Sebagian penuntut ilmu beranggapan bahwa dirinya memiliki kemampuan untuk memperoleh ilmu dari buku2 gn tanpa merujuk kepada para ulama dalam mendapatkan penjelasan, keterangan dan solusi persoalannya. 

Keyakinan semacam itu sendiri sepanjang pengamatan kami sebenarnya adalah penyakit dalam pikiran yg menjadikan mereka tersingkir dan terjauhkan dari golongan ahli ilmu.

Imam as Syafi‘i rahimahullah (wafat 820 M di Mesir) berkata : “Barang siapa yg belajar ilmu dari lembaran buku2 maka ia telah mengabaikan hukum”.

Diantara para ulama mengatakan : “Termasuk bencana yg besar adalah menganggap lembar2 buku sbg syeikh (guru). Yakini orang2 yg belajar kepada lembar2 buku”.

Abu Ayyub Sulaiman bin Musa rahimahullah (wafat 733 M) berkata : “Janganlah kalian mengambil al Qur‘an dari kaum mushafiyyin (tukang mushaf), tidak ilmu dari kaum shahafi (meliput berita).”

Imam Sa‘id bin Abdul Aziz al Tanuhi rahimahullah (wafat 783 M), beliau disejajarkan dgn Iman Al -Auza‘i rahimahullah (707 h 774 M di Beirut) berkata : “Janganlah kalian mengambil ilmu dari shahafi dan janganlah kalian mengambil (ilmu) al Qur‘an dari Mushafi (ahli mushaf).”

Pernah dikatakan : “Barang siapa yg gurunya adalah buku, maka kesalahannya lebih banyak dari pada benarnya. Dan sungguh tepat Abu Hayyan al Nahwi rahimahullah ketika berkata dalan syairnya:

“Orang bodoh menyangka bahwa buku2 itu cukup memberi pemahaman karena dapat menggapai ilmu. Dan ia tidak mengetahui bahwa di dalam buku2 itu,ada rahasia2 yg tersembunyi yg membingungkan pikiran. Jika engkau mencari ilmu tanpa guru, engkau akan tersesat dari jalan yg lurus. Perkara2 rumit akan mengacaukan pikiranmu, sampai engkau menjadi orang yg paling sesat.”

Para ulama telah menjelaskan tentang apa alasan agar para pencari ilmu berpegang teguh pada ucapan para ulama ? Di antaranya perkataan Ibn Buthlan rahimahullah : “Dalam buku sering ditemukan hal2 yg menghalangi ilmu yg hal tsb tidak terjadi pada seorang guru, antara lain : 

Hasil cetakan yg menampilan huruf2 yg samar (tidak jelas) terkadang hilang, sulit untuk dibaca dengan mata. Sedikitnya pengalaman i‘rab, atau rusaknya hasil cetakan, revisi buku, tulisan yg tidak terbaca, atau bacaan yg tidak tertulis, madzhab dari sang penulis, pembaca yg menggabungkan farse2, yg yg terpisah dgn serampangan, prinsip2 metode mengajar yg tumpang tindih, kekacauan dalam penyebutan lafad2 mushtalah ketika menyusun seluruhnya akan menghalangi ilmu. Murid akan lebih ringan dari beban2 berat tsb jika ia membaca buku di depan guru.

Jika persoalan terjadi sebagaimana contoh di atas, maka membaca buku di hadapan ulama lebih memberikan manfaat dan lebih afdal dari pada membaca buku sendiri. Inilah penjelasan yg kami maksud proses pembelajaran yg bersumber dari seorang guru lebih utama dari pada 

pembelajaran dari lembar2 buku.

Al-Faqir Ahmad Zaini Alawi

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *