Saya tak percaya ada satu strategi dan taktik mujarab untuk menjawab semua masalah dalam hidup ini, termasuk cara mengubah, menghapus, atau menyodorkan kebijakan publik. Masing-masing strategi dan taktik punya risiko dan kelebihannya.
Jika ingin mengetahui ragam strategi dan taktik dalam advokasi kebijakan, Anda bisa membaca buku ini. Anda akan dibimbing, misalnya, agar mengerti membedakan strategi dan taktik advokasi. Dijelaskannya perbedaan keduanya dengan metafora operasi militer dalam perang. Saya sebetulnya tak terlalu suka penulis menyontohkan dengan “adegan kekerasan”. Mengapa tak menyontohkan dengan cara mencari pasangan. Kelemahannya, buku ini hanya menjadikan advokasi kebijakan di Amerika sebagai studi kasus.
Taktik adalah sejumlah aksi tertentu yang dilakukan selama perang. Sedang bagaimana memenangkan perang adalah contoh dari strategi. Salah satu strategi yang menarik minat saya yang disodorkan buku ini adalah “strategi luar-dalam”. Strategi dalam berarti melakukan beragam taktik agar dapat membangun hubungan dan bekerja sama dengan orang dalam pemerintah atau pengambil kebijakan. Sedang strategi luar bagaimana caranya membangun dukungan publik agar mempengaruhi kebijakan.
Strategi luar-dalam ini pertama kali dipromosikan Jack Walker, profesor pada Departemen Ilmu Politik Universitas Victoria Amerika pada awal 90-an.
Jika organisasi Anda mematok tujuan mengubah kebijakan, peganglah itu baik-baik. Baru berpikir strategi dan taktik apa yang akan dipakai. Jika berkolarobasi dengan pemerintah jauh lebih mudah mencapai tujuan, pilih strategi itu, tentu saja dengan berbagai risikonya. Salah satunya anggapan organisasi “plat merah”, terkooptasi, sekurang-kurangnya dianggap tak lagi kritis dan melempem, dan terkena demam yang disebut dengan “NGOism”, yang salah satunya dicirikan dengan piliha pada memilih fokus masalah” yang terlalu sempit atau sebaliknya pendekatan yang terlalu berlebihan dalam memilih strategi “ngajak berkelahi”.
Pandangan ini dapat dipahami dan harus menjadi pertimbangan dan panduan agar tak terjerembab lalu membelokkan tujuan Anda untuk berkolaborasi. Jika bergabung tidak baik dan berada di luar baik, atau sebaliknya, jelas sekali pilihan yang hitam-putih. Situasinya lebih rumit dari itu.
Kekuasaan tidak selalu berlangsung dengan satu jalan. Sementara dinamika yang berkembang akan jauh lebih rumit dan itu membantu organisasi anda mencari cara mencapai tujuan. Tidak sedikit organisasi yang mampu mempertahankan independensinya dan tetap fokus pada tujuan utama mereka. Karena itu untuk bisa menangkap dinamika kolaborasi itu, perhatian kita seharusnya dapat difokuskan pada kapasitas masing-masing organisasi dalam menavigasi ketegangan yang terjadi ketika kolaborasi berlangsung. Begitu tulisan Mergit Van Wessel dan kawan-kawan dalam “Government and civil society organizations: close but comfortable?”.
Sekali lagi kembali lah pada tujuan organisasi Anda: apa yang hendak dicapai. Memilih di dalam, di luar, mengambil gaya kupu-kupu, gaya dada atau jumpalitan, hanya soal cara. Bukan soal gagah-gagahan. Jika tujuan perubahan dapat dilakukan lewat kolaborasi, lakukan. Jika merasa tak mungkin, bekerja dari luar. Jika tujuan organisasi Anda memang hanya mau berada di luar, konsisten pada tujuan itu. Sekali lagi, kembalilah pada tujuan Anda. Innama al-a’malu bi an-niyat, segala perbuatan akan berpulang pada niat.
Jika Anda ingin memilih strategi kolaborasi, hasil amatan Amy Risley, Profesor Kajian internasional dari Rhodes College, tentang organisasi masyarakat sipil di Amerika Latin ini dapat anda jadikan iktibar. Tentu saja ada kesulitan-kesulitan di dalamnya kolaborasi. Tetapi kajian itu juga menyajikan kisah-kisah penting bagaimana organisasi masyarakat sipil mencapai tujuannya dengan cara berkolaborasi bersama pemerintah. Risley merumuskan dua kata kunci keberhasila: kekuatan persuasi dan kemitraan. Kedua kekuatan ini mula-mula akan ditentukan kemampuan dalam mengemas dan membangun kerangka melihat masalah yang bisa diterima pengambil kebijakan.
Kalimulya, 18 November 2020
Alamsyah M Djafar

No responses yet