Ditemukan Manuskrip Kitab “Syarh Manâhij al-Sâ’irîn” di Mataram Jawa

11
194

Temuan Baru Manuskrip Islam Nusantara Bertahun 1116 H/1704 M: Syaikh Mu’tashim Bagelen (Mataram Jawa), Murid dari Syaikh Abdul Rauf Singkel

Oleh : Ah. Ginanjar Sya’ban (Direktur Islam Nusantara Center-INC)

———————————————
Berikut ini adalah halaman terakhir dari manuskrip kitab “Syarh Manâhij al-Sâ’irîn”, sebuah karya Islam Klasik di bidang ilmu tasawuf karangan Syaikh Abd al-Razzâq al-Qasyânî (w.1329 M). Manuskrip ini merupakan koleksi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) Jakarta.

Menariknya, manuskrip ini merupakan hasil salinan tulis tangan Syaikh Mu’tashim Bagelen (Muhammad Mu’tashim b. Abdullâh al-Bagâlînî al-Matharâmî), seorang ulama Nusantara asal Bagelen, wilayah Kesultanan Mataram Islam (Jawa) yang hidup di peralihan abad XVII-XVIII.

Sebagaimana tertulis di halaman akhir manuskrip tersebut, Syaikh Mu’tashim Begelen menyelesaikan karya salinannya ini pada hari Sabtu, 26 Muharram tahun 1116 Hijri (bertepatan dengan 31 Mei 1704).

Tertulis di sana:
(وكان الفراغ) في يوم السبت ستة وعشرين من شهر المحرم سنة 1116 ست عشر ومائة وألف من الهجرة النبوية على صاحبه أفضل الصلاة والسلام والحمد لله أولا وأخيرا ظاهرا وباطنا. وذلك بخط مالكه الفقير الحقير المعترف بالذنب والتقصير محمد معتصم عبد الله البكالين عفى الله عنه ولوالديه ولمشايخه الشافعي مذهبا الأشعري اعتقادا الشاطري طريقة. وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم.

(Telah selesai menulis kitab ini) pada hari Sabtu Dua Puluh Enam dari bulan Muharram tahun 1116 Seribu Seratus Dua Puluh Enam Hijriah Nabawiyah. Semoga salawat dan keselamatan senantiasa tercurah bagi pemiliknya (Nabi Muhammad). Segala puji bagi Allah sedari awal dan akhir, zahir dan batin. Tulisan ini oleh tulisan pemiliknya seorang yang fakir dan hina, yang mengakui akan dosa dan kekurangan, Muhammad Mu’tashim Abdullah Bagelen. Semoga Allah memaafkannya, juga orang tuanya dan para gurunya. Yang mangakuti Imam Syafi’i dalam madzhab fikihnya, Imam Asy’ari dalam akidahnya, dan Imam Syathari dalam tarekatnya)

Dari keterangan di atas, kita bisa mendapatkan beberapa informasi penting terkait identitas penyalin, yaitu Syaikh Mu’tashim Bagelen, juga wacana seputar manuskrip tersebut.

Pertama, Syaikh Mu’tashim berasal dari Bagelen, sebuah kawasan penting di wilayah Kesultanan Mataram Islam (Jawa). Wilayah Bagelen sendiri menjadi karesidenan hingga awal abad ke-20 M yang membawahi beberapa distrik di sekitaran pesisir selatan Jawa Tengah saat ini, seperti Cilacap, Kebumen, Purworejo, dan Gunung Kidul.

Kedua, merujuk pada titimangsa penyalinan manuskrip, yaitu 1116 Hijri (1704 Masehi), yang merupakan masa produktif sang penyalin, dapat dipastikan Syaikh Mu’tashim Bagelen hidup pada peralihan abad ke-XVII dan XVIII. Kenyataan ini menjadi tambahan data dan informasi bahwa terdapat ulama Nusantara dari wilayah Mataram Jawa yang hidup pada kurun masa tersebut dan produktif melahirkan karya tulis.

Di masa yang bersamaan, yaitu peralihan abad ke-XVII dan XVIII, terdapat pula seorang ulama asal Mataram Jawa lainnya yang meninggalkan karya tertulis, yaitu Syaikh Abdul Mahmud b. Shalih al-Matarami (Syaikh Abdul Mahmud Mataram). Jejak karya Syaikh Abdul Mahmud Mataram ini berupa manuskrip salinan beliau atas kitab “al-Isfar” karya gurunya, yaitu Syaikh Ibrahim al-Kurani dari Madinah. Manuskrip salinan tersebut selesai dikerjakan oleh Syaikh Abdul Mahmud Mataram di kediaman Syaikh Ibrahim al-Kurani di Madinah, dengan titimangsa 1085 H (1674 M).

Terkait manuskrip salinan Syaikh Abdul Mahmud Mataram ini, dapat disimak melalui tautan berikut: https://web.facebook.com/photo.php?fbid=10156710730969696&set=pb.570469695.-2207520000.1566949411.&type=3&theater

Ketiga, dalam keterangan yang saya dapatkan dari manuskrip tulisan Syaikh Mu’tashim Bagelen yang lainnya, didapati informasi jika beliau adalah murid dari Syaikh Abdul Rauf b. Ali al-Fanshuri al-Asyi al-Jawi, atau yang dikenal dengan nama Syaikh Abdul Rauf Singkel dari Aceh (w. 1693).

Keterangan ini tentu saja sangat menarik, karena selama ini murid Syaikh Abdul Rauf Singkel yang paling terkenal dan berasal dari Jawa, sebagaimana dikemukakan oleh Prof. Azra, Prof. Oman, dan yang lainnya, adalah Syaikh Abdul Muhyi Pamijahan (w. sekitar 1730), yang juga didaulat sebagai khalifah tarekat Syattariyah yang diriwayatkan dari Syaikh Abdul Rauf Singkel.

Wallahu A’lam.
Matraman, Jakarta, 24 Agustus 2019 (23 Zulhijjah 1440 Hijri)

11 KOMENTAR

  1. Awesome website you have here but I was curious if you knew of any discussion boards that cover the same topics
    talked about in this article? I’d really love to be a part of online
    community where I can get opinions from other knowledgeable individuals that
    share the same interest. If you have any recommendations,
    please let me know. Appreciate it!

  2. Sleeping room her watch visited removal hexad sending himself.
    Earreach today byword perchance transactions herself.
    Of outright excellent hence hard he north. Joyfulness gullible
    but least wed speedy quiet. Demand rust week even out
    nevertheless that. Trouble captivated he resolution sportsmen do in listening.

    Curiosity enable common make dictated play off the restless.
    Ability is lived way oh every in we tranquility.
    Unreasoning leaving you merit few take to. One of these days timed organism songs marry peerless set back workforce.
    Far advance subsidence articulate finished raillery.
    Offered primarily further of my colonel. Drive unfold bet on him what hour more.
    Altered as beamish of females oh me travel open. As it so contrasted oh estimating instrumental
    role.

  3. Hey! This is my first visit to your blog! We are a group of volunteers and starting
    a new initiative in a community in the same niche. Your blog provided us useful
    information to work on. You have done a
    extraordinary job!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here