Lakon kita kali ini adalah famili dekat saya. Sebut saja namanya Mbah Din. Beliau kelahiran di Surabaya dan hingga remaja tinggal di Surabaya. Orang tuanya dari Nganjuk.

Alkisah, setelah diberi tugas oleh Mbah Bun (Kiai Wafa) Kediri untuk berlatih jurus asror di Pamanukan dengan mondok di Tegalgubug, Ceribon pada awal 1982 sampai awal 1986, Mbah Din diberi tugas lagi untuk menemani orang-orang yang dalam persepsi publik adalah tidak “genah”, mulai pemabuk, preman dan pelacur.

Lelakon seperti itu tentu dipandang miring bahkan bisa dianggap bagian dari orang-orang yang dianggap tidak “genah” itu. Namun baginya tidak apa-apa, beliau tidak ambil pusing dengan pandangan orang lain.

Suatu waktu, Mbah Din menemani pemabuk yang ada di sebuah kampung. Saat itu banyak kelompok kecil pemabuk yang berkumpul di beberapa pojok gang jalan kampung.

Bagi para pemabuk, Mbah Din pasti akan dianggap ikut minum, padahal aslinya tidak. Kerap Mbah Din menggoda pemabuk. Botol miras yang isinya minuman keras yang kata Mbah Din warnanya bening kecoklatan (maaf mirip air kencing) acapkali dibawa ke kamar kecil atau pojokan yang agak jauh dari pemabuk. Lalu miras ditumpahkan sedikit, selanjutnya diganti dengan air kencing, entah apa maksudnya. Selanjutnya miras oplos air kencing itu diberikan ke teman-temannya yang mabuk itu.

Ngeri-ngeri sedap, namun memang sering terdengar para pemabuk mengoplos miras dengan campuran lain yang nganeh-nganehi. Tentu ini juga pelajaran bagi yang masih suka mabuk agar menghindari mabuk daripada teman yang usil mencampur minuman dengan hal lain yang cukup menjijikan, seperti air kencing. Jangan ada yang komentar tentang beberapa ustadz yang dengan bangga dan secara demonstratif minum air kencing onta langsung diambil dari sumbernya lho….

Tidak tahu bagaimana, akhirnya banyak pemabuk yang ditemani Mbah Din berhenti dan tobat tidak minum miras lagi, malah ikut pengajian.

****

Kisah di lokalisasi Kremil Surabaya. Saat Mbah Din jalan-jalan ke Kremil di salah satu rumah germo terdengar suara perempuan mengaji Alquran. Selanjutnya Mbah Din mendatangi rumah itu dan menemui yang ngaji

Entah berapa kali pertemuan, yang jelas di antara yang dikisahkan, perempuan berkulit putih dan cantik yang berasal dari Jember itu cukup menyedihkan ceritanya. Perempuan itu putri seorang kepala desa dan dibawa pacarnya ke Surabaya. Sesampai di Surabaya, dia malah dimasukkan oleh pacarnya ke Kremil. Perempuan itu di Kremil sudah berjalan setahunan dan tidak berani pulang karena bisa jadi ada perjanjian antara germo dan sang pacar.

Mbah Din mengatur strategi, akhirnya bisa dilarikan ke terminal Joyoboyo serta diantar naik bis ke Jember. Sesampai di Jember hampir saja Mbah Din dihajar masyarakat karena dianggap melarikan perempuan. Tapi putri pak lurah itu menjelaskan bahwa Mbah Din sebagai penolong. Selamatlah Mbah Din, selamat pula putri pak lurah walau sudah terlanjur harga diri dan kehormatannya tercabik.Tentu ini pelajaran bagi remaja putri.

Sebagai informasi, kokalisasi Kremil sekarang sudah tutup dan berubah menjadi sentra UMKM

https://surabaya.tribunnews.com/…/sambang-kampung-eks….

Banyak tokoh dan kiai berperan dalam membina mereka yang “terjebak” dalam lokalisasi di Surabaya. Salah satunya adalah Dr. Kiai

Ahmad Sunarto

dosen UINSA . Alumni Tebuireng yang putranya dipondokkan di Tambakberas ini telaten membina PSK hingga berhasil menulis disertasi terkait prostitusi sehingga beliau dijuluki doktor prostitusi

https://www.barometerjatim.com/kisah-heroik-doktor…/

***

Mbah Din dulu juga pernah membersamai para preman di Pasar Turi tapi panjang juga kalau saya ceritakan. Intinya saat ini Mbah Din menjadi tokoh di desa dan mengurus jamaah di desa itu. Mbah Din yang mantan pendekar ini kadang masih keluar sikap “brangasannya”. Pernah ada kelompok yang suka mendatangi masjid (termasuk masjid Mbah Din) dan malah mendakwahi Mbah Din serta jamaah desa itu. Tanpa ba, bi, bu, Mbah Din bilang, segera cabut atau dihajar… Tentu jamaah itu segera cabut.

Bagi Mbah Din, masyarakat sudah lama diajak pengajian dan aktif kegiatan ala tradisi NU. Tiba-tiba ada beberapa orang yang baru datang dan mengadakan ngaji di masjid yang dikelola Mbah Din. Itu dianggap tidak sopan dan tidak tahu dimana harus berdakwah.

Jelang wafatnya Mbah Bun (kiainya Mbah Din), Mbah Bun berkata sudah waktunya nyuwuk uyah (menyembur garam alais jadi “dukun”). Benar, Mbah Din berbakat, terbukti sekian bulan banyak pasien berdatangan. Hanya karena Mbah Din merasa belum bisa menata hati, akhirnya meninggalkannya bakat itu.

***

Foto Mbah Din dan Cak Di saat di gubuk, saya sebagai juru kameranya secara candid..

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *