Categories:

Pengembaraan ilmu

Petualangan imam Syafi’I dalam menuntut ilmu bermula ketika sang ibu mengajak beliau berhijrah dari tanah kelahirannya di Ghaza menuju tanah suci Mekah. Pada waktu itu umur beliau masih balita. Mula-mula beliau belajar Al Qur’an kepada ulama kota Mekah, dan belum menginjak umur 7 tahun beliau sudah mampu menghafalnya di luar kepala. Kemudian diteruskan dengan belajar kepada ulama-ulama besar Mekah dengan keberagaman ilmu yang mereka kuasai. Diantaranya adalah Ismail bin Qostantin, Sufyan bin Uyainah (seorang ahli hadits), Muslim bin Kholid Azzanjy (pakar fiqh), Sa’id bin Salim Al Qoddah, Dawud bin Abdurrahman Al ‘Atthar, dan Abdul Majid bin Abdul Aziz bin Ubay.

Setelah merasa cukup belajar pada ulama-ulama Mekah, beliau meneruskan pengembaraan intelektualnya ke Madinah. Pada waktu itu, ulama yang paling menonjol di Madinah adalah Imam Malik bin Anas, muallif kitab Muwatho’. Beliau ingin sekali belajar langsung kepada Imam Malik, akan tetapi melihat Syai’I yang masih berumur 13 tahun, imam Malik menganggap Syafi’i kecil belum layak untuk menerima pengajian langsung dari beliau, dan diperintahkannya untuk mengaji kepada murid-murid seniornya terlebih dahulu. Setelah Syafi’I kecil mengaji kepada murid-murid seniornya, baru Syafi’I disuruh menghadap dan membacakan apa yang baru saja ia pelajari. Imam Malik terkagum-kagum akan bacaan Syafi’I yang bagus dan teliti, dan langsung memberikan perhatian husus kepada Syafi’I kecil. Beliau belajar kepada imam Malik selama 15 tahun, yaitu dari tahun 164 H. sampai tahun 179 H.

Selain belajar intensif kepada imam Malik, beliau juga belajar kepada Ibrahim bin Sa’ad Al Anshory, Abdul Aziz bin Muhammad Ad Darowardy, Ibrahim bin Abi Yahya Al Aslamy, Muhammad bin Sa’id bin Abi Fadik dan Abdullah bin Nafi’ As Shoigh

Kemudian menuju Baghdad pada tahun 184 H. Disana belaiu secara intens belajar kepada imam Muhammad bin Hasan, seorang murid imam Abi Hanifah. Dari beliau , imam Syafi’I belajar tentang madzhad Hanafi secara mendalam dan juga mempelajari seluruh karya-karyanya. Disamping itu, imam Syafi’I juga belajar kepada imam Waki’ bin Jarroh, Abdul Wahab bin Abdul majid Atsaqofy Abu Usamah Hammad bin Usamah Al Kufy, Ismail bin ‘Ulayyah yang kesemuanya adalah para penghafal hadits nabi. Setelah merasa cukup, imam Syafi’I kembali ke Mekah untuk menggelar pengajian perdananya.

Beliau berumur 45 tahun ketika meninggalkan Mekah menuju ke Baghdad dalam rangka menyebar luaskan buah pemikirannya. Di Baghdad inilah, buah pemikiran Syafi’I dapat diterima secara luas dan mampu memberikan corak baru dalam kehidupan dan dunia intelektual penduduk Baghdad. Dari sinilah cikal bakal madzhab Syafi’I tersemai dan akan tumbuh menjadi madzhab yang dipeluk oleh mayoritas umat islam di seluruh dunia, terutama di kawasan Asia tenggara pada umumnya dan hususnya di Indonesia.

Setelah beberapa lama tinggal di Baghdad, beliau kembali ke Mekah, dan setelah itu kembali lagi ke Baghdad untuk ketiga kalinya pada tahun 198 H.. Akan tetapi beliau hanya tinggal beberapa bulan di Baghdad. Kemudian meneruskan perjalanannya menuju Mesir sampai Alloh memanggilnya pada tahun 204 H.

Dasar-dasar pengambilan hukum dalam madzhab Syafi’i

Dalam pengambilan hukum, madzhab Syafi’I senantiasa berpegang kepada Al Qur’an dan Hadits serta mengedepankan dalil (nash). Hal inilah yang menjadi ciri has madzhab Syafi’i. Beliau selalu menyandarkan segala hal kepada nash, disaat imam lain secara terang-terangan mengikuti kebiasaan penduduk di salah satu daerah atau taqlid kepada ulama-ulama generasi sebelumnya, seperti yang di lakukan oleh imam Malik dan imam Abu Hanifah, beliau tetap bersikukuh akan dalil nash. Dan apabila dalam Al Qur’an dan hadits tidak ditemukan sebuah dalil yang dapat digunakan sebagai sandaran hukum, beliau mengacu kepada pendapat para sahabat, setelah itu baru mengacu kepada qiyas, istishab dan terahir adalah istiqro’. Sedangkan untuk sumber-sumber yang lain, seperti maslahat mursalah, istihsan, adat kebiasaan penduduk Madinah dan ajaran/syariat nabi terdahulu, imam Syafi’I tidak mempergunakannya.

Mata rantai periwayatan madzhab Syafi’i

Dalam periwayatan madzhab Syafi’I, yaitu mata rantai penyampaian ajaran Syafi’i hingga sampai ke tangan kaum muslimin sekarang ini, kita mengenal adanya dua corak/jalur periwayatan, yaitu jalur Khurosan dan jalur Irak. Hal ini berkaitan dengan perjalanan beliau dalam memperkenalkan pemikiran-pemikirannya dalam rentang waktu antara tahun 179 H. sampai tahun 204 H.untuk lebih jelasnya, mari kita lihat peta pertumbuhan dan perkembangan madzhab Syafi’I berikut ini:

– Fase persiapan membangun madzhab, yaitu semenjak meninggalnya imam Malik sampai perjalanan beliau ke Baghdad untuk kali kedua pada tahun 195 H.

– Fase madzhab qodim, yaitu dimulai semenjak kedatangan beliau ke Baghdad yang kedua (195 H.) sampai beliau pindah ke Mesir pada tahun 199 H.

– Fase penyempurnaan dan pemantapan madzhab yang baru, yaitu semenjak tinggal di Mesir sampai wafat pada tahun 204 H.

– Fase penyeleksian pendapat dan buah pemikiran imam Syafi’i, hal ini dimulai semenjak imam Syafi’I wafat sampai pada pertengahan abad ke 5 hijriyah.

– Fase stabil, yaitu setelah selesai fase penyeleksian,. Ditandai dengan bermunculannya kitab-kitab mukhtasor dalam madzhab yang berisikan pendapat-pendapat yang rojih dalam madzhab Syafi’I dan penjelasannya dengan metode sistematik.

Dari beberapa fase tadi, ada dua fase yang menjadikan pembagian jalur periwayatan madzhab Syafi’I menjadi dua, yaitu fase kedua dan ke tiga. Hal ini terjadi dikarenakan murid-murid imam Syafi’I setelah belajar dari beliau, menyebar luaskan ajarannya di beberapa daerah, dan yang paling menonjol dalam hal pencetakan kader-kader penerus madzhab Syafi’I adalah di Khurosan dan di Irak.

Sebenarnya, kedua jalur periwayatan tadi sama-sama mengikuti dasar-dasar alur pemikiran Syafi’I, hanya saja dalam beberapa hal, misalnya dalam beristimbat, dasar-dasar yang dijadikan dalil dalam menentukan sebuah hukum dan dalam pemikiran masalah-masalah fiqh keduanya mempunyai sedikit perbedaan. Dan inilah yang menjadikan jalur periwayatan madzhab Syafi’I ada dua corak, corak Khurosan Dan corak Irak.

Untuk mengenal siapa-siapa yang menjadi penopang kedua aliran dalam madzhab Syafi’I, kita akan mengutip perkataan imam Nawawi. Beliau berkata: “Saya mempelajari Fiqh madzhab Syafi’I dari beberapa ulama kenamaan, yaitu:

Imam Abu Ibrahim Ishaq bin Ahmad bin Utsman Al Maghriby, kemudian kepada Syaikh Abu Abdirrohman bin Nuh bin Muhamad bin Ibrahim Al Maqdisy,

Abu Hafsh Umar bin As’ad bin Abu Tholib Ar Ruba’I, kesemuanya berguru kepada imam Abu Amr Ibnu Sholah dan beliau berguru kepada ayahandanya, dan dari ayahnya itulah dua corak madzhab Syafi’I dipelajarinya.

Adapun untuk jalur periwayatan ulama-ulama Irak, beliau (bapak dari Ibnu Sholah) mempelajarinya dari Ibnu Sa’id Abdullah bin Muhammad bin Hibbatulloh bin Ali bin Abu ‘Asrun Al Musawy, beliau belajar kepada Abu Ali AL Fariqy, Abu Ali belajar kepada Abu Ishaq Al Syaerozy, Abu Ishaq belajar kepada Qodhy Abu Thoyyib Al Thobary (Thohir bin Abdullah), Al Thobary belajar kepada Abu Hasan Al Masarjisy (Muhammad bin Ali bin Sahal bin Muslih), Abu Hasan belajar kepada Abu Ishak Al Marwazy (Ibrahim bin Ahmad), Al Marwazy belajar kepada Ibnu Suraij (Abu Abbas Ahmad bin Umar bin Suraij), beliau belajar kepada Abu Qosim Utsman bin Basyir Al Anmathy, Abu Qosim belajar kepada imam Muzani (Abu Ibrahim Ismail bin Yahya) dan imam Muzani belajar langsung kepada imam Syafi’i.

Imam Syafi’I belajar ilmu Fiqh kepada imam Malik bin Anas, imam Sufyan bin Uyainah dan imam Abu Kholid Muslim Al Zanjy.

Dan dari ketiga ulama inilah mata rantai keilmuan imam Syafi’I sampai kepada Rosululloh SAW. Lebih jelasnya, imam Malik berguru kepada imam Rabi’ah yang mendapatkan pengetahuannya dari sahabat Anas dan imam Nafi’, murid dari Ibnu Umar. Imam Sufyan bin Uyainah belajar kepada Amr bin Dinar yang menjadi murid dari Ibnu Umar dan Ibnu Abbas. Sedangkan imam Abu Khold Al Zanjy belajar kepada Abdul Malik bin Abdul Aziz bin Juraij, beliau belajar kepada ‘Atho bin Abi Robah dari Ibnu Abbas. Ibnu Abbas belajar kepada para sahabat- sahabat besar, yaitu: Umar bin Khotob, Ali bin Abu Tholib, dan Zaid bin Tsabit.

Untuk jalur Khurosan, beliau imam Nawawy mendapatkannya dari ulama-ulama yang telah disebutkan di atas, dari mereka bersambung kepada imam Ibnu Sholah, dari Bapaknya, dari Abu Qosim bin Bazary Al Jazary, dari Elkaya Al Harosy (Abu Hasan Ali bin Muhammad bin Ali), dari imam Haramain (Abul Ma’aly Abdul Malik bin Abdullah bin Yusuf Al Juwainy), dari bapaknya (Abu Muhammad Al Juwainy), dari imam Qofal (Al Marwazy Al Shoghir), dari Abu Zaid Al Marwazy (Muhammad bin Ahmad bin Abdullah), dari Abu Ishaq Al Marwazy, dari Ibnu Suraij dan seterusnya sampai kepada Rosululloh SAW.

Dari jalur periwayatan tadi, kita temukan dua ulama yang yang mempertemukan kedua arus periwayatan madzhab imam Syafi’I, yaitu imam Abu Ishaq Al Marwazy dan imam Ibnu Sholah, hanya saja imam Marwazy menelorkan murid yang meneruskan kedua aliran tadi sedangkan imam Ibnu sholah menggabungkan keduanya hingga tidak ada lagi corak Khurosan dan corak Irak. Yang ada hanya madzhab Syafi’I tanpa embel-embel Khurosan Atau Irak.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *