Alhamdulillah, kita memasuki bulan Ramadhan. Bulan mulia yang diberkahi dengan berbagai keutamaan oleh Allah ta’ala. Maka, para hamba pun riang gembira dan bersyukur atas anugrah bertemu Ramadhan. Sehingga, ucapan syukur dan puja-puji kehadirat Allah ta’ala senantiasa membasahi lisan. Kemudian, sang lisan mengatakan; marhaban ya Ramadhan, Ramadhan Mubarak, Ramadhan Karim….
Tiba-tiba, jedaaaaaaarrr, bom bardir keraas pun melayang; “Jangan bilang Ramadhan Karim, karena itu Bid’ah, dan karena kata Karim hanya untuk Allah ta’ala, ini Tauhid.”
Wow, statemen yg seolah-olah Islami dan memurnikan tauhid, dan ini membuat dada yg mendengarkan pun tersentak kaget, deg-degan.
Lalu, secara Ilmu Islam, apa benar demikian?
Tidak. Orang itu keliru.
Pada dasarnya, kata ‘karim’ dalam bahasa Arab mempunyai banyak makna bagus, seperti misalnya; makna ‘yang mulia’, makna ‘yg diberkahi’, dan lainnya. Dan, kata ini tidak khusus bagi Allah ta’ala, tetapi juga bisa dinisbatkan pada Mahluk.
Perhatikan Surah Al Mu’minun ayat 116
فَتَعَالَى ٱللّه ٱلۡمَلِكُ ٱلۡحَقُّۖ لَاۤ إِلَهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ ٱلۡعَرۡشِ ٱلۡكَرِیمِ
Maka Mahatinggi Allah, Raja yang sebenarnya; tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Tuhan (yang memiliki) ‘ARSY YANG KARIM (MULIA).
Juga Surah Al Anfaal ayat 4
أُو۟لَئكَ هُمُ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ حَقࣰّاۚ لَّهُمۡ دَرَجَاتٌ عِندَ رَبِّهِمۡ وَمَغۡفِرَةࣱ وَرِزۡقࣱ كَرِیمࣱ
Mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka akan memperoleh derajat (tinggi) di sisi Tuhannya dan ampunan serta RIZKI YANG KARIM (MULIA).
Dan, Surah Asy Syu’ara ayat 57-58
فَأَخۡرَجۡنَاهُم مِّن جَنَّاتࣲ وَعُیُونࣲ وَكُنُوزࣲ وَمَقَامࣲ كَرِیمࣲ
Kemudian, Kami keluarkan mereka (Fir‘aun dan kaumnya), dari taman-taman dan mata air, dan (dari) harta kekayaan dan MAQAM (kedudukan) YANG KARIM (mulia).
Dengan demikian, kata ‘karim’ boleh ditempelkan pada Mahluk sebagai sifat, seperti; Arsy Karim, Rizq Karim, dan Maqam Karim. Begitu pula, kata ‘karim’ tentu boleh ditempelkan pada kata ‘Ramadhan’ sebagai sifatnya.

No responses yet