Kesejatian seorang Master hampir mustahil anda temui, sebab Dia ibarat cermin untukmu sebagaimana jagad raya ini juga sebuah cermin. Ketika anda menemui seorang Master, anda hanya akan menemui refleksi dari dirimu sendiri, sebuah versi dirimu yang sedikit lebih tinggi dari keadaanmu saat bertemu dengannya. Namun jiwa asli Sang Master hampir tidak dapat anda jumpai.
Seorang Master selalu menyesuaikan keadaanmu. Dia tidak akan langsung menyuguhkan realita kepadamu, bahkan dalam seumur hidupmu belum tentu realita akan disampaikan kepadamu jika wadahmu belum bisa kosong.
Tidak ada seorang pun yang langsung siap dengan sebuah realita fakta kasunyatan, semua orang suka kebohongan yang membuat nyaman dirinya, suka halusinasi bahkan delusi (halusinasi akut).
Oleh sebab itu seorang Master membelokkan halusinasi itu secara pelan pelan, tidak akan langsung dipatahkan.
Pernah suatu ketika seorang murid berkunjung ke rumah gurunya, kemudian oleh gurunya, ia diajak ke ruang meditasi. Si murid melihat banyak koleksi keris terpajang di dinding ruangan tersebut, ia yang masih memiliki pemahaman dangkal dan kolot tentunya membathin: “guruku kok koleksi keris ya?..
Keris kan musyrik?.. Gimana kalau itu ada khodamnya? Apa gak bid’ah ya?”
Tapi si murid tidak berani mengungkapkan hal tersebut kepada Sang guru, ia sungkan. Selang sebulan kemudian, si murid kembali datang ke rumah gurunya karena suatu keperluan. Seperti biasa ia diajak ke ruang meditasi. Si murid kaget, sebab kali ini di ruang itu sudah tidak ada satu keris pun yang terpajang.
Begitulah seorang Guru/Master. Memahamkan esensi keris atau pusaka akan sangat sulit diterima untuk kedangkalan si murid saat itu, maka lebih mudah untuk menyesuaikan tingkat penerimaan si murid dahulu, sehingga Sang Master tidak memajang pusaka atau keris kerisnya, demi kenyamanan si murid.
Halusinasi dan delusi manusia tidak bisa dipatahkan secara langsung, hal demikian hanya akan menimbulkan konflik dan semakin menjauhkannya dari realita fakta kasunyatan.

No responses yet