Pusara Cut Nyak Dien Di Sumedang

5
345

Jelajah A Ginanjar Sya’ban

Pada 2 Juli 2019 pekan lalu, saya dan sahabat saya Muhammad Tabrani Basya menziarahi makam Cut Nyak Dien, perempuan pahlawan besar dari Aceh, yang terdapat di komplek pemakaman para Bupati Sumedang di Gunung Puyuh, Sumedang, Jawa Barat.

Pada 11 Desember 1906, dua tahun setelah masa Perang Aceh berlalu (1873-1904), Cut Nyak Dien, salah satu tokoh terpenting dalam sejarah perang tersebut, ditangkap Belanda dan dibuang ke Sumedang di wilayah Priangan (Jawa Barat). Namun, Belanda membuang perempuan paling berpengaruh yang sudah beranjak tua dan kabur penglihatannya itu secara sembunyi-sembunyi.

Adalah Pangeran Aria Soeria Atmadja, penguasa lokal (bupati) Sumedang ke-XX (memerintah sepanjang 1882-1919), yang “mengambil alih” urusan tawanan perang dari Aceh itu. Pangeran Aria Soeria Atmadja adalah bupati yang dikenal sangat dekat dengan ulama dan secara terbuka banyak mendukung syiar-syiar keagamaan Islam. Sang Bupati pun turun tangan langsung untuk mengurus Cut Nyak Dien. Ia pun menyediakan tempat tinggal dan menunjuk KH. R. Sanusi (imam besar dan qadi Sumedang) dan Ibu Nyai Khodijah sebagai juru rawat sang Cut. Dua tokoh inilah yang merawat Cut Nyak Dien dengan setia dan sebaik-baiknya.

Meski demikian, identitas Cut Nyak Dien tetap disembunyikan. Tidak ada seorang pun masyarakat awam Sumedang yang mengetahui jika perempuan tua yang sudah rabun itu adalah sosok paling berpengaruh dalam sejarah besar Aceh. Yang mereka tahu, perempuan tua itu
adalah seorang guru ngaji yang hafal al-Qur’an. Orang-orang Sumedang pun memanggilnya dengan sebutan “Ibu Prabu” atau “Iboe Soetji” sebagai panggilan penghormatan.

Hampir dua tahun setelah masa pengasingannya di kota Sumedang yang tenang dan sejuk, Cut Nyak Dien wafat (6 November 1908). Beliau pun, atas restu Pangeran Aria Soeria Atmadja, dikebumikan di komplek pemakaman kehormatan para bangsawan Sumedang. Dua orang terdekat yang mengurus Cut Nyak Dien, yaitu KH. R. Sanusi (w. 1907) dan Ibu Nyai Khodijah (w. 1967), dimakamkan di sebelah pusara sang Cut.

Makam Cut Nyak Dien sendiri baru diketahui dan ditemukan pada tahun 1959, atau hampir 50 tahun setelah masa kewafatanna, ketika Gubernur Aceh masa itu, Ali Hasjmi, memerintahkan untuk mencari di mana letak kuburan Cut Nyak Dien berdasarkan arsip-arsip masa
kolonial Belanda.

Saat saya menziarahi makam Cut Nyak Dien, berkelebat pula bayangan bagaimana dulu pahlawan besar ini menghabiskan masa-masa terakhir
hidupnya di kota Sumedang ini, di rumah KH. Sanusi yang berdekatan dengan Masjid Agung Sumedang. Membayangkan aktivitas perempuan ini
di pengasingan, halakah pengajian al-Qur’an yang diasuh olehnya, penerimaan dan penghormatan masyarakat Sumedang atasnya, juga perlakuan istimewa yang diberikan oleh Bupati Sumedang Pangeran Aria Soeria Atmadja. Sang bupati sendiri memutuskan untuk menghabiskan masa tuanya di Kota Suci Makkah, bermukim di sana beberapa tempo dengan beribadah dan menyokong aktivitas keilmuan orang-orang Sunda
di sana.

Di Makkah, Sang Bupati Sumedang ini dipastikan bertemu dengan Raden Mukhtar Natanagara Bogor (Syaikh Mukhtar ‘Atharid Bogor al-Jawi,
w. 1930), “saudara jauhnya” sesama bangsawan Sunda yang menjadi ulama besar di Makkah (Raden Mukhtar adalah putra dari Raden Natanagara, Bupati Bogor). Salah seorang bangsawan Sumedang dan masih terhitung sebagai kerabat sang Bupati, yaitu Raden Sulaiman b. Muhammad al-Sumedangi (al-Samadani), tercatat sebagai murid Syaikh Mukhtar Bogor yang dikemudian hari juga mengajar dan wafat di
Makkah.

Dalam memoarnya, ketika pada tahun 1924 Bupati Bandung Raden Adipati Aria Wiranatakoesoemah V (w. 1965) melakukan ibadah haji, beliau
menyatakan bertemu dengan Syaikh Mukhtar Bogor dan juga menziarahi makam Bupati Sumedang Pangeran Adipati Soeria Atmadja yang ia sebut
dengan “Pangeran [Seda ing] Makkah”.

Sumedang, Zulkaedah 1440 Hijri (Juli 2019 M)

Luengputu Manuskrip Aceh Mizuar Mahdi Al-Asyi

5 KOMENTAR

  1. Cuando la causa de la disfunción es psicológica, la terapia psicosexual puede ser muy beneficiosa para las dos partes. La pareja también puede sentirse frustrada e insegura y preguntarse si él la desea lo suficiente.

  2. Colesterol: El colesterol LDL (malo) con valores elevados en conjunto con la baja del colesterol HDL (bueno), o el aumento de los triglicéridos, se conoce una enfermedad que daña las arterias, que son obstruidas, y afectan también a la erección porque no permiten una circulación adecuada en el pene.

  3. Entre las pruebas de laboratorio se debe incluir la valoración de la función tiroidea. En algunos casos, los hombres que experimentan abuso o trauma sexual en la infancia pueden desarrollar problemas de erección más adelante en la vida. Si no está del todo preparado para hablar con un terapeuta sobre su impotencia psicológica, hay algunas terapias alternativas que puede probar en casa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here