Oleh: Muhammad Iqbal Muzakki

Sebagaimana lazimnya seorang penuntut ilmu, Syekh Rajab menjalani kehidupan sebagai seorang penuntut ilmu dari satu pintu rumah ke pintu lain, dari satu masjid ke masjid yang lain. Tiada hari tanpa henti selain beliau gunakan untuk mencari ilmu. Menurutnya, ilmu adalah prioritas. Oleh itu, menggapainya harus totalitas.

Meski sedari muda juga disibukkan dengan bekerja sebagai pembuat Halawiyah, tidak berarti ia mengesampingkan tujuan utama dalam hidupnya yaitu ilmu.

“Meskipun di pagi hari aku juga bekerja, aku selalu menulis catatan kecil yang aku taruh di depanku untuk aku hafalkan. Bahkan saat dijalan pun aku masih dalam keadaan menghafal.” Terangnya.

Saat ditanya oleh muridnya perihal metode belajar yang beliau lalui, beliau menceritakan bahwa metode belajar yang menurutnya efektif adalah menggunakan seluruh waktu di pagi hari–selain kegiatan lain–untuk menghafal, dan malamnya untuk mengulang kembali hafalannya.

Lalu bagaimana dengan belajarnya, kalau mayoritas waktunya digunakan untuk menghafal?

“Sebelum aku berangkat mengaji, aku membaca pelajaran sebanyak sepuluh kali. Ketika aku pulang, aku mengulang dan mengingat-ingat kembali apa yang sudah disampaikan guruku sebanyak tiga puluh kali.” Jelas Syekh Rajab.

Metode menghafal dan metode yang dikenal “tahdhir” ini menjadi metode belajar yang diyakini efektif bagi kebanyakan. Keduanya merupakan satu kesatuan untuk tercapainya tujuan melekatnya sebuah ilmu dalam diri penuntut ilmu. Semakin sering pelajaran diulang, dihafal, semakin melekat dan menempel pula ilmu kepadanya.

Keseriusan penuntut ilmu benar-benar diuji oleh seberapa besar ia berkorban untuk ilmu. Indikator keseriusan tersebut tentu melalui beberapa tahap yang secara konsisten harus diupayakan. Terus mencari dan menghafal tanpa jeda menjadi kunci keberhasilan penuntut ilmu kelak. Peluang tersebut akan lebih mudah dan terbuka lebar lagi bilamana waktunya hanya difokuskan untuk ilmu. Tidak lengah, pun tidak menghamburkan waktu serta memusatkan perhatian.

Selanjutnya, Syekh Rajab juga menjelaskan tahapan proses mencari ilmu. Hendaknya mendahulukan matan (penjelasan ringkas), kemudian dilanjutkan syarh (penjelasan lebih dalam) ditangan seorang ahli, dan juga memperhatikan ilmu bahasa Arab karena sebagai kunci pembuka ilmu-ilmu lain. Selain itu, tak kalah penting adalah menjadikan asas mencari ilmu dalam rangka mengingat Allah SWT dan menggapai ridla-Nya.

Semakin ilmu yang dimiliki seseorang bertambah, semakin bertambah pula rasa rendah hati dalam diri. Sebab orang yang benar-benar berilmu tidak akan memandang ilmu yang dimilikinya lebih berarti dibandingkan ilmu yang dimiliki Rasulullah Saw. Ia hanya memandang tetesan embun dari luasnya samudra. Dalam istilah Syekh Rajab, berbunyi:

متى افتخر العالم بعلمه فقد كرامة العلم

Ketika orang berilmu sudah membanggakan diri akan ilmu yang dimiliki, niscaya ia telah kehilangan kemuliaan sebuah ilmu.

Sumber:

[1] ‘Allamah Rabbani Dr Rajab Dieb Nibras Dakwah wa Manarah Hidayah, Syekh ziyad Muhammad Hamidan, Dar Thaibah Al-Ghara.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *