Oleh: Fernanda Ridwansyah (Mahasiswa Universitas Dirgantara Mrsekal Suryadarma)
Pengertian Seni Hadrah
Hadrah adalah seni khas laki-laki, dasarnya adalah qasidah yang merupakan dasar pelajaran para penabuh dan penari sebelum mereka mulai memukul tambur datar (terbang atau rebana) atau mulai gerak dasar dari kreografi di dalam posisi duduk atau berdiri. Qasidah yang digunakan dalam hadrah pada umumnya berasal dari Kitab Hadrah, Kitab Berjanji, dan Kitab Diba’.5 Kumpulan hadrah selalu menampilkan sebaris penabuh, para pemokol, yang terdiri dari empat atau lima terbang, skadang-kadang sebuah jidur dan satu atau dua gendang, serta sekelompok puluhan penari. Penari itu juga membentuk suatu paduan yang bersahut-sahutan dengan melodi, doa, dan nyanyian,dan pemusik yang memimpin secara bergilir. Kumpulan hadrah terdiri dari tiga puluh sampai enam puluh orang, dan berpentas pada acara arisan kaum laki-laki, merhabanan, sunatan, pernikahan, atau perayaan publik (perayaan Islam dan Nasional). Kumpulan itu adalah satu-satunya yang diperkenankan memasuki Masjid, terutama pada waktu perayaan pesta besar Maulud Nabi.6 Istilah hadrah dan hadi berasal dari satu kata bahasa Arab yang sama, yaitu “hadir” atau dari “hadirat”.
sedangkan istilah ruddad megacu sekaligus pada sahutan paduan suara kepada pemimpin pertunjukan yang juga penari, pennyanyi, dan istilah hadi adalah serta gerakan tari yang menyertai paduan suara itu.
Kesenian itu konon diciptakan oleh seorang ulama di Madinah atau di Mekah. Sunario seorang ahli hadrah kelahiran Sumenep pada tahun 1929, telah mengenal hadrah, samman, dan gambus sejak dia muda (selain itu , istilah-istilah ini dicatat oleh Kiliaan). Memang beberapa kelompok yang kini masih aktif didirikan pada tahun 30-an.7 Dari
Namanya mungkin terdengar sangat asing. Namun hadrah sudah sangat populer di kalangan majelis taklim yang dipimpin oleh beberapa ulama, kyai, dan habib yang kemudian menyebar di kalangan masyarakat. Hadrah dari segi bahasa diambil dari kata ‘hadhoro-yudhiruhadhron-hadhrotan’ yang berarti kehdiran. Tapi dalam pengertian istilahnya adalah sebuah alat musik sejenis rebana yang digunakan untuk acara-acara keaagamaan seperti Maulid Nabi SAW. Hadrah juga tidak hanya sebatas untuk acara maulid nabi saja, tetapi digunakan untuk ngarak (mengiringi) orang sunatan atau orang kawinan Sejarah hadrah secara historis masyarakat Madinah pada abad ke-6 telah menggunakan hadrah sebagi musik pengiring dalam acara penyambutan atas kedatangan nabi Muhamad SAW yang hijrah dari mekah.
Masyarakat madinah kala itu menyambut kedatangan beliau dengan syair Thaala’al Badru yang diiringi dengan hadrah, sebagai ungkapan bahagia atas kehadiran seorang Rasul ke bumi itu. Kemudian hadrah digunakan sebagai sarana dakwah para penyebar Islam. Dengan melantunkan syair-syair indah yang diiringi alat musik perkusi, pesanpesan agama Islam mampu dikemas dan disajikan lewat sentuhan seni arsitistik musik Islami yang khas. Sebenarnya hadrah bukan suatu hal yang baru dalam masyarakat. Hadrah sudah ada sejak zaman dahulu. Awalnya, hadrah berasal dari bangsa Arab dan Negara Timur Tengah. Di Indonesia, sekitar abad 13 Hijriyah seorang ulama besar dari Negeri Yaman yang bernama Habib Ali bin Muhammad bin Husain alAbsyi (1259-1333 H/ 1839 M) datang ke tanah air dalam misi berdakwah menyebarkan agama Islam. Di samping itu, beliau juga membawa sebuah kesenian Arab berupa pembacaan shalawat yang diiringi rebana ala Habsyih atau yang dikenal saat ini adalah hadrah. Dengan cara mendirikan majelis shalawat dan pujian-pujian terhadap rasulullah sebagai sarana kecintaan kepada Rasulillah SAW.8 Selang beberapa waktu majelis menyebar ke seluruh penjuru daerah terutama Banjar Masin Kalimantan dan Jawa. Beliau , Habib Ali bin Muhammad bin Husain al- Absyi juga sempat mengarang sebuah buku yang berjudul “Simthu Al-Durar” yang di dalamnya memuat tentang kisah perjalanan dari sebelum lahir sampai wafatnya Rasulullah SAW.
Di dalamnya berisi bacaan shalawat-shalawat dan pujian-pujian kepada Rasulullah. Bahkan seringkali dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW kitab itulah yang sering dibaca dan diiringi dengan alat musik hadrah. Sehingga sampai sekarang kesenian ini pun sudah melekat pada masyarakat, khususnya para pecinta shalawat dan maulid Nabi Muhammad SAW, sebagai sebuah eksistensi budaya Islam yang harus selalu dijaga dan dikembangkan. Dari uraian di atas dapat dijelaskan seni hadrah adalah seni khas laki-laki yang mengacu untuk mengingat kepada Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW.
Tujuan Seni Hadrah
Kesenian ini bukan sekedar dimainkan untuk didengar dan dinikmati sendiri, tapi kesenian ini juga seringkali dipagelarkan di hadapan masyarakat, selain itu acara-acara rutin sebagai tradisi, meskipun enak didengar ditelinga, kesenian ini dimaksudkan bukan untuk menjadi sekedar tontonan semata karena kesenian ini adalah bagian dari syair dan bukan hiburan semata. Kesenian hadrah tidak lepas denga solawat. Umumnya shalawat itu ialah doa kepada Allah SWT untuk Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan sahabatnya. Jenis musik tradisional ini biasanya diekspresikan dalam bentuk gaya bermacammacam. Seni tradisional Islam ini tidak hanya tumbuh dan berkembang di Indonesia saja, melaikan juga negara-negara Asia yang lainya, Timur Tengah, Afrika, dan negar-negara di mana umat Islam berada.
Dari uraian di atas tujuan seni hadrah bukan hanya sekedar dimainkan saja tetapi juga didengar karna lantunan syair-syairnya mengingatkan kita kepada Allah SWT dan Rasullunya.
Fungsi Seni Hadrah
Fungsi seni hadrah untuk menentramkan pikiran manusia serta dapat memperbaiki tabiat manusia. Selain itu, sebagai alat menifestasikan atau penyemangat dalam meningkatkan moralitas dan spiritualitas dalam kehidupan. Di samping itu, hadrah dapat berfungsi sebagai sarana atau alat untuk berdzikir, sebagai menifestasikan dan wujud syukur kepada Allah SWT atas nikmat yang telah dia berikan kepada hamba-hambanya.
Hadrah Sebagai Kesenian Islam
Hadrah adalah seni Islam yang di dalamnya ada nilai agama yang mempengaruhi kespiritual hadrah tersebut. Islam sangat kuat mempengaruhi kebudayaan Indonesia di bidang kemasyarakatan dan kenegaraan. Unsur-unsur yang termuat di dalamnya tentang adil, adab, rakyat, hikmat, musyawarah, atau para ulama menyebutnya ra’s al-hikmah al-mashurah, “kebijaksanaan adalah musyawarah”. Dilihat dari aspek spiritual kesenian hadrah tentu mengandung nilai Islam yang lebih menonjol, terlebih hadrah adalah akulturasi Islam-Jawa, dan lebih bernuansa Islami dibandingakan dengan kejawaannya. Hadrah (shaalawatan) berasar dari kata sholawat yang merupakan bentuk jamak asholat berarti do’a atau sembayang.
Shalawat ialah bentuk ibadah yang diajarkan Allah lewat Al-Quran, seperti yng terkandung dalam surat Al-Ahzab ayat 56 yang Artinya : ”Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”
Perintah untuk beribadah membuat umat Islam mengembangkan shalawat dan berbagai bentuk seni, di antaranya aalah seni shalawatan atau seni hadrah Adanya kesenian hadrah ini mengundang kekereativitasan umat Islam baik kreativitas lisan, tulisan, dan praktik. Shalawatan atau hadrah ini diperuntukkan Nabi Muhamad SAW, yang isinya berupa pujipujian, mempelajari kisah hidup Nabi, penghormatan kepada Nabi dan lain sebagainya. Sehingga shalawatan atau rebana kini menjadi tradisi umat muslim yang dipercaya dapat memudahkan untuk berdoa. Hadrah merupakan jenis kesenian musik Islami (spiritual). Sebab, dilihat dari lantunn syair yang dipakai adalah syair-syair Islam yang menjunjung tinggi Rasulullah Saw. hadrah atau shalawatan adalah kunci pembuka kebaikan kebenaran Ilahi baik dalam bentuk pembacaan AlQuran (tilawah) dan nyanyian religius yang berhubungan dengan Rasulullah SAW (Alberjanji) serta serangkaian doa suci. Sehingga sangat jelas sekali seni rebana memiliki banyak aspek spiritual yang tinggi (Islami).

No responses yet