Categories:

Oleh: Khasfa Nafeezah Fikriatunnisa

Instalasi: Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Kemunculan Psikolog Islam dinilai sebagai pengkritis terhadap Psikologi barat, karena peradaban modern yang didominasi oleh Psikologi barat telah gagal dalam menyejahterakan aspek moral spiritual manusia.

Fuad Anshori (2002:3-4) menguraikan tentang bagaimana awal mula adanya psikologi Islam. Menurut beliau gaungnya sudah dimulai sejak tahun 1978 pada simposium internasional tentang psikologi dan Islam (International Symposium on Psychology and Islam) di Universitas Riyadh Arab Saudi. Pada tahu 1979 diterbitkan sebuah buku di Inggris yang ditulis oleh Malik B Badri dengan judul The Dilemma of Muslim Psychologist. Symposium Internasional dan lahirnya buku tersebut seperti batu loncatan bagi perkembangan Psikologi Islam yang kemudian memberikan banyak inspirasi, dan munculah berbagai respon dari berbagai belahan dunia.

Perkembangan psikologi agama di wilayah timur (Islam) sebenarnya telah lebih dulu dilakukan dibanding di dunia barat, seperti dalam kurun waktu yang lebih awal yaitu Ibn Tufail (1110-1185 M), dan juga Imam Ghazali (1059-1111M), kedua tokoh ini telah membahas apa yang disebut oleh dunia barat sebagai psikologi agama. Selanjutnya, penjelasan mendalam.

Masa Klasik (Abad ke-7 hingga ke-13 Masehi)

  • Al-Kindi (801-873 M), yang dikenal sebagai filsuf pertama dalam Islam. Ia menulis banyak karya tentang psikologi, seperti Risalah fi al-Nafs (Treatise on the Soul), Risalah fi Istiqlal al-Nafs (Treatise on the Autonomy of the Soul), dan Risalah fi al-Aql (Treatise on the Intellect). Ia juga mengembangkan konsep-konsep psikologis seperti tabula rasa, nafsiyyah (psikis), fitrah (alam bawaan), dan ruh (jiwa).
  • Al-Farabi (870-950 M), yang dikenal sebagai filsuf kedua dalam Islam. Ia menulis banyak karya tentang psikologi, seperti Kitab al-Nafs (Book of the Soul), Kitab al-Aql wa al-Nafs (Book of the Intellect and the Soul), dan Kitab al-Huruf (Book of Letters). Ia juga mengembangkan konsep-konsep psikologis seperti nafs al-natiqah (jiwa berbicara), nafs al-hayawaniyyah (jiwa binatang), nafs al-nabatiyyah (jiwa tumbuhan), dan nafs al-jamadiyyah (jiwa benda mati).
  • Ibn Sina (980-1037 M), yang dikenal sebagai filsuf ketiga dalam Islam. Ia menulis banyak karya tentang psikologi, seperti Kitab al-Shifa’ (Book of Healing), Kitab al-Najat (Book of Salvation), dan Kitab al-Isharat wa al-Tanbihat (Book of Directives and Remarks). Ia juga mengembangkan konsep-konsep psikologis seperti nafs al-insaniyyah (jiwa manusia), nafs al-malakiyyah (jiwa malaikat), nafs al-hayulaniyyah (jiwa potensial), dan nafs al-fa’iliyyah (jiwa aktual).
  • Al-Ghazali (1058-1111 M), yang dikenal sebagai mujaddid (pembaharu) dalam Islam. Ia menulis banyak karya tentang psikologi, seperti Ihya’ Ulum al-Din (Revival of Religious Sciences), Kimiya’ al-Sa’adah (Alchemy of Happiness), dan Tahafut al-Falasifah (Incoherence of the Philosophers). Ia juga mengembangkan konsep-konsep psikologis seperti qalb (hati), sirr (rahasia), ruh (roh), aql (akal), nafs (ego), dan khawatir (khayalan).
  • Ibn Arabi (1165-1240 M), yang dikenal sebagai syaikh al-akbar (guru besar) dalam tasawuf. Ia menulis banyak karya tentang psikologi, seperti Futuhat al-Makkiyyah (Meccan Revelations), Fusus al-Hikam (Bezels of Wisdom), dan Ruh al-Quds fi Munasahat al-Nafs (Spirit of Holiness in Counseling the Soul). Ia juga mengembangkan konsep-konsep psikologis seperti wahdat al-wujud (kesatuan wujud), wahdat al-syuhud (kesatuan kesaksian), a’yan thabitah (prototipe abadi), dan barzakh (perantara).

Masa Modern (Abad ke-19 hingga sekarang)

  • Muhammad Iqbal (1877-1938 M), yang dikenal sebagai penyair dan filsuf dari Pakistan. Ia menulis banyak karya tentang psikologi, seperti The Development of Metaphysics in Persia, The Reconstruction of Religious Thought in Islam, dan The Secrets of the Self. Ia juga mengembangkan konsep-konsep psikologis seperti khudi (diri), khirad (intelek), ishq (cinta), mard-i-mumin (manusia beriman), dan mard-i-kamil (manusia sempurna).
  • Malik Badri (1932-sekarang), yang dikenal sebagai bapak psikologi Islam kontemporer. Ia menulis banyak karya tentang psikologi, seperti The Dilemma of Muslim Psychologists, Contemplation: An Islamic Psychospiritual Study, dan The AIDS Crisis: A Natural Product of Modernity’s Sexual Revolution. Ia juga mengembangkan konsep-konsep psikologis seperti taqwa (ketakwaan), tawakkul (pasrah), sabr (sabar), shukr (syukur), dan rida (ridha).
  • Abdul Hamid Abu Sulayman (1936-sekarang), yang dikenal sebagai salah satu pendiri International Institute of Islamic Thought (IIIT). Ia menulis banyak karya tentang psikologi, seperti Crisis in the Muslim Mind, The Islamic Theory of International Relations: New Directions for Islamic Methodology and Thought, dan Revitalizing Higher Education in the Muslim World: A Case Study of IIUM. Ia juga mengembangkan konsep-konsep psikologis seperti islamisasi ilmu pengetahuan, metodologi ilmiah Islami, dan integrasi antara wahyu dan akal.
  • Syed Muhammad Naquib Al-Attas (1931-sekarang), yang dikenal sebagai salah satu pendiri International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC). Ia menulis banyak karya tentang psikologi, seperti Prolegomena to the Metaphysics of Islam: An Exposition of the Fundamental Elements of the Worldview of Islam, Islam and Secularism, dan The Concept of Education in Islam: A Framework for an Islamic Philosophy of Education. Ia juga mengembangkan konsep-konsep psikologis seperti adab (etika), ta’dib (pendidikan), tarbiyah (pembinaan), dan ta’lim (pengajaran).

Psikologi Islam di Indonesia

Para ahli psikologi di berbagai negara banyak yang merespon terhadap International Symposium on Psychology and Islam dan The Dilemma of Muslim Psychologist, termasuk di Indonesia, yaitu  dengan terbitnya  sebuah buku pada tahun 1994 dengan judul Psikologi Islami : Solusi Islam atas Problem-problem Psikologi yang ditulis oleh Jamaludin Ancok dan Fuad Anshoru Suroso) yang diterbitkan bersamaan dengan berlangsungnya kegiatan Simposium Nssioanal Psikologi Islami I (Universitas Muhamadiyah Surakarta). Buku inilah yang menurut banyak kalangan yang menandai kebangkitan psikologi Islam di Indonesia, bahkan ada yang mengatakan Buku Suci dalam wacana perkembangan psikologi Islam di Indonesia. Selanjutnya dalam setiap tahunnya di Indonesia selalu diadakan dua atau empat kali pertemuan ilmiah mengenai psikologi Islam, dengan menggunakan nama simposium nasional, dialog nasioanal dan seminar nasional. Hal ini tentu menggembirakan berbagai kalangan yang mendambambakan adanya solusi islami husus dalam kejiwaan.

Perkembangan selanjutnya ketikan para pengkaji utama psikologi Islam di Indonesia seperti Jamaludin Ancok, Fuad Anshori, Hana Jumhana, Arif Wibisono Adi dan Subandi, mereka selalu menggunakan istilah psikologi Islami dalam berbagai kesempatan pertemuan ilmiah dan berbagai tulisannya akan tetapi berdasarkan catatan beliau yang pertama kali memperkenalkan psikologi Islami adalah Baswardono pada tahun 1987 ( Fuad Anshori,  2002:6).

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *