Imam Ghozali menyebut bahwa perintah ibadah puasa sebagai pintu masuk jadi abdi Gusti Allah itu dalam rangka untuk mengatasi 2 hal :

1. Melatih diri agar bisa menjaga nafsu dan syahwat diri sendiri. Yaitu melatih mengeluarkan rasa ihsan, bagaimana diri ini merasa dilihat oleh Gusti Allah di setiap detik.

Latihan untuk mengeluarkan rasa ihsan yang efektif adalah lewat puasa. Karena puasa itu ibadah sirri (rahasia). Hanya Tuhan dan orang yang melakukannya yang tahu. Saat puasa, komitmen kita langsung pada Gusti Allah. Sehingga berhasil tidaknya, tergantung tekad seseorang dalam melawan dirinya sendiri.

Misal kita puasa Ramadhan. Sebenernya kita bisa aja siang-siang buka kulkas trus minum dikit. Toh gak ada yang tau dan gak ada yang peduli. Tapi kita gak lakukan itu, karena kita punya ihsan. Kita merasa sungkan pada Gusti Allah, karena Dia pasti melihat kita. Rasa ihsan ini digunakan untuk melawan diri kita sendiri.

Nah, kalo rasa sungkan dalam puasa ini kita aplikasikan di tiap kesempatan, di tiap bidang, bahkan saat tidak berpuasa, artinya kita telah berhasil mengekang nafsu dan syahwat kita sendiri. Kita akan terbiasa sungkan untuk berbuat jahat, karena terus merasa dilihat Gusti Allah.

2. Sebagai senjata untuk melawan musuh Gusti Allah, yaitu setan.

Prinsipnya, seperti mengatasi virus covid yg sumber kekuatannya adalah glukosa dalam tubuh kita. Maka strateginya, kita harus mencegah glukosa terlalu banyak masuk. Kita harus puasa, melaparkan diri dari glukosa dan memperbanyak zat lain.

Nah, sumber kekuatan setan dalam diri adalah syahwat yang terus dituruti. Maka, untuk mengalahkannya, kita harus menahan dan meminimalisir segala pintu syahwat yang memperkuat setan. Yaitu dengan melaparkan diri dan memperbanyak hal lain.

Kanjeng Nabi Muhammad SAW dawuh

إن الشيطان ليجري من ابن آدم مجرى الدم فضيقوا مجاري الشيطان بالجوع

“Sesungguhnya setan itu benar-benar mengalir dalam darah bersama aliran darah anak Adam. Maka persempitlah aliran setan itu dengan lapar”

Saat setan itu melemah karena syahwat yang terus ditahan, kita perbanyak hal yang lain yang menyelisihi syahwat. Sehingga pikiran kita teralihkan dari syahwat yang menggoda. Saat terlalu banyak diselisihi, lama-lama syahwat bosan untuk muncul.

Nah, cara menahan syahwat yang paling efektif adalah puasa. Dengan puasa, kita membersihkan syahwat (bertakholli). Yaitu belajar menahan syahwat makan, minum, sex, syahwat lisan, mata, telinga yang jadi sumber tenaga setan jadi kuat dalam diri kita. Setelah kita bertakholli dengan puasa, kita isi (bertahalli) dengan hal-hal menyelisihi syahwat seperti ngaji, ibadah atau tidur.

Kalau ini terus konsisten dan jadi mindset, maka kita akan ketemu hakikat dari segala pengabdian pada Gusti Allah itu sendiri. Terbuka segala pintu kebaikan, terkunci segala pintu keburukan dan setan terbelenggu dalam diri kita. Dan kita pun punya harapan jadi abdi Gusti Allah.

Mugi manfaat.

#AyoNyarkub #ArbainFiUshuliddin #ImamGhozali

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *