Oleh : KH Sholahuddin al Aiyub
Kabar duka itu akhirnya datang juga. Pagi ini tersiar kabar Prof. Dr. Hj. Khuzaemah Tahido Yanggo berpulang ke Rahmatullah. Setelah sebelumnya beliau dirawat intensif di RSUD Banten. Berbagai ikhtiar untuk kesembuhan telah diupayakan maksimal oleh tim dokter, keluarga, kolega dan murid-murid beliau. Termasuk mengupayakan obat yang sedang sangat langka di pasaran. Dengan berbagai upaya, alhamdulillah, obat dimaksud didapatkan kemarin, sehari sebelum beliau akhirnya berpulang ke Rahmatullah.
Ajal memang sebuah misteri. Tidak ada yang bisa mengetahui kapan datangnya. Ia sudah termaktub pasti di azali. Oleh karenanya, apapun upaya dan ikhtiar yang telah dilakukan, jika saatnya tiba maka tak ada daya ataupun upaya yang dapat memundurkan atau memajukannya. Setelah harapan itu kembali menebal setelah memeroleh obat yang sangat dibutuhkan, tapi ternyata Allah lebih menyayangi beliau dengan memanggilnya pulang di hari Jumu’ah yang sangat penuh berkah ini. Mungkin ini adalah hal terbaik dan tanda bukti kasih sayang Allah kepada beliau.
Bu Huzaemah memang istimewa. Mungkin bisa dibilang langka. Perempuan Indonesia pertama yang mendapatkan gelar doktor dari Universitas Al-Azhar, Mesir dan dengan predikat cum laude. Bidang yang ditekuni pun terbilang langka, yaitu fikih perbandingan. Bisa terbayang betapa luas ilmunya di bidang fikih. Maka tidak heran jika di forum-forum nasional yang membahas tentang hukum Islam hampir dipastikan beliau ini terlibat.
Pokoknya masalah kemampuan keilmuan (kafaah ‘ilmiyah) beliau ini tidak diragukan dan sudah umum diketahui. Dibuktikan dengan berbagai posisi beliau: sebagai guru besar di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, sebagai rektor Institut Ilmu Al-Quran jakarta, pimpinan MUI, dan pengurus berbagai Lembaga lain. Yang unik beliau ini juga masuk di kepengurusan PBNU. Tepatnya sebagai a’wan. Terbilang unik karena pengurus PBNU itu pria semua. Perempuan yang aktif di NU biasanya berhimpun di Muslimat NU atau fatayat NU. Adanya beliau di jajaran kepengurusan PBNU menjadi bukti bahwa beliau ini punya kapasitas kelimuan yang tinggi.
Saya mengenal beliau lumayan sudah lama. Seingat saya tahun 2000, saat pertama saya berkhidmat di MUI sebagai sekretaris Ketua Umum MUI, al-mukarram wal-muhtaram al-maghfur lahu KH. Muhammad Ahmad Sahal Mahfudh. Sampai dengan tahun 2021 saya banyak berinteraksi dengan beliau. Yang paling intensif adalah medio 2015-2020. Karena beliau dan saya punya amanah yang sama. Beliau sebagai ketua dan saya wakil sekjen MUI yang membidangi fatwa.
Selama saya berinteraksi dengan beliau, kesan saya beliau ini aktif sekali. Padahal usianya tak lagi muda. Lahir di Donggala, Sulawesi Tengah, 75 tahun lalu. Keaktifannya ngalah-ngalahin yang lebih muda. Misalnya di beberapa event saya dan beliau sama-sama menjadi tim perumus. Sering pekerjaan perumusan dilakukan sampai jauh larut malam, bahkah lewat tengah malam. Beliau tetap bersama tim dengan pikiran-pikiran bernasnya. Tidak terlihat kelelahan dari nada bicaranya. Dengan usia sepuh seperti itu saya yakin beliau lelah. Tapi sedikitpun tidak dinampakkan oleh beliau. Semangat dan ghirahnya mungkin mengalahkan dan menutupi rasa lelahnya.
Saya juga terkesan dengan komitmen dan tanggungjawab beliau saat menjalankan amanah. Di beberapa penugasan organisasi, di mana saya berposisi sebagai sekretaris, saya sempat “kuwalahan” dengan keaktifan beliau. Sering sekali beliau telfon langsung untuk mengkoordinasikan pelaksanaan tugas-tugas tersebut. Rapat daring saja beliau ikut sampai larut malam. Mungkin itu bentuk komitmen dan tanggungjawab beliau.
Saya juga punya kesan humanistik dari sosok ini. Dibalik keseriusannya, ternyata beliau ini juga suka guyon. Di beberapa kesempatan, saya melontarkan guyonan ke beliau di forum terbuka. Beliau sama sekali tidak terganggu dengan guyonan itu. Bahkan menimpalinya dengan guyonan lain yang lebih seru.
Di lain kesempatan, beliau juga tidak segan-segan untuk bertanya tentang “bahan materi” yang harus disampaikan di sebuah forum. Bagi saya, ini sesuatu banget. Beliau yang secara keilmuan jauh lebih alim, tapi dalam hal-hal tertentu yang beliau tidak tau, tak segan-segan beliau bertanya, bahkan pada orang seperti saya yang secara umur dan kafaah ilmiyah jauh sekali dibanding beliau. Itu tidak akan terjadi kecuali dari sosok yang punya ketawadluan yang luar biasa.
Jadi, dalam pandangan saya, selain sebagai seorang ulama perempuan terkemuka, beliau ini juga adalah seorang aktifis tulen, seorang pendidik yang tekun, dan seorang mitra yang pembimbing. Hari ini, di hari yang baik ini, beliau dipanggil pulang ke Rahmatullah. Dengan segala ilmu yang beliau miliki. Kita yang pernah berinteraksi dengan beliau hanya bisa mengenang, mengingat, dan mendoakannya.
Semoga beliau diampuni dosa-dosanya, dilipatgandakan pahala amal kebaikannya, dan dimasukkan ke surga Bersama para anbiya, syuhada, shalihin. Amiin.
Selamat jalan bu prof..

No responses yet