Oleh : Dzulqornain Ibnu Ahmad Ad-Dawi
The Cradle of Civilization, adalah julukan yang melekat pada negeri ini –Syam (Syria). Peradaban dan kebudayaan silih berganti datang dan memengaruhinya menjadi sebuah harmoni yang padu. Tak heran banyak sisa-sisa peradaban yang kini tersebar di setiap sudutnya. Tak terkecuali Palmyra, daerah yang sekarang termasuk dalam daerah administrasi Regional Propinsi Emesa (Homs).
Pada masanya, kota ini adalah kota yang sangat sibuk dengan perdagangan, dan menjadi salah satu melting pot di era Romawi. Hal ini didukung karena letaknya yang berada pada jalur sutra –jalur perniagaan kuno yang menghubungkan timur dan barat. Karenanya Palmyra menjadi kota yang sangat kaya dari kota-kota Romawi yang lain.
Palmyra sendiri diambil dari kata Palm, karena banyaknya pohon Palm yang tumbuh disana. Dalam bahasa Arab kota ini disebut Tadmur, yang diserap dari bahasa Aramic dengan pengucapan serupa Tadmor. Dari 1800–312 SM tempat ini bernama Thamadora yang menjadi asal muasal kata Tadmur. Posisinya yang berada di dataran Mediterania menjadikannya penghubung antara Cappadocia, Mesopotamia dan Babilonia.
Ketika Kekaisaran Seleukia runtuh, Palmyra menjadi negara independen yang tak terikat dengan negara manapun, hal ini terjadi pada masa Tiberius (17-19 M), tetapi Palmyra mengakui otoritas Romawi dibawah dekret khusus yang terjadi pada tahun 106 M. Ini adalah masa gemilang bagi Pamyra, karena menjadi kota paling mutakhir dan indah, jalannya terbuat dari batu setapak yang diukir, ia menjadi kota penghubung antara Romawi dan Damaskus. Wilayahnya juga dikitari oleh sungai Eufrat dan Tigris yang mebuat Palmyra menjadi layaknya sebuah oase gurun pasir.
International market pada masanya ini, menawarkan berbagai komoditi berupa Sutra Cina, parfum, perhiasan, emas dan keramik. Keamanan, kententraman dan kemakmuran dirasakan oleh setiap penduduk dan pedagang yang singgah dan tinggal disini. Tetapi hal ini hanya berlangsung selama 150 tahun karena peperangan dan pemisahan diri dari Romawi.
Peluang ini dimanfaatkan oleh Odenatus (Gubernur Palmyra) untuk mengangkat dirinya sebagai Raja Palmyra, sayangnya ia terbunuh di Emesa dan mengangkat putra kecilnya Vuballathus. Akhirnya kepemimpinan Palmyra diemban oleh Zanubia, Istri Odenatus. Pada masa genting ini, Ia memanfaatkan celah yang sedang terjadi di pusat Romawi –karena adanya intrik politik. Pada tahun 269 M, ia memperluas pengaruh kekuasannya dengan menaklukan seluruh Suriah, Mesir, Turki hingga Bosphorus. Dalam waktu yang singkat, ia berhasil mendapat banyak dukungan dan menstabilkan kerajaanya, resmi pada 270 M Palmyra memisahkan diri dari Romawi. Hal ini membuat Kaisar Aurelian, mengirimkan pasukan untuk menangkap Ratu Zanubia.
Peperangan besar tak bisa dielakkan di Palmyra, yang mengakibatkan kekalahan di pihak Zanubia, ia akhirnya diasingkan menuju Roma. Meskipun demikian, para rakyatnya tetap setia dan tidak mau bekerjasama dengan Romawi. Bebearapa tahun setelahnya masih tetap terjadi perang antara Romawi dan Palmyra. Hal ini membuat Kaisar Diolectian (284-305 M) murka dan mengirimkan pasukan besar untuk membumi hanguskan Palmyra, penduduk yang tersisa akhirnya meninggalkan Palmyra dan perlahan surutlah pesona kota itu.
Ratu Zanubia dikenal dengan sosok yang cantiknya melebihi Cleopatra dan keberanian yang melebihi Semiramis (ratu Babilonia). Ia juga dikenal dengan kecerdasan dan kepemimpinannya. Ratu Zanubia adalah sebuah simbol patriotisme, keberaniaan dan kewibawaan rakyat Suriah hingga hari ini. Banyak sajak-sajak dan lagu-lagu yang mengelu-elukannya –seperti lagu Faia Younan berjudul Zanobia.
Seolah tak surut pengorbanan dan perjuangannya dalam mempertahankan tanah airnya yang menjadi gelora bagi setiap orang yang membaca kisahnya atau sekedar mendengar tuturan tentangnya lewat mulut ke mulut. Ilsutrasinya juga diabadikan dalam pecahan uang kertas 500 Lira Suriah lama. Hal ini seolah mengingatkan rakyat Suriah untuk menjadikannya panutan, tak peduli tanah airmu dicabik kau akan selalu mempertahankannya hingga tetes darah terakhir. Semoga dari Zanubia kita belajar arti patriotisme dan keberanian sejati.
Tabik!
Refrensi:
– Phillip K. Hitti, History of Syria
– Bozena Trabulsje, Pearls of The Middle East

No responses yet