Syukur itu akhlaq mulia tertinggi karena hakikat tujuannya untuk mengagungkan Gusti Allah saja dan tujuan puncak dari segala peribadatan adalah syukur. Baik peribadatan yang berupa ilmu, sikap dan amal. Ketiga macam peribadatan itu pula yang jadi tolok ukur atau rukun syukur menurut Imam Ghozali. Maka kita kudu memahami bagaimana ilmu, sikap dan amal yang bisa dianggap cerminan rasa syukur.
- Rukun ilmu atau pemahaman yang bisa disebut syukur bila kita bisa paham tentang hakikat kenikmatan dan siapa Sang Pemberi kenikmatan tersebut sesungguhnya. Pemahaman ini berkaitan dengan seberapa jauh cara pandang kita terhadap kenikmatan, bagaimana memposisikan orang-orang yang membawakan kenikmatan itu untuk kita terhadap Gusti Allah.
- Rukun hal atau sikap yang bisa disebut cerminan syukur itu bagaimana kita menyikapi pemahaman tentang hakikat kenikmatan dan Sang Pemberi kenikmatan. Pemahaman ini berkaitan dengan adab kita terhadap kenikmatan, Gusti Allah dan orang yang jadi perantara kenikmatan itu datang kepada kita.
- Rukun amal atau perbuatan yang disebut syukur bila memperlakukan kenikmatan itu ditujukan hanya untuk kecintaan kita pada Gusti Allah, bukan digunakan untuk mendurhakai-Nya. Ini berkaitan dengan tanggung jawab kita sebagai hamba yang diamanahi kenikmatan.
Ilmu atau pemahaman.
Ilmu yang bisa disebut syukur bila kita bisa paham tentang hakikat kenikmatan dan siapa Sang Pemberi kenikmatan tersebut sesungguhnya. Pemahaman ini berkaitan dengan seberapa jauh cara pandang kita terhadap kenikmatan, bagaimana memposisikan orang-orang yang membawakan kenikmatan itu untuk kita terhadap Gusti Allah.
- Hakikat kenikmatan. Menyadari bahwa semua kenikmatan itu ciptaan Gusti Allah dari hulu ke hilirnya. Dari Gusti Allah, oleh Gusti Allah dan untuk Gusti Allah. Dan kita bisa merasakan rasa nikmat itu juga qudroh Gusti Allah. Karena hakikatnya manusia tak punya pengetahuan tentang rasa enak atau kemanfaatan atas sesuatu jika tidak dibuka oleh Gusti Allah.
- Yang memberi kita kenikmatan dan rasa nikmat saat merasakan kenikmatan adalah Gusti Allah. Sementara semua orang-orang yg membawa kenikmatan itu pada kita itu hakikatnya dijalankan dan dipaksa oleh qudrah Gusti Allah.
Semua pengetahuan ini bisa membawa orang untuk bersyukur tergantung dengan tingkat taqdis dan tauhid seseorang. Pertama, seseorang harus bisa mensucikan Dzat Gusti Allah terlebih dahulu atau taqdis. Yaitu sadar bahwa gak ada yg berkuasa membawa kenikmatan itu pada kita selain Gusti Allah dan hanya Gusti Allah saja yg mengetahui kemanfaatan sesuatu, maka itu taqdis yg membawa pada tauhid. Puncaknya, berkat tauhidnya, orang bisa paham untuk mau bersyukur.
Urutan ini seperti yg diisyarat Kanjeng Nabi Muhammad SAW
من قال سبحان الله، فله عشر حسنات. ومن قال لا إله إلا الله، فله عشرون حسنة. ومن قال الحمد لله، فله ثلاثون حسنة
“Siapa yg berkata “Subhanallah”, maka dapat 10 pahala. Siapa yg berkata “Laa ilaaha illa Allah”, maka dapat 20 pahala. Siapa yg berkata “Alhamdulillah”, maka dapat 30 pahala”
Sementara orang-orang yg jadi perantara kenikmatan itu datang pada kita, analoginya seperti seorang pelayan toko. Sedangkan Gusti Allah itu juragan toko.
Pelayan toko itu hakikatnya mendapat perintah dari juragannya untuk memenuhi kebutuhan kita. Jadi gerak-gerik pelayan toko itu hakikatnya ya apa kata sang juragan. Semua kontrol, apa kata Sang Juragan.
Maka sudah seharusnya porsi terima kasih kita, lebih banyak ditujukan pada juragan toko dan menisbatkan barang2 toko itu milik si juragan, bukan milik pelayan toko. Sementara pelayan toko derajatnya sama kayak kita, yg sama2 butuh pada Sang Juragan, cukup kita bilang terima kasih sebagai adab, tanpa menisbatkan bahwa dia pemilik barang di toko itu.
Menyadari dan memahami hal itu, adalah satu bentuk syukur.
Seperti dialog Kanjeng Nabi Musa dengan Gusti Allah
إلهي خلقت آدم بيدك، وفعلت وفعلت، فكيف شكرك؟ قال : علم أن ذلك مني فكان معرفة ذلك شكرا
“Duh Gusti, Njenengan menciptakan manusia, lalu Njenengan jalankan manusia itu sekehendak njenengan, bagaimana caranya bersyukur padamu? Maka Gusti Allah dawuh : Memahami bahwa segala sesuatu itu dari-Ku, itu adalah bentuk syukur”
Perilaku Cerminan Bersyukur
Hal atau perilaku yang berhubungan dengan adab seseorang di hadapan Gusti Allah, di depan kenikmatan itu dan orang yg jadi perantara kenikmatan itu. Adab ini sebagai tindak lanjut ilmu sebagai rukun syukur pertama.
Pertama, adab kepada Gusti Allah. Kita sudah seharusnya gembira dan senang terhadap Sang Pemberi kenikmatan, diwujudkan dengan hati yg penuh tunduk dan pengagungan terhadap Gusti Allah.
Kedua, adab terhadap kenikmatan. Ada 3 perbuatan manusia yg biasanya dilakukan saat berada di hadapan kenikmatan.
- Menikmati kenikmatan itu dengan senang. Ini gak bisa disebut syukur, karena lupa mengagungkan Sang Pemberi nikmat.
- Menyadari adanya kenikmatan, lalu berkeyakinan bahwa nikmat ini kehendak Gusti Allah kepada dirinya, tapi gak ada greget untuk menyenangi kenikmatan. Ini hanya bisa disebut syukur tapi belum sempurna.
- Menyadari adanya kenikmatan, menyadari bahwa adanya Sang Pemberi kenikmatan, mengagungkan-Nya lalu menikmatinya dengan penuh greget guna lancarnya perjalanan menuju Sang Pemberi. Ini syukur yang sempurna.
Lebih sempurna lagi kalau kita sadar adanya kenikmatan, menyadari ada Sang Pemberi, lalu menyenangi orang yg membawa kenikmatan. Lalu dengan hati gembira menikmati semua kenikmatan yg ada.
Gembira pada semua kenikmatan artinya gembira karena sadar bahwa lewat kenikmatan dan perantara itu, Gusti Allah sedang membuka kesempatan pada kita untuk bisa mendekati-Nya. Karena kenikmatan itu, kita bisa punya tenaga dan ketenangan batin dalam rangka mendekat pada-Nya.
Tanda hati yg punya syukur sempurna itu, bila hatinya tidak gembira pada kenikmatan yg menghalanginya dari mengingat Gusti Allah, bahkan hatinya jadi gelisah. Dan bersyukur jika Gusti Allah menyelamatkannya dari kenikmatan yg berpotensi menjeratnya pada perkara dunia dan kemaksiyatan.
Misalnya kita punya istri galak dan pelit tapi sholehah. Tiap waktu sholat kita selalu diingatkan dgn keras, tiap punya uang selalu teliti gak boleh buat aneh2, tiap kita keluar larut malam pas ngopi selalu ditelpon buat pulang. Mungkin kita sumpek awalnya.
Ternyata dipikir-pikir, sifat istri seperti itu justru bikin kita dekat Gusti Allah dan kita terhindar dari main perempuan dan perbuatan maksiyat lainnya. Kalo kita menyadari itu dan akhirnya malah jadi menyenangi istri kita dan ada rasa gusar kalo kita gak digalaki, maka itu syukur yg sempurna dan cinta kita pada istri itu disebut cinta karena Gusti Allah.
Amal Perbuatan Sebagai Bentuk Bersyukur
Amal atau perbuatan bagaimana memperlakukan kenikmatan itu ditujukan hanya untuk kecintaan kita pada Gusti Allah, bukan digunakan untuk mendurhakai-Nya. Ini berkaitan dengan tanggung jawab kita sebagai hamba yang diamanahi kenikmatan.
Ini bisa kita lakukan bila kita mengetahui hikmah di balik segala kenikmatan yang diciptakan Gusti Allah. Hikmah tentang apa saja tujuan penciptaan segala kenikmatan tersebut. Dengan mengetahui hikmah itu, kita bisa menggunakan kenikmatan itu sebagaimana mestinya sesuai tujuan penciptaan yaitu pengabdian pada Gusti Allah dan tidak dzolim.
Syukur berupa amal ini terbagi menjadi amal qolbu dan amal dzohir. Syukur amal qolbu berupa berpikir tentang ciptaan, berdzikir, pemahaman atas sesuatu, mengetahui potensi positif suatu hal dan niat yang baik. Dan syukur lahir berupa usaha2 untuk mengarahkan nikmat itu pada potensi positifnya dan mencegah potensi buruknya.
Misal petani kopi bisa tahu apa potensi tanaman kopi? Bagaimana mengolahnya dgn baik agar muncul potensinya? Dan seterusnya. Pertanyaan2 ini bila lewat keilmuan yg benar, akan memunculkan hikmah2 dari penciptaan2. Misal diketahui kopi bisa untuk penahan kantuk. Sehingga diarahkan kopi pada potensi positifnya, bahwa kopi bisa jadi teman melek buat ngaji, dzikir, fikir dan berbagai bentuk pengabdian pada Gusti Allah. Bukan diarahkan untuk jagongan gak jelas tujuannya.
Maka dari itu, gak akan bisa bersyukur orang yg gak punya ilmu. Dan gak akan disebut berilmu kalau tidak mengetahui hikmah. Dan tidak disebut hikmah bila tidak tahu potensi positifnya. Dan tidak akan disebut potensi positif bila tidak menghasilkan pengabdian pada Gusti Allah.

No responses yet