FPI itu ‘anak nakalnya’ NU, tapi kenapa Muhammadiyah malah yang paling repot membela —-? nanti kalau sudah jadi anak baik, FPI juga bakal kembali ke NU.
Itulah pintarnya NU.
*^^^^*
Kritis itu baik, bahkan sangat baik. Tapi jika semua kebijakan dikritik, tak ada yang benar sama sekali, itu kritis overdosis, jadinya menjemukan.
Tentang seorang tua yang pergi ke pasar bersama anaknya berjalan bersama keledainya — di jalan seorang mengkritik alangkah bodohnya orang itu, kenapa tidak menunggangi keledainya, maka diputuskan ayahnya yang menunggang dengan pertimbangan lebih tua dan lebih patut dihormati.
Sampai di gang berikutnya, seseorang mengkritik, alangkah tak tahu dirinya seorang bapak membiarkan anaknya berjalan berkeringat, sementara ia duduk nyantai di atas punggung keledai. Lantas diputuskan ayahnya turun berjalan dan gantian anaknya yang kelelahan karena berjalan kaki menunggang keledai.
Di gang berikutnya seorang lantang bersuara, sungguh kamu anak durhaka membiarkan orangtuamu berjalan kaki sementara anaknya menunggang keledai. Maka diputuskanlah keduanya menunggang keledai bersama, tapi tetap saja tak luput dari kritik, dua anak bapak itu dikritik tak tahu belas kasih menunggang keledai bersama
Betapa susahnya menempatkan sikap kritis konstruktif dalam satu kemasan— apakah ada penguasa yang bisa menyenangkan semua. Bahkan Tuhan sekalipun tak akan bisa menyenangkan hati semua manusia.
*^^^*
Ternyata sudut pandang dan perspektif itu sangat menentukan— baik dan buruk, benar ataupun salah bergantung darimana cara memandang. Yang absolut itu hanya Al Quran, bukan tafsirmu atas Al Quran. Yang absolut benar itu hanya Rabb Yang Maha Benar bukan pemahamanmu atas-Nya.
Maka jangan memaksakan tafsirmu pada orang lain yang kamu anggap benar, padahal bukan demikian. Tafsirmu atas kebenaran absolut justru relatif, karena keterbatasan pandangan dan perspektifmu.
Maka saya tak berani menilai efektifitas vaksin sinovacs— saya tak punya kemampuan, saya bukan ahlinya, takut malah bikin resah. Jujur saya takut jarum suntik pak mantri dan saya milih khitan pada dukun ketimbang dokter.
Saya hanya menyikapinya sebagai sebuah ikhtiar, agar setiap kita punya ketahanan dari virus, hanya itu yang saya pahami. Dan saya tak peduli dengan cara kerjanya, sebagaimana tak pedulinya saya minum Bodrex untuk pening kepala, Oskadon buat sakit gigi atau puyer Bintang Tujuh buat masuk angin. Dan tak perlu membandingkan mana yang paling manjur diantara puluhan obat yang dijual mbak yu Sutiami di warung sebelah rumah itu. Dan untuk beli obat itu, saya juga tak perlu menyoal apa pilihan politiknya.
*^^^*
Tapi hasrat politik tak cukup hanya dengan penjelasan itu —-sebagaimana rumitnya menjelaskan kenapa Muhammadiyah lebih peduli membela FPI ketimbang NU ?
Kaya itu ujian, melarat juga ujian, andai diberi hak memilih, saya memilih diuji dengan kekayaan. Cantik adalah ujian, buruk rupa juga ujian, andai ada ruang untuk memilih, saya pilih diuji dengan kecantikan.
Sampai tahap ini tak ada ruang untuk memilih— Tuhanpun juga tidak memberikan pilihan kecuali overmacht atau pemaksaan untuk mengabaikan semua keinginan pada makhluk yang dibikin dengan sifat bawaan keluh kesah. Wallahu taala a’lam

No responses yet