Tahukah njenengan? Dalam Tarikh Ath Thobary, tahun kedua Hijriyah di mana di tahun tersebut turun perintah kewajiban untuk berpuasa di Bulan Ramadhan, dinamakan Tahun Amr atau tahun perintah. Penamaan itu ditetapkan selepas wafatnya Kanjeng Nabi ketika mengidentifikasi penanggalan berdasarkan peristiwa hijrah Kanjeng Nabi dan peristiwa sesudahnya hingga wafat Kanjeng Nabi.

Secara lengkap penamaan tahun berdasarkan hijrah Kanjeng Nabi hingga wafatnya Kanjeng Nabi sebagai berikut :

1. Tahun pertama (hijrah) dikenali sebagai Al Idzn (الإذن) atau izin. Karena telah keluar izin untuk hijrah kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW menuju Madinah.

2. Tahun kedua (hijrah) dikenali sebagai Al Amr (الأمر) atau perintah. Karena turun perintah puasa di Bulan Ramadhan.

3. Tahun ketiga dikenali sebagai At Tamhish (التمحيص) atau ujian. Karena di tahun itu terjadi Perang Uhud, banyak sahabat yang gugur.

4. Tahun keempat dikenali sebagai At Turfiah (الترفئة) atau pembenahan. Turun perintah pengharaman khomer dan barang memabukkan, setelah sebelumnya tidak dilarang.

5. Tahun kelima dikenali sebagai Az Zalzal (الزلزال) atau kegoncangan. Terjadi perang Khondaq.

6. Tahun keenam dikenali sebagai Al Isti’nas (الاستئناس) atau kebaikan. Terjadi perjanjian Hudaibiyah, perjanjian gencatan senjata Kanjeng Nabi SAW dengan kafir Quraisy yang menjadi titik awal berkembangnya Islam.

7. Tahun ketujuh sebagai Al Istighlab (الاستغلاب) atau menguasai. Akibat perjanjian Hudaibiyah, Islam justru berkembang. Dan di tahun ini, terjadi Perang Khaibar, perang besar Kanjeng Nabi SAW melawan Yahudi Bani Nadzir dan sekutunya. Di akhir perang, kaum muslim berhasil menguasai benteng-benteng kaum Yahudi.

8. Tahun kedelapan sebagai Al Istiwa’ (الاستواء) atau kenaikan. Terjadi peristiwa Fathu Makkah di tanggal 10 Ramadhan

9. Tahun kesembilan sebagai Al Baro’ah (البراءة) atau berlepas diri. Di tahun itu turun surat At Taubah. Yang isinya antara lain mengenai kemurkaan Gusti Allah pada kelakuan kaum munafik dan pembelaan Gusti Allah pada Siti Aisyah.

10. Tahun kesepuluh sebagai Al Wada’ (الوداع) atau perpisahan. Kanjeng Nabi Muhammad melakukan haji yang dikenal Haji Wada’, dan dalam tahun itu pula, Kanjeng Nabi melakukan khutbah perpisahan kepada umat beliau SAW.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *