Setelah mbahas fiqihnya, kita mbahas tasawufnya, mbah.

Adanya tasawuf dalam puasa ini karena tujuan puasa adalah ketaqwaan yang timbul dari hati yang bersih dan mampu berakhlaq baik. Kanjeng Nabi Muhammad SAW pun dawuh

رب صائم حظه من صيامه الجوع والعطش

“Banyak orang yang berpuasa, tetapi hanya mendapatkan lapar dan dahaga.”

Banyak orang berpuasa tapi tidak punya nilai di hadapan Gusti Allah. Hal ini antara lain karena banyak rambu akhlaq di hadapan Gusti Allah yang dilanggar oleh orang yang berpuasa dan tidak menyadari hakikat puasa itu sendiri. Walaupun puasanya sah secara fiqih.

I. Adab Puasa

Inti dari bertasawuf lewat ibadah puasa adalah berakhlaq baik pada Gusti Allah, yaitu dengan cara :

1. Secara internal. Memaksa diri sendiri untuk melaksanakan syariat puasa dengan cara semurni-murninya dan seketat-ketatnya dengan niat beradab sebaik-baiknya di hadapan Gusti Allah. Sehingga semaksimal mungkin menghindari keharaman dan kemakruhan walau itu kecil, menjauhi berlebihan dalam hal mubah, melaksanakan semaksimalnya kesunnahan dan perhatian penuh pada hal yang wajib. Semua dilakukan dengan niat beradab sebaik-baiknya di hadapan Gusti Allah. Jadi puasanya KW super, secara kuantitas bagus, secara kualitas sangat ciamik.

Sayyidina Jabir bin Abdullah RA dawuh :

لا تجعل يوم صومك ويوم فطرك سواء

“Jangan jadikan hari puasa dan hari selain puasa itu sama saja perilakunya”

Maka kita perlu menggenjot amal saat puasa lebih dari hari biasanya. Mulai dari menjaga hati dan semua organ tubuh dari keburukan, memperbanyak baca Qur’an, sering berdzikir, sering sedekah, sering berdoa, sering sholat sunnah, tetep kerja dan suka berbagai kesunnahan. Pokoknya bikin bulan puasa ini bulan spesial lah.

2. Secara eksternal. Setelah kita pancang niat dan tekad puasa lahir batin untuk diri kita, kita pun gak usah usil pada amal orang lain. Kita cukup fokus pada memperketat diri sendiri dan banyak husnudzon pada orang lain, gak usah tolah-toleh menilai orang lain. Ini juga bagian dari tasawuf puasa.

Kanjeng Nabi Muhammad SAW dawuh

إن الرجل ليدرك بالحلم درجة القائم الصائم، وإنه ليكتب جبارا وما يملك إلا أهل بيته

“Ada seseorang yang sempat mendapat predikat ahli sholat dan ahli puasa, dan ternyata tercatat pula sebagai org yg suka menyakiti orang lain, maka kebaikannya terhapus seakan tidak punya apa-apa kecuali keluarganya”

Ini dianalogikan dari hadits diriwayatkan Sayyidina Abu Huroiroh bahwa Kanjeng Nabi Muhammad SAW dawuh :

 إذا كان الإمام يخطب يوم الجمعة وقلت لصاحبك أنصت فقد لغوت ، ومن لغا فلا جمعة له . أنصتوا يرحمكم الله .أنصتوا يهديكم الله

“Saat imam berkhutbah pada sholat Jumat dan kamu memperingatkan sahabatmu yang berbicara saat imam berkhutbah “Diamlah!”, maka kamu juga termasuk orang yang berbicara saat imam berkhutbah. Siapa saja yang berbicara saat imam berkhutbah maka tidak berpahala sholat jum’atnya. Diamlah agar Gusti Allah merohmatimu. Diamlah agar Gusti Allah memberimu petunjuk”

Ini adab pada Gusti Allah saat sholat Jum’at. Kalo dianalogikan seperti itu, maka saat kita berpuasa Ramadhan lalu melihat tingkah polah manusia apapun itu, kita hendaknya berkata baik atau diam tidak mengomentarinya. Kalo kita malah bereaksi berlebih, komentar nyinyir bahkan marah-marah, maka seketika itu juga pahala puasa kita terhapus. 

Maka saat kita puasa, gak usah nggosip, gak usah fitnah, gak usah marah, gak usah misuh, gak usah bohong, gak usah menyakiti orang walau dalam rangka amar ma’ruf nahi munkar. Berkata baik atau diam adalah hal terbaik agar puasa kita berkualitas dan bernilai tinggi.

II. Hakikat Puasa

Hakikat puasa secara global ada 2 :

1. Puasa itu pintunya ibadah sesuai dawuh Kanjeng Nabi Muhammad SAW

لكل شيء باب وباب العبادة الصوم

“Tiap sesuatu ada pintunya dan pintu penghambaan pada Gusti Allah adalah puasa”

Hal ini karena sejatinya puasa adalah alat peredam hawa nafsu, syahwat dan amarah. Kalo semua itu berhasil diredam, maka kita akan senang hati untuk mematuhi perintah Gusti Allah dan menjauhi larangan-Nya.

2. Puasa itu ibadah spesial yg amalnya langsung dinisbatkan untuk Gusti Allah, sehingga cuma Gusti Allah tau besaran pahalanya, sesuai hadits qudsi

كل حسنة بعشر أمثالها، إلى سبع مئة ضعف، إلا الصيام، فإنه لي وأنا أجزي به

“Tiap kebaikan itu dilipatgandakan sepuluh kali hingga 700 kali, kecuali puasa, karena amal puasa manusia itu milik-Ku dan Aku sendiri yang akan memberi pahala sekehendak-Ku”

Hal ini dikarenakan dua hal :

1. Puasa bergantung pada bagaimana dia bisa menjaga dirinya sendiri, karena puasa adalah ibadah sirri (sembunyi-sembunyi) yang tidak ada satu orang pun tahu lahirnya puasa atau tidak, kecuali Gusti Allah. Tidak seperti sholat, zakat atau haji yg tampak secara lahir.

2. Puasa adalah senjata dlm menaklukkan musuh Gusti Allah yaitu setan yg menggoda lewat jalur syahwat dan hawa nafsu yg mengalir melalui pembuluh darah kita. Dgn puasa, kita berlatih mengontrol diri kita melalui lapar dan memperbaiki amal. Sementara orang paling bahagia adalah orang yang mampu mengontrol dirinya sendiri, bukan dikuasai dirinya sendiri.

Sehingga hakikat puasa adalah perang melawan diri sendiri. Kalo kita lengah sedikit, maka khawatir bisa jadi jalan masuk setan dan hawa nafsu merusak pahala puasa kita.

Jadi untuk bisa merasakan manisnya puasa, kita jangan biarkan diri kita lengah. Mau dunia kayak apa, kita tetep selow dan tetep puasa.

Sulit? Ya iyalah. Namanya juga memaksa diri, Sarip. 

Tapi semua juga buat kebaikan diri sendiri. Maka saat puasa, mindset kita perlu disetting seperti dawuh Romo Kyai Ahmad Masduqi Mahfudz Malang, “Niat ingsun mekso awak (Aku niat memaksa diri menuju kebaikan)”.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *