Orang tawakal biasanya nyah-nyoh (gampang sedekahnya) sama orang. Ada seorang tetangga saya, tukang becak yang sepuh. Kehidupan pas-pasan, tapi nyah-nyoh. Rasa tawakalnya bikin dia yakin dengan luasnya rahmat Gusti Allah. Walau gara2 sedekah dia jadi gak punya uang, dia yakin besok Gusti Allah pasti ngasih lagi.
Ada anak kecil pada ngumpul, dia bagi-bagi jajanan. Ada tetangganya jualan, dia beli jualannya semampunya. Dan gak ada tampak gelagat dia pingin dikasihani.
Karena udah terkenal suka nyah-nyoh, walau penghasilan sehari 50 ribu sehari, orang-orang nyebut dia orang kaya. Karena pikiran orang pada umumnya, gak mungkin orang miskin mau sedekah, mending buat makan. Orang2 pun digerakkan untuk menjaga kehormatannya.
Walaupun misal tujuan dia bersedekah hanya untuk menjaga harga diri, bagi saya itu masih bagus. Menjaga kehormatan diri ini juga jadi salah satu tujuan syariat. Orang yg tidak menjaga kehormatannya di depan umum justru bahaya. Karena itu namanya bangga atas kejahatan. Oleh syariat, kita diperbolehkan untuk mencaci maki orang2 kayak gitu di depan umum biar surut bangganya.
Makanya, para ulama dawuh
خير المال ما وقع به العرض
“Sebaik-baiknya harta adalah yang dipakai untuk menjaga kehormatan harga diri”
Kalo kehormatan diri terjaga, segala niat baik apapun jadi mudah. Maka gak heran, dengan semua hal itu, dia pantas yakin dan pede saat bertawakal pada Gusti Allah.
Gusti Allah dawuh
إِنْ يَنْصُرْكُمُ اللَّهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمْ ۖ وَإِنْ يَخْذُلْكُمْ فَمَنْ ذَا الَّذِي يَنْصُرُكُمْ مِنْ بَعْدِهِ ۗ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ
“Jika Gusti Allah menolong kamu, maka tak akan ada orang yang dapat mengalahkan kamu, jika Gusti Allah membiarkan kamu tanpa pertolongan, maka tunjukkan siapa yang dapat menolong kamu selain Gusti Allah sesudah dibiarkan tanpa pertolongan? Karena itu, hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal.” (Ali Imron 160)
Seperti dalam muqoddimah, tawakal menurut Imam Ghozali itu punya tiga rukun : makrifat, hal dan amal. Nah, sekarang kita bahas rukun pertama, yaitu makrifat.
Menurut Imam Ghozali, makrifat itu pokok dari tawakal. Makrifat adalah tauhid itu sendiri. Makrifat yaitu keyakinan (iman) dan kesadaran hati bahwa selain Gusti Allah, tidak ada yg dapat mendatangkan sesuatu manfaat atau kenikmatan kepada kita.
Bagi orang tawakal, tidak melihat sesuatu di dunia ini bergerak kecuali karena kehendak Gusti Allah. Kita bangun hanya melihat kekuasaan Gusti Allah, saat tidur pun yakin dalam kendali Gusti Allah.
Makrifat ini diwujudkan lewat kalimat
لاَ اِلٰهَ إِلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ. لَهُ الْمُلْكُ وَ لَهُ الْحَمْدُ يُحْيِى وَ يُمِيْتُ، وَ هُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
“Tidak ada tuhan yang wujud kecuali Gusti Allah Yang Maha Tunggal, tidak ada sekutu bagi-Nya, Milik-Nya setiap kekuasaan dan milik-Nya segala puji, hidup dan mati juga milik-Nya, dan Dia Maha Kuasa yang kekuasaan-Nya meliputi atas segala sesuatu”
Kalimat haq yang harus terus terngiang dan diresapi dalam setiap gerak langkah sebagai pengakuan pada wujud Gusti Allah. Yang dengan kekuasaan-Nya, wujud-Nya dan hikmah-Nya maka hanya Gusti Allah saja yang berhak mendapat semua pujian terbaik.
Siapa saja yang bisa meresapi kalimat itu secara jujur, tulus dan penuh keikhlasan, maka sempurnalah tauhidnya dan telah mapan dalam hatinya titik awal yang bisa memunculkan perilaku atau hal tawakal.
Jujur di sini yg dimaksud adalah makna dari kalimat tauhid itu jadi tabiat, ada kontinuitas dan kebiasaan dalam laku hati. Tidak terganggu dengan apa saja yang di luar dirinya.
Nah, karena tawakal itu berkaitan dengan tauhid dan tauhid itu tergantung sejauh mana kejujuran kita dalam tauhid, maka makrifat ini dibagi jadi 4. Yaitu : Munafiq, ilmul yaqin, ainul yaqin dan haqqul yaqin.

No responses yet