Categories:

Oleh    : Khoiru Surya Nugroho (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik \Universitas Muhammadiyah Prof.DR.HAMKA )

Senioritas secara harfiah menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia dalam Tampani (2016) diartikan sebagai keadaan yang lebih tinggi dalam hal pangkat, usia dan pengalaman. Pada lingkungan di sekolah pun kita bisa menemukan bentuk dari senioritas dari kakak kelas kita. Senioritas ini muncul karena adanya “tradisi” turun-temurun dari para pendahulu nya. Banyak sekolah di Indonesia yang menerapkan sistem senioritas diantara murid yang berbeda tingkat. Dengan adanya sistem senioritas yang diterapkan di sekolah membuat para senior ingin merasa dihormati oleh para juniornya. Hal tersebut juga dijadikan alasan para senior untuk “menyiksa” para juniornya jika para juniornya berbuat hal yang tidak disukai para senior. 

Puncak dari senioritas ini terjadi dengan adanya kekerasan dalam bentuk perpeloncoan atau “tataran” dengan dalih untuk melatih mental, fisik, dan juga sopan santun. Biasanya, para senior tidak akan melakukan nya sendirian, tetapi mereka akan mengajak teman nya untuk meramaikan kegiatan tersebut, entah mereka takut atau dengan mengajak teman dan meramaikan nya, maka junior akan merasa takut.

Sasaran dari para senior ini adalah para murid baru. Dengan dalih ingin mempertahankan budaya senioritas yang telah berlangsung lama. Bentuk dari kekerasan ini contohnya seperti, memukul, membentak, meminum air yang dicampur dengan air liur para senior, dan masih banyak lagi. Banyaknya kasus kekerasan yang telah terjadi dalam lingkungan pendidikan hingga menyebabkan hilangnya nyawa seseorang tentu membuat siapa saja geram membacanya. Perikemanusiaan para pelaku yang menganggap dirinya senior patut dipertanyakan. Bagaimana bisa mereka menghilangkan nyawa seseorang hanya karena ingin dihormati? 

                                    Studi Kasus Senioritas di Daerah Jakarta Barat 

            Praktik senioritas di lingkungan pendidikan sangat banyak terjadi, bahkan mungkin hampir di setiap sekolah telah mempraktikan sistem ini. Disini saya melakukan wawancara pada seorang korban dari praktik senioritas di sekolah berinisial (R) yang berusia 18 tahun ketika masih menjadi murid baru di sekolah pada tahun 2022. Waktu ia pulang sekolah dan sedang ada di parkiran sekolah, ternyata disana para senior sudah menunggu di area parkiran sekolah. Lalu, para senior pun menyuruh dan mengajak secara paksa untuk menuju ke sebuah lapangan yang dimana tempat yang biasa di tempati untuk nongkrong pada saat pulang sekolah. Setelah (R) dan teman-teman seangkatan nya tiba di lapangan, para senior pun menyuruh mereka untuk berbaris secara rapih dan menyuruh untuk melepas baju seragam mereka. Lalu, para senior membagi mereka menjadi beberapa kelompok, ternyata mereka menyuruh para junior untuk saling berkelahi satu sama lain dengan teman seangkatan nya sampai para seniornya menyuruhnya untuk berhenti. Setelah mereka selesai berkelahi, mereka dibariskan kembali dan menyuruh para junior untuk melakukan push-up sambil dipecut dengan ranting pohon sampai punggung merah. Lalu, para senior mengeluarkan satu botol air mineral dan meludahinya untuk diberikan kepada junior agar diminum dan tidak boleh dimuntahkan, jika dimuntahkan para senior mengancam akan memukul wajahnya. Para senior mengeluarkan sebuah permen karet dan menyuruh junior untuk mengunyah nya secara bergilir dari ujung hingga kembali lagi ke ujung. Setelah mengalami kejadian itu, (R) mengaku sangat trauma dan sangat membenci seniornya. Ia mengalami kecemasan, ketakutan, dan malas untuk pergi ke sekolah. Bahkan, ia mengaku menyesal masuk ke sekolah tersebut dan ia menjadi stress, merasa tidak aman, dan tidak percaya diri.

            Dari kasus ini saya mempunyai solusi, jika menjadi korban harus berani melapor kejadian ini ke pihak sekolah, jika melapor ke pihak sekolah dan pihak sekolah cepat untuk mengatasi masalah ini, maka para pelaku dari senioritas ini akan ditindak lanjuti dan dihukum, atau bahkan di keluarkan dari sekolah. Jika seperti ini, maka lingkungan sekolah akan menjadi aman dan tidak ada ketakutan untuk pergi ke sekolah untuk siswa-siswa nya. Jika para korban memilih diam dan tidak melapor, maka tindakan senioritas ini akan berjalan secara terus-menerus yang akan membuat kenyamanan untuk sekolah menjadi hilang karena adanya rasa takut yang menghantui pikiran secara terus-menerus.

Teori Kontrol Sosial

            Teori kontrol sosial di pelopori oleh Travis Hirschi. Teori kontrol sosial merupakan teori yang melihat perilaku menyimpang dan perilaku tidak menyimpang yang di lakukan oleh seseorang (Kusumastuti & Hadjam, 2019). Teori tersebut juga menjelaskan bahwa kurangnya sosialisasi serta integrasi dengan lingkungan (keluarga, masyarakat, sekolah) telah menyebabkan timbulnya perilaku menyimpang. Dimana, dalam teori tersebut memfokuskan mengenai perilaku menyimpang yang di lakukan oleh remaja. Selain itu Travis Hirschi (dalam Khodijah, 2018) menjelaskan dalam teorinya yakni perilaku tidak taat aturan merupakan perilaku dasar setiap manusia, maka dibutuhkan kontrol sosial agar manusia patuh pada aturan yang berlaku dan turut serta dalam upaya kontrol sosial di masyarakat. Terdapat 4 unsur kontrol sosial menurut Hirschi (dalam Sulaiman, 2020) yakni attachment,yaitu keterlibatan seseorang kepada orang lain yang akan menimbulkan perilaku peduli dan mengetahui keadaan lingkungannya. Commitment, yakni ikatan seseorang dengan lembaga (sekolah, organisasi, pekerjaan, dan lain-lain) dimana ketika lembaga tersebut memberikan manfaat maka akan memperkecil kemungkinan terjadinya perilaku menyimpang. Involvement, yakni kesibukan individu dalam suatu kegiatan akan membuat individu tersebut tidak sempat memikirkan untuk berbuat menyimpang. Beliefs, yakni keyakinan individu terhadap nilai-nilai yang ada di masyarakat akan membuat individu tidak melakukan perilaku menyimpang. Ketika kontrol sosial dalam suatu masyarakat tidak berjalan dengan baik maka akan menimbulkan perilaku yang menyimpang. Selain itu, kurangnya kontrol sosial mengakibatkan individu akan bebas berperilaku sesuai apa yang di inginkannya. Oleh karena itu timbul perilaku menyimpang yang dilakukan oleh individu.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *