Sayyidina Abbas bin Abdul Mutholib RA adalah paman Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Beliau adalah saudara termuda ayah Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Beliau lahir tiga tahun sebelum kelahiran Kanjeng Nabi Muhammad SAW.
Pada waktu Al Abbas masih anak-anak, ia pernah hilang. Sang ibu, Nutailah binti Janab, bernadzar, kalau puteranya itu ditemukan, dia akan memasang kelambu sutra pada Ka’bah. Tidak lama kemudian, Al Abbas kecil ditemukan, maka Natillah pun menepati nadzarya itu.
Disebabkan usianya yang tidak terpaut jauh dengan Kanjeng Nabi Muhammad, yang saat itu berada di bawah asuhan Abdul Muththalib, maka Al Abbas kecil menjadi teman sepermainan Sayyidina Muhammad. Keduanya sangat akrab dan tumbuh bersama sampai mencapai usia remaja. Di saat remaja, keduanya ikut dalam pembangunan Ka’bah dengan turut memanggul batu di pundak mereka. Al Abbas di masa kecil, remaja dan dewasanya sering bersama dengan Sayyidina Muhammad. Saking dekatnya, sampai jika ada yang mencari keberadaan Kanjeng Nabi Muhammad saw, mereka menanyakan keberadaannya kepada Al Abbas.
Al Abbas sebagaimana orang-orang Quraisy pada umumnya, adalah seorang pedagang. Dia terkenal sebagai salah seorang pedagang yang sukses dan kaya. Setelah Abu Thalib, Abbas-lah kemudian yang bertanggungjawab memasok air dan makanan untuk para peziarah Makkah. Dia juga yang bertanggungjawab untuk pembangunan Masjidil Haram. Sewaktu Makkah dilanda musim paceklik dan kekeringan yang berkepanjangan, untuk meringankan beban ekonomi Abu Thalib, Sayyidina Muhammad dan Al Abbas berinsiatif mengadopsi anak-anak Abu Thalib. Sayyidina Muhammad mengadopsi Ali bin Abi Thalib, sementara Al Abbas mengadopsi Ja’far bin Abi Thalib.
Al Abbas menikah dengan Siti Lubabah binti Harits bin Hazan. Saat Kanjeng Nabi SAW mengumumkan kenabian beliau SAW, Siti Lubabah kemudian menjadi wanita dewasa kedua yang masuk Islam setelah Siti Khadijah. Sementara Al Abbas belum secara resmi mengucapkan syahadat.
Walau belum secara resmi jadi muslim, namun saat baiat Aqobah Kubro, Al Abbas menjadi penasehat dan pendukung utama Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Beliau posisinya mirip Abu Thalib, belum Islam tapi jadi pendukung Kanjeng Nabi Muhammad SAW.
Saat Perang Badar Kubro, Al Abbas berada di pihak kafir Quraisy. Beliau termasuk orang Quraisy yang terpaksa berangkat perang.
Tiga hari sebelum terjadi perang Badar Kubro, ada cerita mimpi Atiqah binti Abdul Muththolib, saudari Al Abbas. Atiqah bermimpi bahwa dalam tiga hari ke depan, ada seorang laki-laki yang memberi kabar akan ada kematian akan menghampiri tiap rumah di Makkah. Al Abbas meminta merahasiakan mimpi itu, namun bocor. Kaum kafir Quraisy kemudian menertawakan mimpi Atiqah tersebut. Tapi ternyata, mimpi Atiqah itu bukan sekedar mimpi. Tiga hari kemudian, banyak pemimpin Quraisy yang tewas di Perang Badar.
Setelah Perang Badar, Al Abbas termasuk orang yang ditawan pasukan Kanjeng Nabi SAW. Al Abbas kemudian mengajukan grasi kepada Kanjeng Nabi SAW dan mengaku bertobat kepada Beliau SAW. Lalu Kanjeng Nabi dawuh, “Pengakuan tobat yang baru saja kamu ucapkan, butuh bukti,”
Al Abbas berkata, “Demi Allah, bukti apa yang kamu inginkan, wahai Kanjeng Nabi?”
Kanjeng Nabi menjawab, “Jika kamu benar-benar seorang Muslim dan menginginkan kebaikan pada Islam dan umatnya, berikan sejumlah harta yang tersisa darimukepada tentara Islam, sehingga tentara kita bisa lebih kuat!”
Al Abbas berkhilah, “Duh Kanjeng Nabi, harta apa lagi yang tersisa dariku? Semua milikku telah dirampas, bahkan mereka tidak menyisakan apa-apa selain karpet lusuh ini.”
Kanjeng Nabi pun bersabda, “Lihatlah, kamu tidak jujur. Kamu belum kembali dari kebiasaan buruk masa lalumu. Kamu belum melihat cahaya kebenaran. Haruskah aku katakan kepadamu seberapa banyak harta yang kamu miliki, di mana kamu menyembunyikannya, pada siapa harta itu kamu titipkan, dan di tempat seperti apa kamu
menguburnya?”
Al Abbas menjawab, “Tidak, Sungguh saya sudah tidak punya
apa-apa lagi!”
Kanjeng Nabi pun bersabda, “Bukankah kamu menitipkan sejumlah harta pada ibumu? Bukankah kamu mengubur sebagian hartamu di tempat ini dan itu? Bukankah kamu mengatakan secara rinci kepada ibumu: Jika aku kembali, kembalikan semua harta ini kepadaku. Jika aku tidak kembali dengan selamat, belanjakanlah beberapa jumlah dari harta ini untuk suatu kepentingan tertentu, berikan sekian kepada si fulan, dan bagian untukmu adalah sekian?”
Al Abbas kaget bukan kepalang mendengar dawuh Kanjeng Nabi Muhammad SAW itu, darimana Kanjeng Nabi tahu secara rinci bahwa dia telah berkata demikian pada ibunya? Padahal dia yakin bahwa hanya dia dan ibunya yang tahu isi pembicaraan itu. Al Abbas habis akalnya memikirkan hal tersebut.
Al Abbas pun mengangkat tangannya dengan penuh keimanan. Lalu dia berkata, “Duh Kanjeng Nabi, dahulu aku selalu yakin bahwa dirimu mewarisi nasib baik para raja terdahulu seperti Haman, Syadad, Namrud, dan yang lainnya. Tetapi setelah anda mengatakan hal-hal tadi, aku langsung percaya dan yakin bahwa yang baru saja anda katakan adalah rahasia Gusti Allah, hanya Gusti Allah yang tahu,”
Kanjeng Nabi Muhammad SAW menjawab, “Anda benar, Paman. Aku mendengar gemeretak keraguan di dalam hatimu, yang gemanya terdengar di telingaku. Aku memiliki telinga yang tersembunyi di balik jiwaku yang terdalam. Dengan telinga itu, aku dapat mendengar gemertak keraguan, kemusyrikan, dan kekafiran di dalam hati semua orang. Suara-suara itu terdengar oleh telinga jiwaku. Sekarang, kamu benar-benar telah melepas masa lalumu, dan menjadi seorang Mukmin.”
Peristiwa ini jadi titik balik. Al Abbas benar-benar terguncang jiwanya dan luruh kekafirannya demi melihat mukjizat Kanjeng Nabi Muhammad SAW tersebut. Sayyidina Abbas pun akhirnya menjadi muslim, menjadi paman sekaligus sahabat Kanjeng Nabi terkemuka dan orang terdekat di sisi Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Saking dekatnya hubungan paman keponakan ini, sampai Kanjeng Nabi SAW dawuh, “Abbas adalah saudara kandung ayahku. Barangsiapa yang menyakiti Abbas sama dengan menyakitiku”

No responses yet