih, tahmid
dan takbir Tasbih (الله سبحان), Subhanallah (33x) Tahmid (لل Alhamdulillah (33x)
,)الحمد
Takbir (اكبر الله), Allahu Akbar (33x)
dilengkapi dengan :
لاإله إالله وحده لا شريكله له الملك وهو علي كل شيء قدير
Lailaahaillallahu wahdahu laa syarikala, lahul mulku walahulhamdu wahuwa ‘ala kulli syaiin qadir (1x)
5) Dilanjutkan dengan do’a penutup sesuai dengan apa yang diharapkan
Melihat beberapa proses dzikir tersebut, maka dzikir dalam batasan ini membahas tentang psikoterapi dzikir dalam menangani kecemasan
Kesimpulan
Psikoterapi zikir merupakan salah satu alternatif terapi yang dapat membantu penderita gangguan kecemasan mengakhiri gangguan psikis. Melalui psikoterapi zikir, akan diperoleh efek ketenangan bagi pelakunya, kepasrahan yang mendalam terhadap Allah tentang kekuasaan dan kasih sayang-Nya yang tersirat dari kalimat thayyibah yang diucapkan berkali-kali dalam kegiatan zikir sehingga seseorang tidak merasa takut, khawatir dan cemas dalam menjalani masa tua mereka. Selain itu, melalui zikir, terbangun sugesti positif yang berkontribusi dalam menciptakan keyakinan, kekuatan dan sikap optimisme bagi diri seseorang dalam mengahadapi masa tua mereka secara lebih baik dan berkualitas.
Daftar Pustaka
Abdul, Hayat. Bimbingan Konseling Qur’ani. yogyakarta: pustaka
pesantren, 2017.
Ahmad, Syafi’i. Dzikir Sebagai Pembina Kesejahteraan Jiwa. Surabaya: Bina Ilmu, 1985.
Amin, and Fathimah Utsman Syukur. Insan Kamil Paket Pelatihan Seni Menata Hati. (SMH) LEMBKOTA, n.d.
Atjeh, Abu Bakar. Pengantar Ilmu Tarekat. Solo: Ramadhani, 1993.
Corey, Gerald. Teori & Praktek Konseling & Psikoterapi. Bandung: Refika Aditama, 2005.

No responses yet