Oleh: Zia Ul Haq
Di manaqib Syekh Abdul Qadir al-Jailani ada satu kisah keramat beliau berkaitan dengan wabah. Saat itu rakyat Baghdad terjangkit tha’un yang banyak memakan korban.
Sebagai raja para wali di zamannya, Syekh Abdul Qadir menawarkan solusi bagi para pencintanya. Beliau mengumumkan,
“Makanlah rerumputan di sekitar madrasahku!”
Maka masyarakat pun berbondong-bondong menyantap rerumputan di madrasah Syekh Abdul Qadir. Karena rumputnya habis, Syekh Abdul Qadir menambahi,
“Barangsiapa minum seteguk air madrasahku, dia akan disembuhkan oleh Allah!”
Masyarakat tambah ramai datang, meneguk air yang memancar di madrasah Syekh Abdul Qadir. Dan terbukti, mereka yang sakit pun sembuh. Pemakan rumput dan peminum air madrasah beliau aman dari tha’un.
Kisah ini tercantum di Tafrihul Khothir susunan Syekh Muhammad Shadiq al-Qadiri, pada manqabah ke-33. Menurut Abah Aos (KH. Abdul Ghaos Sirnarasa), kisah keramat ini adalah kiasan.
Bahwa yang dimaksud dengan ‘rerumputan’ madrasah adalah zikir yang ‘bisa dikunyah di mulut’, seperti rumput, yakni zikir jahr yang dilafalkan di lisan.
Sementara ‘air’ madrasah adalah zikir yang ‘tidak bisa dikunyah dengan mulut’, sebagaimana air. Yaitu zikir khofi yang digetarkan di dalam hati.
Zikir itu ialah kalimat tauhid “La Ilaha Illallah” yang ‘diambil dari madrasah’, yakni ditalqinkan melalui tarekat Syekh Abdul Qadir al-Jailani. Dan resep ini, menurut Abah Aos, manjur untuk menghadapi wabah apapun di segala zaman.
Tapi meski demikian, kata Abah Aos, kita musti tetap pakai masker. Biar apa? Ya salah satunya biar nggak ‘ditilang’ petugas, biar nggak kena denda, biar nggak ribut, biar nggak buang-buang tenaga dan duit, sebab itu mubadzir namanya. Wallahu a’lam.
__
Kalibening, Malam Jumat
18-2-2021
Link kitab Tafrihul Khathir fi Manaqibis Syaikh Abdil Qadir: https://drive.google.com/file/d/1cotz43aG_Bim2YDyy7ScPJ8lZl1h6Sip/view?usp=drivesdk
Link film Gonul Sultanlari (Salathinul Qulub): https://youtu.be/FicWRb2neEk

No responses yet