Insya Allah minggu ini kita akan mulai lagi mbahas kitab Arbain Fi Ushuliddin karya Hujjatul Islam Imam Al Ghozali. Sebelum kita mulai, sebagai bentuk tabarruk dan perkenalan kita pada sang penulis kitab (mushonnif), kita bahas dulu riwayat hidup sang penulis, yaitu Imam Ghozali. Semoga, lantaran kita tahu biografi beliau, kita bisa jadi senang dengan beliau dan jadi senang karya-karya beliau. Sehingga kita kecipratan barokahnya ilmu Imam Ghozali qodasallahu sirrohu.
Hujjatul Islam Al Imam Abu Hamid Al Ghozali. Bernama panjang Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Al Ghozali Ath Thussy Asy Syafi’i. Mempunyai laqob (julukan) Zainuddin. Dikenal sebagai Al Ghozali karena ayah beliau tukang tenun wol, sehingga yang tepat dibaca Al Ghozzaali dengan za’ syiddah. Ada pula yang berpendapat itu nama daerah di Persia, yaitu Ghazaleh. Diberi gelar Sang Hujjatul Islam (Bukti Kebenaran Argumen Islam) karena berhasil menjalin hubungan antara dalil naqli dan aqli, mendamaikan perseteruan ahli fiqh dan ahli tasawuf dan mampu mematahkan argumen kaum kebatinan, kaum filosofis, kaum atheis dan lain-lain.
Beliau lahir di di jazirah Khurasan, tepatnya di Kota Thus, dekat Baghdad, pada tahun 450 H, dan wafat di kota yang sama pada Senin 14 Jumadil Akhir 505 H, pada usia 55 tahun. Imam Zabidi mengkonfirmasi, karya tulis Imam Ghozali itu kurang lebih ada 70 kitab. Dari 70 kitab itu, hanya 23 judul yang tersebar di masyarakat. Dari berbagai karya Imam Ghozali itu, Kitab Ihya Ulumiddin menjadi karya paling bersinar di antara karya-karyanya.
Diceritakan ayah Imam Ghozali adalah seorang pemintal benang wol. Beliau punya dua putera, yaitu Muhammad dan Ahmad. Saat menjelang kewafatannya, sang ayah berwasiat pada sahabatnya yang sholeh untuk mengasuh kedua anaknya agar dididik menjadi seorang yang alim.
Setelah sang ayah wafat, Muhammad dan Ahmad pun memulai hidup mereka sebagai seorang santri di sebuah madrasah di bawah bimbingan sahabat si ayah. Waktu itu, umur mereka masih kecil. Mereka yang belum terbiasa hidup tanpa ayah dan langsung dipaksa hidup ala santri, tentu bingung. Mereka berdua pun cari pelarian di luar madrasah. Mereka pun jadi nakal, waktu belajar malah buat main, sehingga merosot prestasi belajarnya.
Hingga sang guru yang sahabat ayah mereka itu berkata pada kedua saudara itu, “Aku ini sudah menginfaqkan harta peninggalan ayah kalian yang jadi hak kalian untuk pendidikan kalian sesuai wasiat ayah kalian. Aku ini juga seorang faqir yang harus kerja demi kebutuhan kita semua sehingga kalian bisa hidup sampai sekarang. Maka perhatikan baik-baik apa kata-kataku saat aku mengajar kalian di madrasah. Kalian ini santri, maka gunakan waktu kalian untuk selalu fokus pada tugas sebagai santri”
Perkataan guru mereka itu sangat membekas di hati Muhammad dan Ahmad. Sehingga membentuk pola pikir mereka. Maka sejak itu, hati mereka jadi terbuka sehingga mereka pun pensiun nakalnya. Jadi semakin fokus pada tugas sebagai santri, semakin haus ilmu, sehingga jadi sebab masuknya barokah ilmu dan tingginya derajat mereka.
Muhammad, Imam Ghozali kecil, belajar fiqih dasar di Kota Thus. Beliau belajar kepada Imam Ahmad Ar Rodzikani. Lalu mulai rihlah ilmiyah menuju Jirjan, untuk belajar pada Imam Abu Nashri Al Ismaili. Semua pelajaran dari Imam Abu Nashri dicatat rapi jadi sebuah kitab dan sempat diterbitkan. Setelah itu beliau kembali ke Kota Thuss.
Di perjalanan menuju Kota Thuss tersebut, Muhammad Al Ghozali dibegal oleh sekelompok preman. Semua barang bawaan Al Ghozali pun dirampas.
Pas para preman itu mau membuka sebuah koper bawaan Muhammad Al Ghozali, Al Ghozali pun berkata pada ketua preman itu, “Kembalikan koper itu, yang lain ambil saja!”
Ketua preman itu heran, “Memangnya apa isi koper itu?”
Al Ghozali menjawab, “Isinya cuma kitab, hal yang gak bernilai buat kalian, tapi sangat bernilai buat saya, saya menempuh ratusan kilometer demi semua ilmu yang saya catat dalam kitab itu, sehingga saya berhasil memahaminya”
Para preman itu malah ketawa-tawa, “Awkowkowkowko.. Kok bisa-bisanya ente ngaku-ngaku memahami ilmu? Kalo isi koper ini aku musnahkan, musnah pula ilmu ente, ente pun bakal jadi goblok selamanya!”
Mak Jdiyerr! Gara-gara kejadian itu dan perkataan ketua preman tadi, Muhammad Al Ghozali pun tergugah. Selama ini anggapannya salah, bahwa ilmu itu bukan apa yg telah ditulis, tapi apa yang melekat di hati. Maka sesampainya di Thuss, Imam Ghozali mengurung diri selama 3 bulan untuk menghafal seluruh isi kitab yang ada di kopernya hingga sedetail mungkin. Sehingga, kalo satu saat nanti dicegat begal lagi, Imam Ghozali tidak khawatir kehilangan ilmunya lagi.
Setelah itu, Al Ghozali rihlah ke Naisabur untuk berguru pada Imam Haromain Abu Al Ma’aali Al Juwaini, seorang mujtahid terkenal di zaman itu hingga sekarang. Imam Haromain merupakan rektor Universitas Nidzomiyah. Karya tulisnya sangat banyak. Di madrasah Nidzomiyah inilah Muhammad Al Ghozali belajar.
Al Ghozali di sana belajar fiqih Madzhab Syafi’i hingga jadi ahlinya dalam Madzhab Syafi’i. Di sana beliau juga belajar Ushul Fiqih, Ushuluddin, Mantiq, belajar filsafat dan berbagai ilmu hingga seluk beluknya. Ciri khas Imam Al Ghozali itu tahu detail setiap bab ilmu, gak heran beliau dikenal mutafannin (menguasai banyak bidang ilmu). Itu dibuktikan dengan kemenangan dalam setiap perdebatan yang beliau ikuti. Imam Ghozali juga terkenal sering membantah aliran-aliran sesat yang lain seperti kebatinan, atheisme, filosofi helenisme dan lain-lain. Menjelaskan dengan gamblang apa di balik sebuah pemikiran. Saking pinternya, di setiap ilmu yang dikuasai, Imam Ghozali selalu punya minimal satu karya tulis di bidang ilmu itu.
Itulah kelebihan Imam Ghozali, sangat piawai dengan apa yang dikuasainya, tajam analisanya, pengetahuannya menyeluruh, kuat hafalannya, jika mempelajari sesuatu selalu mendalaminya hingga ke akar-akarnya, selalu teliti dengan makna yang tersembunyi di balik satu narasi. Imam Ghozali pun dawuh dalam Munqidz Minadzh Dhulal, beliau punya hobby mempelajari sesuatu hingga ke akar-akarnya, sehingga beliau tahu apa kelebihan dan kekurangan setiap pemikiran yang ada di dunia ini. Konon, Imam Ghozali bahkan sempat ingin mendirikan madzhab fiqihnya sendiri, lepas dari madzhab Syafi’i. Tapi hal itu tidak jadi beliau lakukan. Beliau tetap bermadzhab Syafi’i hingga meninggal.
Sehingga Imam Al Juwaini memuji Imam Ghozali dengan perkataan
الغزالي بحر مغدق
“Muhammad Al Ghozali itu adalah samudra tak bertepi”
Bersambung..

No responses yet