Jaringansantri.com – Dalam kitab “Al-Muallifatu min an-Nisaa wa al-Muallafatuhunna fi al-Tarikh al-Islami” disebutkan, bahwa dalam sejarah Islam, tercatat perempuan Islam yang menjadi pengarang kitab berbahasa Arab berjumlah 32 orang. Jumlah itu belum dihitung dengan perempuan yang mengarang syair dan penerjemahan. Menurut kitab ini, Jika dikalkulasikan jumlahnya mencapai lebih dari 70 orang. Seluruhnya menulis dengan genre ilmu yang berbeda.
Adalah kitab “Arba‘un Haditsan min Arba‘in Kitaban ‘an Arba‘in Shaikhan” yang kiranya relevan dengan pembahasan paragraf pembuka ini. Sebab tatkala membincangkan potensi intelektualitas perempuan dalam lintasan sejarah Islam, dalam kitab itu juga terdapat keunikan pembahasan. Melalui kitab yang membahas empat puluh hadis yang dikumpulkan oleh Syaikh Yasin al-Fadani ini, kita akan menemukan sosok perempuan yang menjadi mata rantai periwayatan hadis
Syaikh Yasin al-Fadani juga sering dieknal sebagai sang “Musnid ad-Dunya” (gudangnya sanad ilmu), sebab menjadi sentral dari penghubung banyak ulama abad 19 dan 20. Sosok bernama lengkap Al-Din Abu Fayd Muhammad Yasin bin Muhammad Isa bin Udik Al-Fadani Al-Makki Al-Syafi’i ini, memiliki dua kitab yang me-maktub-an nama periwayat hadis perempuan dalam periwayatan dan sanadnya. Keduanya adalah Kitab Arba’un Hadisan dengan dua belas perawi perempuan, dan Al-Arba’un al-Buldaniyyah dengan enam perawi perempuan. Adapun salah satu sanad yang dimasukkan oleh Syaikh Yasin al-Fadani adalah sanad dari Syaikhah Fatimah bin Abdusshomad al-Falembani, anak dari seorang Ulama Nusantara yang masyhur.
Dalam transmisi periwayatan hadis, sosok perempuan di dalamnya bukanlah hal baru. Sejak zaman Nabi Muhammad, para sahabat banyak mendapatkan hadis melalui jalur Sayyidatuna Aisyah. Kemudian berlanjut kepada periwayat setelahnya. Jika dilacak secara terperinci, dalam kitab Shahih Bukhari saja, kita akan mendapati sekitar 27 sahabat, dan 13 tabi’in perempuan yang menjadi transmitter hadis. Tentu akan ditemukan fakta lebih jika ditelusuri juga seluruhnya dalam kutub as-sittah (enam kitab rujukan hadis).
Jumlah periwayat hadis perempuan memang bisa dikatakan tidak begitu terkenal. Sebab proses periwayatan hadis oleh perempuan diakui mengalami pengurangan, khususnya pada masa Tabi’in (masa setelah para sahabat). Para tokoh periwayat perempuan zaman itu mendapatkan hadis melalui para guru dan orang tuanya. Sayangnya, jumlahnya harus berkurang mengingat keadaan zaman yang terus berubah. Pada masa tabi’in dan setelahnya, kuat dugaan, dikarenakan maraknya era perebutan kekuasaan. Para perempuan dianggap terlalu berbahaya untuk melakukan rihlah ilmiyyah atau penelusuran mendapatkan ilmu ke berbagai wilayah.
Terhadap statmen ini, Oga Satria, dosen IAIN Kerinci dan anggota aktif kajian Islam Nusantara Center, yang tesisnya meneliti tentang perawi perempuan dalam kitab Arba’un Hadisan pun mengamini. Dalam webinar Islam, Sejarah, dan Asas Moderatisme seri-3 yang diselenggarakan oleh Ma’had Aly Sa’idusshiddiqiyah Jakarta, Oga juga menjelaskan faktor-faktor patriarkis menguat di zaman setelah tabi’in, sehingga mempengaruhi pola periwayatan hadis perempuan. Faktor itu disebabkan karena interpretasi orang-orang terhadap perempuan yang dianggap tidak begitu meyakinkan lantaran tidak memiliki ruang gerak yang luas. Meskipun demikian, potensi periwayatan itu kembali pasca abad Sebelas Masehi. Mungkin disebabkan mulai gencarnya kembali ruang intelektualitas pada zaman Dinasti Abbasyiah dan peninggalannya.
Fakta ini dibuktikan dengan sanad yang diterima Syaikh Yasin al-Fadani. Dalam Kitab Al-Arba’un al-Buldaniyyah-nya, Syekh Yasin menerima hadis yang dikumpulkannya melalui enam perawi perempuan. Beberapa nama perawi perempuan disebutkan yaitu, Fakhru al-Nisa Shuhdah al-Katibah binti Abi Nasr Ahmad al-Ibri (w.1178), Zainab binti Makki al-Harani (w. 1289 M), Fatimah binti Muhammad bin Ali bin Ahmad bin Abdu al-Wahid al-Sa’di (w. 1366). Serta tiga perawi lainnya yang masih dalam proses penelitian penentuan tahunnya. Jika diamati, seluruhnya berada pada kisaran abad 12 Masehi.
Begitu pula jika kita melacak para perawi perempuan yang terdapat dalam kitab Syekh Yasin al-Fadani lainnya. Dari dua belas periwayat perempuan, seluruhnya berada dalam rentang waktu kisaran yang sama. Beberapa nama yang muncul dalam kitab tersebut yaitu; Al-Musnidah Ibnah Abi bakar bin Ayyub (w. 1294), Ummu Hani binti Ahmad bin Abdullah al-Fariqaniyyah (w. 1210), Ummu al-Diya binti Abdu al- Razzaq (w. 1129), Fatimah binti Abdullah bin Ahmad al-Jauzadjaniyyah (w. 1130), Juwairiyyah binti Ahmad al-Hakkari (w. 1382), dan Zainab binti Ahmad bin al-Kamal Abdu al-Rahim (w. 1340).
Hal ini menyimpulkan bahwa proses pengajaran dan periwayatan Hadis sebenarnya tidak pernah putus sejak masa Nabi sampai periode selanjutnya. Hanya saja, ruang gerak perempuan yang terkadang mengalami penyempitan oleh banyak faktor semisal perang, perebutan kekuasaan, dan stigmatif, membuat kontribusinya juga menyempit. Nama-nama perawi perempuan yang muncul di atas menjadi posisi tawar bagi kajian lanjutan terkait perempuan dan feminisme yang mendalam. Dengan tentu saja melibatkan unsur-unsur tambahan seperti unsur sosiologis, antropologis, dan gegografis dimana tokoh tersebut muncul. Agar pemaknaan kita akan perempuan Ulama dan Syaikhah dalam periwayatan memiliki kekuatan basis pendalaman penelitian yang menarik.

No responses yet