Kalo kita melakukan pendalaman dengan mempelajari adab batiniyah terhadap berbagai syariat Islam, kita akan bertemu ajaran2 yang mengajak untuk mengeliminasi faktor materialisme pada manusia. Namun bukan berarti fatalisme (jabariyah) semata. Kita wajib mencari materi, namun juga wajib mengenyahkan materi itu secara tepat. Materi baru dikatakan tepat guna, kalo digunakan untuk mendekatkan diri pada Gusti Allah yang non materi.
Contoh sholat, kita selalu diarahkan oleh Al Qur’an untuk mencapai tingkat khusyuk. Di mana sholat itu batinnya hanya fokus pada Gusti Allah yang non materi. Hingga sholat itu disamakan mi’raj, bertemu Gusti Allah. Tapi di waktu yang sama, kita dituntut sholat dengan kesucian lahiriyah : badan, pakaian dan tempat sholat. Di mana butuh materi untuk mewujudkannya, yaitu materi air.
Yang paling nyata adalah zakat dan sedekah. Kita mengeluarkan harta, batin harus berniat hanya demi melaksanakan perintah Gusti Allah. Yang artinya, kita menyingkirkan harta materi dalam diri kita, dengan hanya mengharap ridho dan rahmat Gusti Allah yang non materi. Ada pula 7 adab batiniyah yang perlu diperhatikan. Tapi di sisi lain, orang mau sedekah ya harus punya materi yang mau disedekahkan. Syarat wajib zakat pun mengatakan demikian.
Artinya, orang yang ngaku Islam, sebenarnya disuruh jadi talang atau pipa saluran. Di mana, tugas talang air itu harus menerima air, tapi juga harus menyalurkannya ke arah yang dikehendaki. Kalo ada talang air kok nyimpen air, itu talang salah pikir. Juga kalo ada talang kok bocor di tengah jalan, itu talang jebol namanya. Kedua jenis talang itu harus diganti agar tidak mengganggu.
Nah, begitulah batin orang Islam seharusnya saat dia melakukan zakat dan sedekah. Dia anggap dirinya hanya sebagai talang air. Dia menerima materi dari Gusti Allah, tapi tidak dia simpan sendiri. Dia salurkan pada orang yang tepat dan yang membutuhkan. Demi melaksanakan perintah dan berharap rahmat Gusti Allah. Sehingga dia terus latihan menikmati tugasnya sebagai talang air. Barulah dia jadi manusia sempurna.
Seperti yang dilakukan Gus Dur, saat beliau menerima amplop dari tamu-tamu yang berkunjung. Hasil dari amplop itu beliau kumpulkan, lalu beliau bagi-bagi untuk tamu yang datang dalam rangka sambat kebutuhannya. Tidak pernah beliau ambil uang sepeser pun dari amplop para tamu tersebut. Sehingga Gus Dur telah berhasil menjadi talang air yang sempurna.
Mugi kita bisa meniru laku beliau, mbah. Lahul Faatihah.
Mugi manfaat.
#AyoNyarkub #AyoNgopi.

No responses yet