Seberapa pun akademiknya sebuah buku, cerita adalah komponen utama yang akan berhasil menyeret minat orang dan para pembaca menolehnya. Sambungan peristiwa dan gagasan antar satu bagian dengan lainya semacam engsel yang menggerakkan daun pintu.
Kevin W Fogg, ahli sejarah Asia Tenggara dari Universitas Carolina Utara Chapel Hill AS, berusaha membangun cerita yang bersambung dalam keseluruhan buku hasil disertasinya.
Pesannya tampaknya sederhana: Islam menjadi elemen penting dalam revolusi Indonesia di kalangan santri dalam pengertiannya yang lebih longgar. Elemen ini masih akan memberi warna dan mesti dipertimbangkan dalam kehidupan Indonesia kontemporer.
Tetapi masalah yang hendak dikemukakannya adalah semangat dan cara pandang Islam itu bukan hanya tidak sama antara masing-masing kalangan di akar rumput, Jawa dan Luar Jawa, melainkan pula dengan para elit mereka di pusat. Apa yang terjadi di Aceh, Sumatera Barat, Sulawesi, dan Kalimantan mendapat beberapa ulasannya. Bagian ini tampaknya penting untuk memahami wajah keagamaan yang mungkin dalam beberapa hal berbeda dengan Jawa.
Belum lagi hasil revolusi Islam itu kenyataannya dikesampingkan bahkan dihapus oleh nasionalis sekuler yang, Fogg meminjam pandangan Anthony Reid, pelindung mitos nasional yang membosankan. Pertarungan dalam rumusan Pancasila Jakarta dan lahirnya Kementerian Agama menjadi contoh dari pertarungan nasionalis sekuler dengan kalangan Islam.
Pada Agustus 1945 Departemen Agama yang diusulkan menjadi salah satu dari tiga belas departemen yang ada, ditolak. Urusan keagamaan ditangani beberapa kementerian, salah satunya Kementerian Dalam Negeri. Setahun berikutnya, Kementerian Agama didirikan.
Semangat dan ideologi keislaman muncul dalam berbagai aksi, dari pembentukan laskar-laskar, banjir fatwa, juga tradisi jimat dan mantra. Bahkan, karena banjir fatwa tentang perang sabil di era Revolusi, Wakil Presiden Muhammad Hatta sampai mengeluarkan Maklumat larangan. Alasannya pemerintah perlu mengoordinasikan pertahanannya lebih hati-hati dan terkoordinir.
Karena hendak menggambarkan keragaman bentuk-bentuk revolusi Islam di awal-awal kemerdekaan dan beberapa tahun sesudahnya, buku ini tampaknya kurang memberi warna yang menyolok dan lebih dalam di antara varian keislaman. Bahkan, kesan saya, Fogg lebih tertarik melihat sikap dan pandangan “kelompok islamis”.
Buku ini sendiri ditutup pernyataan Harsono Tjokroaminoto, tokoh PSII tentang makna kemerdekaan sebagai wasilah membangun kejayaan dan kebahagiaan umat dengan berjalannya undang-undang keadilan ilahi. Pernyataan itu mewakili salah satu aspirasi Islam yang berbeda dengan apa yang umum terjadi di hari-hari ini.
Kalimulya, 16 Desember 2020

No responses yet