Oleh: Muhammad Iqbal Muzakki

Beliau lahir tahun 1931 di kampung Amarah, kawasan Damaskus kuno. Hingga saat ini, kawasan itu masih terdapat sejumlah situs arkeologi, yang meliputi beberapa gereja dan masjid bersejarah. Beberapa budaya meninggalkan markah mereka, khususnya Hellenistik, Romawi, Bizantium dan Islamis.

Saat beliau lahir, Perancis masih menduduki Suriah. Tak heran jika saat itu kebodohan dan kemiskinan masih melanda negeri itu. Baru di saat Perancis mengalami kekalahan pada Perang Dunia II, mau tidak mau Perancis harus meninggalkan daerah jajahannya. Secara berangsur-angsur mereka meninggalkan Suriah. Di sisi lain, berkat kegigihan para ulama seperti Syekh Muhammad Badruddin Al-Hasani, Syekh Abdul Qadir Al-Qassab, Syekh Amin Zamalkani, Syekh Muhammad Amin Kaftaru, bersama para tentara –termasuk ayah Syekh Rajab sendiri– dan masyarakat Suriah bersatu padu memukul mundur sisa-sisa pasukan Perancis serta berjuang penuh dalam melepaskan diri dari belenggu sifat penjajahan. Hingga pada akhirnya, tanggal 17 April 1946, semua pasukan Perancis berhasil hengkang dari bumi Suriah.

Di tengah situasi ekonomi keluarga yang pas-pasan dan kondisi negara yang masih dalam kekuasaan penjajah, tidak ada pilihan lain bagi seorang Rajab Dieb muda selain membantu meringankan beban orang tua. Ia memulai kariernya saat masih berumur jagung. Di sebuah perusahaan pembuat Halawiyah atau kue manis, karier itu bermula. Saat usia memasuki angka tujuh, selain merasakan pengalaman kali pertamanya sebagai karyawan, Rajab Dieb muda mengawali jenjang pendidikannya dengan mengaji ilmu tajwid kepada Syekh Abdul Hakim di masjid besar Bani Umayyah. Setelah tiga tahun berlangsung, baru ia beranjak ke jenjang ilmu hukum syariat ditahun ke sepuluhnya. Hingga usia keenam belas bergulir, hari-harinya masih sama seperti sebelumnya. Siangnya untuk bekerja dan malamnya digunakan untuk mencari ilmu.

Sejak kecil, benih kecerdasan dan semangat juangnya memang sudah mulai tampak. Terlebih dalam hal ilmu. Berbeda dengan teman sebayanya, atas Inayah Ilahiah (pertolongan) yang Allah SWT berikan kepadanya, cintanya kepada Al-Qur’an dan ilmu mengesampingkan sifat kekanak-kanakan yang ia miliki. Ia lebih memilih tidak ikut bermain bersama teman-temannya. Masjid dan majlis ta’lim justru menjadi tempat berlabuhnya. Al-Qur’an lah menjadi teman sejatinya. Bahkan ia sudah mulai menghafalnya saat masuk usia ketiga. 

Baru ketika usia memasuki angka ketiga belas, perjumpaan antara sang murid dan mursyid oleh Allah SWT ditakdirkan. Lewat peran sang mursyid, seolah Allah SWT memberikan pesan untuk mengarahkan, membimbing dan memberikan pelajaran kepada Rajab Dieb muda.

Di masjid Yalbugha, kawasan Marjeh, perjumpaan manis itu bermula. Lagi-lagi Inayah Ilahiah menjemputnya. Ia hadir ke pengajian setelah membaca pengumuman yang sebelumnya sama sekali tidak terlintas dalam benaknya.  

Usai pengajian, Rajab Dieb muda menyempatkan diri untuk bersalaman dengan calon mursyidnya itu. 

“Siapa namamu, wahai anakku?” Tanya sang mursyid. 

Sang mursyid yang dimaksud disini adalah Syekh Ahmad Kaftaru. Pendiri Mujamma’ Syekh Ahmad Kaftaru, cabang dari Universitas Bilad As-Syam, Damaskus. 

Kata mursyid yang disandang oleh kebanyakan guru thoriqoh ini mempunyai arti membimbing, membenarkan, dan menunjukkan ke jalan yang benar. Artinya, seorang guru yang mursyid harus mempunyai peran ganda. Disamping tugasnya menyampaikan ilmu yang dimiliki, ia juga harus membimbing, mengarahkan dan membenarkan jika suatu saat murid melakukan kesalahan dalam lelaku kesehariannya.

“Saya Rajab”, jawabnya singkat.

“Ma sya Allah, baba sungguh menyayangimu, apakah kamu juga menyayangiku, nak?”

“Iya, tentu.” ia kembali menjawab dengan singkat.

Rajab Dieb muda hanya mengiyakan dengan jawaban sesingkat itu. Barangkali suara hati yang tengah bergemuruh mengundang banyak pertanyaan-pertanyaan. Atau hatinya tengah berdebar melihat wibawa sang mursyidnya itu. Sehingga ia hanya mampu menjawab ringkas lantas diam sejenak. 

“Wallahi, ini merupakan ungkapan kalimat cinta pertama kali yang aku dengar dan aku tahu selama ini.” Jelasnya kemudian.

Rajab Dieb muda benar-benar dibuat luluh oleh perkataan sang mursyidnya itu. Ia tergugup sekaligus takjub. Tergugup karena baru pertama kali mendengar kalimat cinta yang keluar dari mulut seorang ulama besar yang mursyid. Takjub karena melihat sang mursyid telah memperlakukan seorang murid yang baru saja ia dikenal layaknya anak kandung sendiri. 

Diakhir percakapan, sang mursyid lantas berpesan agar selalu hadir saat pengajiannya di masjid Abu Nur. Saat itu juga Rajab Dieb muda selalu hadir dalam pengajian rutinnya bahkan sebelum sang mursyid hadir. 

Bersambung..

Referensi:

[1] Ulama Yatahaddatsun, Dr. Muhammad Badawi Wahbah, Darul Bairuti.

[2] ‘Allamah Rabbani Dr Rajab Dieb Nibras Dakwah wa Manarah Hidayah, Syekh ziyad Muhammad Hamidan, Dar Thaibah Al-Ghara.

Keterangan foto: Syekh Rajab Dieb dan sang mursyid Syekh Ahmad Kaftaru.

*Foto ini diambil dari fanpage Syekh Rajab Dieb.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *