Kita tentu sering mendengar keluhan orang-orang yang menyesali kehidupan masa lalunya karena tidak bisa memanfaatkan waktu dengan baik. “Coba dulu waktu kecil saya belajar ngaji, tentu setelah dewasa seperti ini saya sudah mahir mengaji”, demikian keluh seorang kawan. “Saya menyesal, kenapa waktu muda dulu saya malas-malasan, tidak mau bekerja keras, sehingga di masa tua sekarang saya masih dibelit masalah ekonomi yang tak kunjung selesai”, kata seorang tetangga yang usianya sudah tidak muda lagi. “Kalau tahu dari dulu enak seperti ini, saya tidak akan menunda-nunda untuk menikah…” he..he.. kalau yang ini candaan seorang teman yang baru menikah setelah usianya melewati kepala tiga.

Sederet keluhan dan rasa penyesalan tentang kehidupan masa lalu, yang sering dilontarkan oleh orang-orang di sekeliling kita, atau mungkin oleh kita sendiri, pokok persoalannya adalah karena mereka atau kita tidak dapat memanfaatkan waktu dengan baik dan maksimal. Seandainya kita mampu memanfaatkan tiap detik dalam kehidupan ini dengan baik dan maksimal, tentu tidak akan pernah ada kata-kata penyesalan tersebut.

Di dalam al-Qur’an, terdapat satu surah yang menunjukkan betapa manusia akan mengalami kerugian secara total, jika tidak dapat memanfaatkan waktu secara maksimal. Surah al-‘Ashr ayat 1-3 menegaskan akan hal itu: “Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.”

Dari keterangan ayat tersebut dapat kita ketahui betapa berharganya waktu, betapa bernilainya masa, betapa pentingnya kesempatan. Dari ayat tersebut juga kita dapat mengetahui bahwa sesungguhnya setiap manusia berpotensi untuk mengalami kerugian, kegagalan, kekecewaan bahkan kesengsaraan. Sebaliknya, ada manusia yang tidak akan mengalami kerugian, tetapi justru akan mendapat keuntungan, kesenangan dan kebahagiaan. Dengan kata lain, waktu akan menunjukkan siapa yang akan menjadi pecundang dan siapa pula yang akan menjadi pemenang.

Jika menilik keterangan dari surah al-‘Ashr ayat 1-3 di atas, kita dapat mengambil sebuah kesimpulan besar, yaitu hanya ada dua kelompok manusia di dunia ini dan di akhirat kelak. Kelompok pertama adalah gologan orang-orang yang merugi, menyesal, kecewa, sengsara, kalah, atau menjadi pecundang. Inilah yang kemudian disebut sebagai golongan kiri (ashhabu asy-syimal). Kelompok kedua adalah golongan orang-orang yang beruntung, bahagia, senang atau menjadi pemenang. Inilah yang kemudian disebut sebagai golongan kanan (ashhabu al-yamin).

Layaknya dalam sebuah kompetisi yang selalu saja menghadirkan sosok pecundang (the loser ) dan pemenang (the winner ), dalam kehidupan ini pun demikian adanya. Akan selalu hadir di muka bumi ini sosok antagonis, orang-orang jahat, para pendosa yang mengisi kehidupannya dengan segala bentuk perangai buruk; kekufuran, kesombongan, keserakahan, kedengkian, dan berbagai sifat buruk lainnya. Namun demikian, hadir pula di muka bumi ini sosok protagonis, orang-orang baik, para bijak bestari yang mewarnai kehidupannya dengan beragam perilaku positif; keimanan, kerendahan hati, kesabaran, kesantunan, kemurah-hatian, serta pelbagi perilaku positif lainnya.

Para pecundang adalah orang-orang yang tidak memanfaatkan setiap kesempatan yang datang kepadanya. Dia abaikan dan biarkan kesempatan itu pergi. Padahal, sebagaimana sering diungkapkan, bahwa kesempatan itu seringkali tidak datang untuk kedua kalinya.Orang-orang seperti ini tentu akan menyesali keadaannya. Padahal, penyesalan di kemudian hari itu tiada berguna.

Untuk dapat terhindar dari kondisi demikian, maka setiap kali ada kesempatan yang datang kepada kita, yang sesuai dengan cita-cita dan keinginan kita, maka harus segera kita ambil kesempatan tersebut. Dengan demikian, keinginan untuk mewujudkan cita-cita kita semakin mendekati kenyataan. Dangan usaha yang sungguh-sungguh, insya Allah cita-cita serta keinginan kita akan segera terwujud.

* Ruang Inspirasi, Selasa, 15 September 2020

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *