Calon istri saya; Wirda Mansur (dalam khayalan), sering mengangkat topik shalawat dalam media sosial dalam rangka mewujudkan keinginan yang dimimpikan. Mulai dari mobil mewah, rumah yang besar, bahkan jodoh.

Dalam lingkungan pergaulan saya, hal ini menimbulkan pro kontra. Ada yang mendukung, mungkin karena Wirda kali ya. Hahaha. Ada juga yang membantah, dengan iming-iming bahwa ibadah hanya khusus ditujukan untuk Allah semata, kalau sufi memang khusus cara pandangnya.

Asalnya, membaca shalawat dianjurkan kapan saja dan dimana saja. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abi Hurairah, Rasulullah bersabda: “bershalawatlah kalian, karena shalawat akan menjadi pembersih diri kalian”. Hadits ini tidak menunjukkan kepada waktu tertentu, yang berarti shalawat dianjurkan disetiap saat.

Bahkan, Imam as-Sakhawi dalam kitab al-Qaul al-Badi’ hal 51 berkata:

و ان علامة أهل السنة الكثرة منها.

Artinya: Termasuk dari tanda ahlus sunah adalah memperbanyak baca shalawat.

Sama seperti berdoa yang memiliki waktu khusus, dan bersiwak yang memiki tempat khusus, yang menjadikan keduanya makin dianjurkan. Begitu juga shalawat. Shalawat memiliki waktu-waktu khusus yang menjadikannya lebih dianjurkan untuk dibaca, misalnya ketika hari Jum’at, bahkan bisa wajib sebagaimana didalam shalat.

Diantara waktu khusus untuk bershalawat adalah ketika dihadapkan dengan sesuatu yang kita inginkan. Dalilnya hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Abi Aufa:

خرج علينا رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال: من كانت له إلى الله حاجة أو إلى أحد من بني ادم فليتوضأ فليحسن وضوءه و ليصل ركعتين ثم يثني على الله و يصلي على النبي صلى الله عليه وسلم. ( قال السخاوي في القول البديع ص ٢٣٠ أخرجه الترمذي و قال حديث غريب)

Rasulallah bersabda: barang siapa yang memiliki keinginan kepada Allah, atau kepada salah seorang diantara kalian, maka hendaknya ia berwudhu dan perbaguslah wudhunya, kemudian shalat 2 rakaat, setelah itu pujilah Allah dan bersalawat kepada nabi.

(Imam Sakhawi dalam kitab al-Qaul al-Badi’ hal 230 berkata: hadits ini diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan menurut beliau hadits ini Gharib)

Beberapa lembar setelah menyebutkan hadits ini, imam Sakhawi kemudian menyertakan sebuah kisah yang menguatkan bahwa shalawat sangat ampuh dalam mengabulkan keinginan.

Cerita ini diriwayatkan dari Abi Umamah bin Hanif: ada seorang lelaki yang datang ke Khalifah Ustman bin Affan untuk memohon beberapa keinginan, namun Utsman bin Affan tidak menanggapi keinginan tersebut.

Suatu ketika, lelaki ini bertemu dengan Abi Umamah bin Hanif dan mengadukan apa yang terjadi antara ia dan Khalifah. Abi Umamah pun memberi solusi agar lelaki ini untuk berwudhu dan pergi ke masjid, kemudian berdoa dengan doa: “ya Allah, aku menghadap engkau dengan keagungan derajat nabi Muhammad, nabi pembawa kasih sayang, agar engkau mengabulkan keinginanku” kemudian bershalawat.

Singkat cerita, lelaki ini melakukan apa yang diperintahkan. Tidak berlangsung lama, ia pun mencoba untuk kedua kalinya mendatangi Khalifah Ustman bin Affan dan memohon keinginannya. Tidak perlu banyak proses, akhirnya lelaki ini mendapatkan apa yang ia inginkan.

Hari berikutnya ia bertemu kembali dengan Abi Umamah bin Hanif.

“Terima kasih banyak, semoga Allah membalas mu dengan kebaikan. Akhirnya Khalifah mengabulkan permintaanku setelah engkau berbicara kepadanya”, sambut lelaki ini yang gembira, dan mengira Abi Umamah lah yang menyuruh Khalifah untuk menunaikan keinginannya.

Abi Umamah yang merasa heran pun berkata: “saya tidak berbicara kepada Khalifah, begitu juga sebaliknya. Namun, aku pernah menyaksikan Rasulullah yang didatangi oleh orang yang mengadu tentang masalah yang ada pada penglihatannya, kemudian Rasulullah memerintahkan orang tersebut sebagaimana apa yang saya perintahkan kepadamu. Tidak berlangsung lama, orang tersebut keluar dari masjid dan penglihatannya sehat seperti orang normal lainnya”.

Kisah ini dicantumkan oleh Imam al-Baihaqi dalam kitab ad-Dalain an-Nubuwwah.

Meskipun shalawat ini sangat ampuh dalam menghadapi berbagai hal, namun alangkah baiknya jika shalawat ini kita tujukan khusus sebagai penghubung Ruhani antara kita dan Rasulullah.

Setiap hari setidaknya mulut ini pernah basah karena aliran shalawat yang tak pernah berhenti. Melaksanakan perintah Rasulullah untuk memperbanyak bershalawat kepadanya. Imam Abu Thalib al-Makki dalam kitab Qut al-Qulub berkata: “jumlah shalawat bisa dikatakan banyak, jika melebihi dari 300 shalawat”.

Adapun apa yang dilakukan oleh calon istri saya dalam khayalan juga tidak bisa disalahkan. Karena dalilnya jelas, dan dikuatkan dengan bukti yang sudah paten dan nyata khasiatnya.

Cukup sebagai Kemulian seorang yang sering membaca shalawat bahwa nama dia selalu diucapkan oleh Rasulullah. Bayangkan dalam hati ketika engkau mengucapkan: “shalawat dan salam untuk mu wahai Rasulullah”, kemudian Rasulullah menjawab: “begitu juga untuk mu salam sejahtera wahai Fulan bin Fulan”. Begitu indah bukan?

Jangan lupa baca shalawat sambil liat foto, kalau mau jadi calon. Heheheh.



Jumat, 11 September 2020, Kairo.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *