Syekh Qasim Al-Nuri yang merupakan generasi keempat dari murid Syekh Hasan Habannakah rahimahu Allah (Ulama khas dan kandidat Mufti Suriah, sezaman dengan Syekh Ahmad Kaftaro yang merupakan Mufti Suriah). Syekh Hasan Habannakah merupakan ulama yang berfokus pada kajian ilmiah dan keilmuan. Beliau adalah salah satu ulama yang disegani di Suriah dan memiliki manhaj serta madrasah tersendiri.
Syekh Hasan Habannakah memiliki pandangan bahwa ta’lif al-kitab sudah tidak terlalu diperlukan lagi, yang diperlukan adalah ta’lif al-rijal (mengkader orang-orang yang dapat memahami kitab dengan baik) intinya beliau menitikberatkan pada kaderisasi ulama. Beliau sendiri, hanya menulis beberapa kitab, salah satunya adalah Ta’liq (komentar, ulasan) ala nadzm Imrithi (nihayah al-tadhrib). Bagaimanapun, murid-murid beliau terbagi kedalam dua pandangan yakni, ta’lif al-kitab dan ta’lif al-rijal. Ta’lif al-Kitab sendiri diwarnai oleh murid-murid beliau yang berkecimpung dalam dunia akademisi, seperti, Dr. Muhammad Sa’id Ramadan al-Buthi, Dr. Wahbah Zuhaili, Syekh Mustofa Hin, Syekh Mustafa al-Bugha, Syekh Qasim dan lain sebagainya.
Uniknya, Syekh Qasim Nuri bukanlah murid yang berkecimpung dalam dunia akademisi (kuliah sampai doktoral) tapi yahtam bi al-ta’lif, sangat memerhatikan dan berkonsentrasi dalam dunia kepenulisan serta memiliki karya-karya monumental berbasis tahqiq. Beliau merupakan muhaqqiq yang telah mentahqiq puluhan bahkan ratusan kitab, salah satunya adalah kitab al-Bayan.
Kitab al-Bayan fi madzhab al-Imam al-Syafi’i karya Abi al-Husain Yahya bin Abi al-Khoir bin Salim al-Imrani al-Syafi’i al-Yamani atau masyhur dengan sebutan al-Imrani. Merupakan salah satu kitab penting dalam Madzhab Syafi’i. Kitab ini adalah syarah (keterangan/komentar) dari kitab al-Muhadzab karya Imam Abu Ishaq al-Syirozi.
Kitab Muhadzab sendiri adalah khulasah atau mukhtasar (ringkasan) dari kitab al-ta’liqahnya Abi Thayyib al-Thabari. Al-Ta’liqah ini adalah kitab yang berisi keterangan atau syarah yang sangat besar dari kitab Mukhtasar al-Muzani. Jadi, kitab Muhadzab adalah salah satu kitab yang paling penting.
Ketika beliau –Syekh Qasim Al-Nuri– menyelesaikan tahqiqnya terhadap kitab al-Bayan (sebanyak empat belas jilid). Syekh Hasan Hito (Ulama Fiqh dan Ushul Fiqh Suriah yang sekarang berdomisili di Indonesia, tepatnya di STAI Imam Syafi’i Cianjur, pengarang kitab Khulasha al-Ushul Fiqh) langsung sujud syukur dan menelpon Syekh Qasim, mengucapkan terimakasih kepada syekh Qasim karena belum ada kitab tahqiq semonumental karangan beliau. Beliau sangat bersyukur kitab ini bisa keluar dengan tahqiq yang benar-benar haqnya. Produktivitas ini tak terlepas dari bakti dan keistiqomahan beliau terhadap guru.
Beliau –Syekh Qasim Nuri– sangat konsisten dalam bermulazamah pada guru. Beliau tak akan membiarkan seharipun untuk absen dari majelis gurunya –Syekh Hasan Habannakah– begitupula dengan majelis adik beliau (Syekh Shadiq Habannakah). Suatu ketika, Ayah Syekh Qasim wafat di pagi hari, namun hal itu tak menghalangi beliau dalam mengaji. Terbukti, siangnya beliau langsung bermulazamah pada gurunya Syekh Hasan Habannakah, untuk menjaga keistiqomahan beliau dalam mengaji. Mulazamah inilah yang menjadi rahasia keberkahan ilmu beliau.
[2/10, 05:41] ZeEmBe: Sosok disamping Habib Umar itu adalah Syekh Muhammad Yasir al-Qadhmani, salah satu ulama yang diakui kewaliannya oleh Syeikhuna al-Allamah al Syahid Muhammad Sa’ied Ramadhan al-Buthi -rohimahullah-
Suatu ketika, saya dan guru saya, Syekh Thariq al-Maghribiyyah berziarah ke rumah beliau yang berada di kaki gunung Qasiyun, Damaskus. Selain dengan tujuan silaturrohim dan tabarukan dengan waliyullah, kami juga berniat minta pengajian khusus dengan membaca beberapa kitab Ushul Fiqh dan Tasawwuf.
Dengan diantar salah satu keponakannya, kami disambut dengan pelukan hangat di depan pintu rumah sambil tidak henti-hentinya beliau mengucapkan “ahlan wa sahlan bil ahbab”.
Kemudian kita duduk lesehan diruang tamu yang sekaligus berfungsi sebagai perpustakaan pribadi beliau. Dengan, tawadu’nya beliau menuangkan air minum yang ditetesi air mawar untuk kita.
Melihat itu, sontak kita memintanya agar kita sendiri yang menuangkan air tersebut. Tapi dengan sangat lembut beliau mengatakan “Tidak apa-apa. Biar saya saja. Kalian adalah tamu dirumah saya“.
Dengan penuh rasa malu dan sungkan, kami hanya bisa tersenyum kecut dengan jawaban beliau. Setelah itu beliau menanyakan kabar kita, pengajian kita, dan juga kuliah saya.
Tidak lama kemudian kami disuguhi teh panas dengan beberpa makanan ringan sambil bercerita tentang himmah para ulama dan karomah awliya kota Damaskus. Kemudian beliau mengambil beberapa buku karangan beliau sendiri yang tersusun rapih di rak kitab dan menghadiahkan kepada kami berdua. Setelah obrolan agak lama, saya berniat memberi kode ke Syekh Thoriq agar tidak lupa dengan tujuan utama kita. Ternyata, belum sempat saya memberi kode, tiba-tiba Syekh Yasir bercerita tentang padatnya jadwal pengajian harian beliau di beberapa masjid di Damaskus.
Mendengar itu kita terdiam dan malu. Ucapan beliau tadi seakan langsung menjadi jawaban dari permintaan yang belum sempat kita sampaikan kepada beliau.
Saya langsung teringat ucapan Syeikhuna al-Syahid al-Buthi bahwa Syekh Yasir al-Qadhmani adalah salah satu wali Damaskus.
Sebelum pulang, kami minta doa agar bisa istiqamah dalam mencari ilmu. Beliau pun menengadahkan tangan ke langit sambil berdoa:
اللهم ارزقنا الهمة والاستقامة وافتح علينا فتوح العارفين برحمتك يا أرحم الرحمين

No responses yet